[Resensi Buku] Sejarah dan Keutamaan Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds

Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Membongkar Tipu Daya Global Yahudi atas Pendudukan Tanah Palestina

MuslimahNews.com, RESENSI BUKU — Adalah ironi abadi tatkala menyaksikan dunia membiarkan pendudukan tanah Palestina oleh Yahudi Israel. Yahudi selama ini mengaku bahwa Allah Swt. menjanjikan tanah Palestina menjadi milik mereka (Yahudi), dan mereka telah melegitimasinya dengan menyebutkan sejumlah teks dari Kitab Taurat yang konon menyebutkan janji itu.

Bahkan, kaum Yahudi menjadikan janji itu sebagai landasan untuk menegakkan negara palsu mereka, “Israel”. Tak pelak, klaim atas janji itu pun membuat Yahudi melegalisasi penjajahan terhadap Palestina. Yahudi tak segan mengusir dan membantai warga muslim Palestina hingga sengaja memalsukan sejarah demi menjaga klaim yang sejatinya penuh tipu daya.

Tanpa sadar, banyak manusia telah tertipu. Dunia Islam tertipu, begitu juga dunia internasional. Mereka berhasil terbelokkan opini dusta, sehingga memunculkan klausa baru, “Mengapa warga Palestina tak pindah saja dari tanah Palestina itu? Toh masih banyak lahan luas di muka bumi ini yang bisa ditempati.” Benarkah ini ide segar yang menyolusi?

Tanah yang Diberkahi

Keberadaan tanah Palestina tak bisa lepas dari dustur Ilahi, firman Allah Swt. berikut ini, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Al Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Israa [17] : 1).

Ayat ini spesifik menyebut Masjidilaqsa (Masjid Al-Aqsha) beserta daerah sekelilingnya yang diberkahi Allah. Ini tak lain adalah tanah Palestina itu sendiri. Sangat lebih dari cukup alasan bagi warga muslim Palestina untuk bertahan, karena Allah sendirilah yang secara langsung menegaskan keberkahan tanah ini.

Ditambah lagi adanya jihad yang telah membebaskan tanah Palestina pada masa Khilafah Islamiah. Jihad menjadikan tanah Palestina berstatus tanah kharajiyah, yakni tanah milik kaum muslimin hingga hari kiamat. Tak heran jika kaum muslimin Palestina hingga detik ini selalu berusaha mempertahankan tanahnya. Mereka melakukan aktivitas ribath, yaitu tinggal berjaga-jaga di tapal batas untuk menguatkan agama dan melindungi kaum muslimin dari kejahatan orang-orang kafir.

Baca juga:  Tentara Israel Bunuh Bocah Palestina Saat Aksi Protes di Perbatasan

Palestina dan Baitulmaqdis adalah Tanah Arab, Bukan Yahudi

Penduduk asli tanah Palestina adalah Arab, tidak ada sedikit pun jejak genetik dan arkeologis Yahudi sebagai penduduk asli di sana. Hal ini bahkan terbukti oleh para pakar dan ilmuwan Yahudi sendiri.

Orang-orang Yahudi tidak mendirikan Palestina dan tidak pula membangunnya. Mereka hanya datang dan sempat ikut tinggal di sana. Setiap kota di Palestina justru merupakan kota lama yang Bangsa Kan’an bangun sejak 10.000 SM hingga 5.500 SM, bangsa yang bersandarkan pada Kan’an bin Sam bin Nuh as.

Jadi, pada dasarnya, tanah Palestina bukanlah tanah kosong, melainkan sudah ada penduduknya. Palestina bukanlah tanah yang tiba-tiba ada penduduknya setelah Yahudi datangi.

Di samping itu, mayoritas orang Yahudi hari ini berasal dari Yahudi Khazar yang ada di timur Eropa. Sebanyak 90% Yahudi yang ada saat ini juga bukan merupakan keturunan Bani Israil (keturunan Nabi Ya’kub as). Mereka adalah campuran dari berbagai ras dan tidak bisa membuktikan nasab mereka pada Bani Israil lama.

Hal ini ditunjang beragam faktor, di antaranya penjajahan dan penyerangan berbagai bangsa terhadap tanah Palestina, sehingga meniscayakan adanya peleburan ras. Upaya penguasaan terhadap Palestina oleh berbagai bangsa terus terjadi sejak dahulu kala karena tanah ini begitu kaya dengan sumber daya alam.

Orang-orang bani Israil dan Ibrani dahulunya merupakan kabilah-kabilah nomaden yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka tidak pernah memiliki tempat pasti, tidak memiliki suatu negara, dan selalu terusir akibat perilaku buruk dan kejahatan-kejahatan mereka. Oleh karenanya, sungguh, pemalsuan fakta dan sejarah oleh Yahudi terhadap tanah Palestina selama ini adalah pengkhianatan besar terhadap dunia.

Perjanjian Balfour, Politik Licik Pembela Yahudi

Jelas sekali, runtuhnya Khilafah Islamiah di Turki pada 1924 adalah malapetaka besar bagi dunia Islam. Kemudian momen tersebut dianggap kesempatan emas oleh Yahudi. Dukungan modal dan investasi Gerakan Zionis Yahudi di Eropa mendapat ruang dari Inggris untuk melakukan berbagai tipu daya agar mereka dapat menguasai Palestina, ketika pada saat yang sama Khilafah kian melemah.

Baca juga:  Memimpikan Perdamaian Palestina

Adalah Theodore Hertzl, pendiri Zionisme modern, yang dalam Kongres Zionis I di Basel pada 1897 mencanangkan berdirinya “negara Yahudi” 50 tahun kemudian. Rancangan itu terwujud dengan berdirinya “Israel” pada 14 Mei 1948. Tak ayal, bangsa kecil yang telah mengalami pengusiran selama 2.000 tahun ini berhasil bertahan, bahkan kemudian menjadi salah satu kekuatan dunia (world power).

Penting untuk kita ketahui, Yahudi selamat lebih karena menggunakan “otak” (licik) dan bukan hanya kekuatan fisik. Mereka sedikit “lebih pintar” melobi negara-negara besar agar mendukungnya demi tetap bertahan di muka bumi.

Pantaslah Sultan Abdul Hamid II, Khalifah kaum muslimin yang saat itu berkedudukan di Turki, sedemikian keras berjuang mempertahankan Palestina dari perampasan Yahudi. Sultan Abdul Hamid II mengingatkan akan bahaya yang sangat besar dengan membuka tanah Palestina untuk Yahudi. Pada 1882, pemerintah Khilafah mengeluarkan dekret yang melarang berdirinya pemukiman permanen Yahudi di Palestina, sekaligus menolak izin perpindahan bangsa Yahudi ke Palestina.

Namun, berbagai upaya pun Hertzl lakukan. Ia tak henti membujuk Sultan Abdul Hamid II agar mau mengizinkan kedatangan imigran Yahudi ke Palestina. Tahun 1902, delegasi Hertzl kembali mendatangi Sultan Abdul Hamid II. Mereka menyodorkan sejumlah tawaran, tetapi Sultan Abdul Hamid II menolak semua itu.

Sultan pun berkata kepada Hertzl, “Sesungguhnya, saya tidak sanggup melepaskan kendati hanya satu jengkal tanah Palestina. Sebab tanah ini bukan milik pribadiku, melainkan milik kaum muslim. Mereka telah berjuang untuk memperolehnya dengan darah mereka. Silakan Yahudi menyimpan kekayaan mereka yang miliaran itu. Jika pemerintahanku ini tercabik-cabik, saat itu baru mereka dapat menduduki Palestina dengan gratis. Adapun, jika saya masih hidup, meskipun tubuhku terpotong-potong, maka itu adalah lebih ringan daripada Palestina terlepas dari pemerintahanku.”

Baca juga:  [News] Setelah Hancurkan Puluhan Rumah Palestina, Pasukan Israel Lindungi Pemukim Yahudi Serbu Al-Aqsha

Namun, upaya licik Yahudi yang dibantu Inggris tak berhenti begitu saja. Perjanjian Balfour pada 1917 adalah perjanjian politik antara Inggris dan Yahudi untuk mendirikan sebuah tanah air bagi mereka di Palestina. Sesungguhnya ini adalah perjanjian dari pihak yang tidak berwenang kepada pihak yang tidak berhak. Sejarah mencatat, dunia merespons dengan penolakan terhadap perjanjian ini karena mereka tahu bahwa Palestina memang bukan milik Yahudi.

Benar saja, ketika Khilafah runtuh pada 1924 di tangan agen Inggris keturunan Yahudi (Mustafa Kemal), Yahudi segera menggerogoti Palestina hingga detik ini. Bahkan, Israel yang mengklaim sebagai negara Zionis Yahudi itu adalah penjaga bagi kepentingan kampiun kapitalisme Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Khatimah

Ironis ketika saat ini negeri-negeri muslim hanya sibuk mengecam dan mengutuk aksi brutal Israel kepada warga Palestina tanpa sedikit pun ada kemauan menurunkan aksi secara militer. Mereka bahkan turut begitu keji menggiring opini agar warga muslim Palestina pindah saja dari tanah Palestina ke wilayah lain tanpa memandang aspek syar’i sama sekali. Padahal, semestinya negeri-negeri muslim itu mampu mengupayakan pengiriman militer mereka.

Pembebasan Palestina membutuhkan kesatuan kekuatan politik dan militer seluruh negeri Islam. Bertolak dari kisah pembebasan Palestina pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. serta Shalahuddin al-Ayyubi, hingga pembelaan oleh Sultan Abdul Hamid II, keberadaan Khilafah menjadi perisai nyata bagi Palestina.

Khilafah mampu menciutkan nyali kaum kafir, tak terkecuali zionis Yahudi di era yang lebih modern. Dengan demikian, jelas sekali pembebasan Palestina saat ini juga membutuhkan Khilafah, bukan yang lain alih-alih solusi dua negara. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

One thought on “[Resensi Buku] Sejarah dan Keutamaan Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds

  • 30 Oktober 2021 pada 09:56
    Permalink

    Konflik yahudi tdk akan pernah selesai jika khilafah blm tegak sbg intitusi

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.