Nafsiyah

[Nafsiyah] Berislam tapi Menolak Menjalankan Syariat Islam Adalah Jalan Menuju Kebinasaan

Hendaklah kita berhati-hati dari segala rayuan yang memalingkan dari apa yang Allah turunkan.


Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Baru-baru ini, seorang buzzer membuat publik terkejut dengan pernyataannya bahwa meski dia memeluk Islam, tetapi ia tidak percaya dan menolak jalankan syariat Islam di Indonesia. Pernyataan tersebut paradoks dengan pengakuan keislamannya, tetapi kenyataannya memang ada orang yang demikian.

Dilihat secara normatif, pernyataan tersebut sangat berbahaya. Kita bisa menelaah beberapa nas Al-Qur’an, di antaranya QS An-Nisa’ [4]: 65 dan QS al-Jatsiyah [45]: 18—19. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dan sangat relevan dengan kondisi hari ini.

Pada QS An-Nisa’ [4] ayat 65, terdapat beberapa pelajaran penting di antaranya:

Pertama, ungkapan “laa yu’minuuna” menunjukkan qarinah (indikasi) yang tegas akan kewajiban menjadikan Rasulullah sebagai hakim (pemutus perkara); Kedua, haram menjadikan hakim selain dari Rasulullah; Ketiga, sepeninggal Rasulullah, hakimnya adalah apa yang dibawa beliau yakni Al-Qur’an dan Sunah; dan keempat, wajib menerima segala keputusan hakim tanpa ada keberatan dalam hati dan dengan penerimaan total.

Artinya, tidak memberikan toleransi penerimaan hakim lain selain Rasulullah. Tidak boleh ada konstitusi lain selain yang bersumber dari Kitab Suci. Ringkasnya, tidak boleh mengatakan, “Saya tidak percaya dan menolak syariat Islam harus dijalankan di Indonesia.” Sungguh pernyataan yang sangat lancang.

Baca juga:  Islam Tidak Fleksibel atau Lunak, Tidak Pula Berevolusi atau Berubah

Selanjutnya kita bisa telaah firman Allah taala:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (18) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (19)

“Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. Karena itu ikutilah syariat itu dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Jatsiyah [45]: 18—19).

Berdasarkan ayat ini, Allah taala memerintah kita agar senantiasa menjalankan semua syariat yang sudah Allah tetapkan. Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya (7/267),

اتبع ما أوحي إليك من ربك لا إله إلا هو، وأعرض عن المشركين

“Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Kemudian beliau melanjutkan,

ولايتهم لبعضهم بعضا، فإنهم لا يزيدونهم إلا خسارا ودمارا وهلاكا

“Tiada bermanfaat bagi mereka pertolongan sebagian mereka kepada sebagian yang lain; karena sesungguhnya tiada yang mereka peroleh selain dari kerugian, kehancuran, dan kebinasaan.”

Baca juga:  Dana Umat YES, Syariat Islam NO? Islam Bukan Ideologi Prasmanan!

Oleh karenanya, hendaklah kita berhati-hati dari segala rayuan yang memalingkan dari apa yang Allah turunkan. Nilai apa pun yang posisinya menggantikan syariat Islam, hakikatnya adalah “jalan” baru selain syariat Allah. Kata Imam Ibnu Katsir, ia adalah jalan menuju kerugian, kehancuran, dan kebinasaan. [MNews/Gz]

Sumber: https://t.me/yuanaryantresna/631

2 komentar pada “[Nafsiyah] Berislam tapi Menolak Menjalankan Syariat Islam Adalah Jalan Menuju Kebinasaan

  • Masya Allah.. Semoga Allah teguhkan hati kita hny pd Islam.. Amiin

    Balas
  • Enung Nurhayati

    Astaghfirulloh..lahaula wala quwwata Illa billah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *