Kesejahteraan Perempuan pada Masa Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Khalifah Umar ra. paham bahwa perempuan tidak wajib menafkahi keluarga, termasuk dirinya sendiri.


Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA – Hidup sejahtera, terpenuhi seluruh kebutuhan, merupakan dambaan setiap orang. Begitu pun perempuan, kesejahteraan adalah yang mereka rindukan. Namun, hari ini, kesejahteraan seolah berada di puncak nun jauh di sana. Setiap orang harus berjuang sendiri, banting tulang agar dapat meraihnya. Tidak terkecuali kaum hawa, mereka pun harus berjibaku dan “berdaya” secara ekonomi agar sampai pada level perempuan sejahtera.

Berbeda situasinya ketika Islam diterapkan dalam institusi negara. Yang bertanggung jawab mengurusi urusan rakyat, termasuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka, hingga mencapai derajat sejahtera adalah Negara Khilafah.

Para khalifah mengamalkan hadis Nabi saw., “Imam (kepala negara) itu laksana penggembala dan dia bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Bukhari)

Khilafah Menjamin Nafkah Perempuan

Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menulis surat kepada Abu Musa al Asy’ari, “Amma ba’du, sesungguhnya para pengurus (urusan umat) yang paling bahagia di sisi Allah adalah orang yang membahagiakan rakyat (yang diurus)-nya. Sebaliknya, para pengurus yang paling sengsara adalah orang yang paling menyusahkan rakyat (yang diurus)-nya. Berhati-hatilah kamu agar tidak menyimpang, sehingga para penguasa di bawahmu juga akan menyimpang….” (Abu Yusuf, al-Kharaj).

Umar bin Khaththab ra. adalah Khalifah yang senantiasa turun lapang. Beliau melihat secara langsung bagaimana kondisi rakyatnya, apakah mereka hidup layak atau tidak. Beliau memastikan kebutuhan hidup rakyat orang per orang, laki-laki dan perempuan, telah terpenuhi secara layak.

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khaththab ra. sedang berjalan di pinggiran kota Madinah dan mendapati anak-anak yang menangis kelaparan menunggu masakan yang belum matang. Ternyata Ibunya yang janda sedang menanak batu. Umar pun bersegera ke baitulmal untuk mengambil sekarung gandum dan memikulnya sendiri ke rumah keluarga tersebut.

Tidak hanya mengantarkan gandum, tetapi Khalifah Umar bin Khaththab ra. juga memasakkan keluarga tersebut dan menyediakan makanan untuk mereka. Dan keluarga itu pun bisa tidur lelap karena sudah kenyang.

Ini adalah wujud tanggung jawab kepala negara terhadap rakyatnya. Sebagai pemimpin, Umar ra. takut kepada Allah jika dirinya lalai dan ada rakyatnya yang menderita kelaparan.

Khalifah Umar bin Khaththab ra. tidak mengeluarkan kebijakan dengan memberi pinjaman kepada janda tersebut atau memberikan lapangan pekerjaan kepadanya sehingga kemudian dengan usahanya dia bisa membeli bahan makanan untuk keluarganya. Karena Khalifah Umar ra. sangat paham bahwa dalam Islam, perempuan tidak ada kewajiban untuk menafkahi keluarga, termasuk dirinya sendiri. Nafkah perempuan ditanggung walinya jika walinya ada dan mampu.

Dalam Islam, negara pun akan memastikan para wali yang mampu menjalankan kewajibannya dalam menafkahi kaum perempuan. Namun, jika walinya tidak ada atau tidak memiliki kemampuan, perempuan akan mendapatkan nafkah dari negara.

Khalifah Umar ra. Membatalkan Kebijakan Pembatasan Mahar

Suatu hari Khalifah Umar bin Khaththab ra. mendapat laporan bahwa kaum perempuan menetapkan mahar yang terlalu mahal dan menentukan batas-batasnya. Menimbang hal itu akan berdampak buruk terhadap masyarakat, Sang Khalifah kemudian bermaksud menghentikan perilaku tersebut.

Amirulmukminin naik ke atas mimbar dan berpidato di hadapan rakyatnya, Wahai orang-orang, jangan kalian banyak-banyak dalam memberikan mahar kepada istri. Karena mahar Rasulullah saw. dan para sahabatnya sebesar 400 dirham atau di bawah itu. Seandainya memperbanyak mahar bernilai takwa di sisi Allah dan mulia, jangan melampaui mereka. Aku tak pernah melihat ada lelaki yang menyerahkan mahar melebihi 400 dirham.”

Usai berpidato, seketika, seorang wanita berdiri dan memprotes Khalifah Umar, “Wahai Amirulmukminin, tidakkah engkau mengetahui firman Allah Ta’ala, ‘Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?’ (TQS An-Nisa: 20),” ucap seorang perempuan Quraisy dengan percaya diri.

Khalifah Umar bin Khaththab ra. pun berujar, “Perempuan itu benar dan Umar salah. Ya Allah, ampunilah aku. Setiap orang lebih pintar dari Umar.” 

Mahar merupakan hak perempuan yang telah ditetapkan berdasarkan nas syariat. Islam telah menjadikan mahar sebagai harta kepemilikan perempuan yang diperolehnya tanpa kompensasi harta dan tenaga. Allah Swt. berfirman, “Berikanlah mahar kepada perempuan yang kalian nikahi sebagai suatu pemberian yang penuh kerelaan.(TQS An Nisa: 4)

Umar bin Khaththab ra. sebagai khalifah tidak malu mengakui kebenaran yang disampaikan perempuan tersebut dan bersegera mengubah kebijakannya. Karena berdasarkan nas Al-Qur’an, bisa saja seorang perempuan memiliki harta yang banyak dari maharnya. [MNews/Rgl]

*) Disarikan dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *