[Tapak Tilas] Islam di Andalusia, Antara Kejayaan dan Air Mata

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Membincang Andalusia seakan mengingat masa-masa penuh kejayaan sekaligus kepedihan yang tiada tara. Di sana, pernah tertoreh tinta sejarah peradaban emas Islam, sekaligus catatan kelam sejarah umat yang tak mungkin terlupakan.

Sekira abad ke-8 M, di bawah kepemimpinan Dinasti Umayyah, Andalusia, pernah menjadi salah satu pusat kejayaan Islam. Di sana hampir semua aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, arsitektur, dan ilmu pengetahuan lainya mengalami kemajuan pesat.

Bidang ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan mengalami perkembangan luar biasa hingga taraf yang menakjubkan. Banyak ilmuwan muslim dan karya agung mereka yang dinisbahkan pada Andalusia.

Sebutlah nama Ibnu Haitham atau Alhazen dan Ibnu Bajjah atau Avempace yang ahli astronomi. Lalu pakar biologi Abu al-Abbas al-Nabati, Abu al-Qasim Khalaf ibn al-‘Abbas al-Zahrawi al-Ansari alias Abulcasis, ahli kedokteran yang menulis metode dan tahap-tahap bedah melalui buku kitab Al-Tasrif, dan lain-lain.

Para ilmuwan muslim saat itu terdorong untuk saling berlomba, berkhidmat, menggali, dan mengembangkan berbagai ilmu dan karya semata karena dorongan iman. Mereka benar-benar mendedikasikan hidup dan ilmunya demi maslahat umat dan kemuliaan Islam.

Bekas-bekas kejayaan Islam di sana masih bisa kita lihat hingga sekarang. Ada Universitas Cordova. Juga katedral Mozqueta di Cordova yang dulunya merupakan masjid termegah dan terbesar di zamannya. Di Granada ada istana Alhambra yang arsitekturnya luar biasa.

Dark Age Eropa

Sejak berada di bawah naungan Khilafah, Andalusia seakan menjadi tanah subur kebaikan hingga delapan abad lamanya. Cahaya kebaikannya memancar kuat, seakan menjadi mercusuar bagi dunia yang kala itu berada di masa gelap (dark age).

Ya, gelapnya peradaban bangsa Eropa tampak dari berbagai konflik dan kebodohan yang mendominasi kehidupan mereka. Bayangkan saja, saat Andalusia dan dunia Islam sedang memegang bandul sejarah peradaban, Eropa justru sedang meributkan apakah bumi bulat atau datar?

Kondisi ini dikukuhkan dan dilegitimasi oleh dogma agama dan kaum gereja yang berkolaborasi dengan penguasa. Dua kelompok inilah yang justru jadi sumber problem utama penderitaan rakyat jelata dan kemunduran peradaban bangsa Eropa.

Sebelum tersentuh dakwah Islam, kondisi Andalusia sebetulnya tak jauh beda dengan Eropa lainnya. Sepanjang ratusan tahun, kawasan yang kini merujuk pada negara Spanyol dan Portugis, ini dikuasai imperium Romawi.

Di bawah imperium Nasrani ini, mereka memang sempat mengalami kemajuan hidup di aspek material. Seni dan budaya berkembang mewarnai kehidupan mereka.

Baca juga:  Ramadan di Spanyol, Bumi Andalusia

Namun masa itu berubah total saat bangsa Goth berhasil mengusir bangsa Romawi dari Andalusia. Mereka mendirikan kerajan Visigoth yang memerintah Andalusia dengan tangan besi.

Masa Futuhat Islam

Pada situasi inilah penaklukan Andalusia terjadi. Atas perintah Musa ibn Nushair, Gubernur Khilafah Islam di wilayah Afrika Utara, Thariq Bin Ziyad dan ribuan pasukannya membuka wilayah di Semenanjung Iberia ini.

Untuk sampai ke Andalusia, ia dan pasukannya menyebrang sebuah selat kecil yang membelah Samudera Atlantik dan Laut Mediterrania, serta memisahkan Spanyol di Eropa dari Maroko di Afrika. Kelak selat ini dinisbatkan kepada namanya, Giblaltar atau Jabal thariq.

Peristiwa penaklukan ini terjadi pada 711 M. Thariq Bin Ziyad membuka satu demi satu kota-kota penting di tanah Andalusia bersama ribuan pasukannya. Uniknya, pasukan Muslim mendapat bantuan dari penduduk Andalusia yang lama menderita karena kelaliman pemerintahannya.

Setelah penaklukan ini, kawasan Andalusia langsung digabungkan dalam wilayah gubernur Musa Bin Nushair di Afrika Utara. Baru pada tahun 756 M, Andalusia menjadi pusat kekuasaan Dinasti Umayyah yang terpisah dari kekuasaan Dinasti Abbasiyyah yang berpusat di Damaskus dan kemudian dipindahkan ke kota Baghdad.

Di masa-masa itu umat Islam memang sedang berada dalam fitnah kepemimpinan. Pada 750 M Dinasti Umayyah yang berkuasa sejak 661 M digantikan oleh Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini dinisbatkan kepada anak keturunan paman Nabi Muhammad, Abbas bin Abdul-Muttalib ra.

Konon pemerintahan baru ini mengeluarkan kebijakan untuk membersihkan kekuasaannya dari keturunan Bani Umayyah. Karenanya, keturunan Bani Umayyah banyak yang melarikan diri ke luar wilayah kekuasaan Bani Abbasiyah.

Salah satu tujuan pelarian mereka adalah ke Andalusia. Ini mengingat pemerintahan wilayah di Afrika Utara yang membawahi Andalusia dikenal sebagai loyalis Bani Umayyah. Selain itu, karena para penakluk Andalusia mayoritas berasal dari Bani Umayyah.

Kekuasaan Politik Baru

Di antara mereka yang lari ke Andalusia adalah pemuda berusia 19 tahun bernama Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik. Kelak ia dikenal sebagai Abdurrahman Ad-Dakhil, bergelar Rajawali dari Quraisy.

Ia memasuki Andalusia bersama ratusan budak yang dibawanya. Mereka dengan susah payah berhasil menaklukkan Cordova, hingga pada 756 M berhasil mendirikan kekuasaan politik berupa keamiran (setingkat provinsi) di sana.

Hanya saja, peristiwa ini tak disukai oleh Khalifah yang memerintah di Baghdad. Dari sana Al-Manshur, sang Khalifah beberapa kali mengirimkan tentara untuk merebut Andalusia dari Bani Umayyah, namun upayanya gagal total.

Baca juga:  Aisyah al-Qurthubiyah, Ulama Perempuan "Kutu Buku"

Tantangan bagi keamiran Andalusia juga datang dari pihak Kekaisaran Romawi yang bertahta di Perancis. Kaisar Charlemagne juga diketahui beberapa kali  berusaha menyerang Cordoba. Namun ia dan tentaranya mampu dipukul balik pasukan umat Islam.

Masjid Cordoba yang dijadikan katedral

Atas banyaknya tantangan inilah, dengan kecakapan memimpinnya yang luar biasa, Abdurrahman Ad-Dakhil menggalang pasukan, terutama armada laut hingga menjadi kekuatan yang besar. Lalu lambat laun, kekuasaan politiknya berhasil membangun posisi tawar yang setara dengan kekuasaan khalifah di Baghdad dan Romawi di Konstantinopel.

Sejalan dengan itu, Andalusia pun bangkit menjadi pusat peradaban baru yang menyamai Baghdad. Bidang perekonomian beranjak naik, membawa wilayah kekuasaannya pada kemakmuran yang luar biasa. Hingga berkembang pula bidang-bidang lainnya termasuk ilmu pengetahuan sebagaimana sudah dipaparkan sebelumnya.

Bahkan pada saat kekuasaan khilafah di Baghdad runtuh dengan terbunuhnya khalifah Al-Muqtadir, pada tahun 929 M Abdurrahman III mengisi kekosongan kepemimpinan itu dengan mengubah emirat Andalusia menjadi pusat kekhalifahan umat Islam.

Peristiwa Reconquista

Kekuasaan politik Islam di Andalusia berlangsung cukup lama, yakni sejak berbentuk keemiran tahun 756 hingga 929 M dan dilanjut menjadi khilafah hingga 1031 M. Sepanjang inilah Andalusia menjadi pusat peradaban Islam yang sangat berpengaruh bagi bangsa Eropa di tengah kejahiliyahannya.

Dari peradaban Islam di Andalusialah bangsa Eropa banyak belajar. Tak sedikit pemuda-pemuda mereka yang menikmati fasilitas pendidikan termasuk perguruan tinggi yang ada di sana. Tak heran jika di abad ke-12, Eropa mengalami masa pencerahan yang dikenal sebagai renaissance.

Di pihak lain, sejak abad ke-12 inilah kondisi kekuasaan Dinasti Umayyah melemah, bahkan runtuh tahun 1031. Pemicunya adalah terpilihnya Hisyam III yang masih berusia 11 tahun sebagai khalifah. Kekuasaan yang tidak independen dan cenderung disetir oleh para pejabat membuka kesewenang-wenangan.

Kekuasaan Andalusia juga hanya kukuh ditopang oleh kaum muslim di Afrika Utara saja. Akibatnya, pemerintahan tak mampu mengimbangi posisi orang-orang Kristen di Andalusia yang setelah masa renaissance makin lama makin menguat.

Konon setelah keruntuhan pemerintahan Islam di Cordova, negeri Islam di Andalusia terpecah menjadi kekuasaan-kekuasaan kecil yang lemah yang disebut dengan taifa. Beberapa taifa yang bertahan di Andalusia antara lain Sevilla, Zaragoza, Granada, Toledo, Badajoz, dan Denia.

Satu demi satu taifa itu dikalahkan oleh kekuatan Eropa yang mulai bersatu di bawah panji agama Kristen. Yang terakhir dihabisi oleh pasukan musuh adalah Taifa Granada. Mereka bahkan dibantu oleh masyarakat sipil Spanyol yang menyimpan dendam kesumat pada kaum muslim.

Peristiwa ini dikenal dengan reconquista atau penaklukan kembali. Ditandai dengan jatuhnya negeri Islam terakhir di Granada saat 2 Januari 1492, Sultan Muhammad XII Abu Abdullah menyerah kepada kekuatan Kristen Katolik Spanyol di bawah kepemimpinan Ferdinand II dan Isabella I.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Alotnya Futuhat Islam di Prancis

Akhir Riwayat Muslim Andalusia

Setelah masa itu, umat Islam Andalusia hidup dalam kegetiran. Mereka benar-benar terkekang, tak boleh menjalankan agama dan memperlihatkan simbol-simbolnya. Mereka pun dibebani pajak yang sangat zalim hingga muncul semangat perlawanan. Sayangnya, perlawanan ini  tak sebanding dengan kekuatan Kristen Eropa yang makin solid dan kuat.

Bukan hanya kaum muslim yang menderita di bawah kekuasaan Kristen Spanyol. Kaum Yahudi yang dulu terlindungi di bawah naungan Islam di Andalusia harus mengalami penindasan yang sama.

Pada 31 Maret 1492, raja dan ratu Spanyol, Ferdinand II dan Isabella I mengeluarkan Dekrit Alhambra. Isinya, umat Yahudi terlarang melakukan praktik ibadah di seluruh wilayah Hispania. Lalu dua bulan berikutnya, mereka pun benar-benar diusir dari sana.

Pada 1502, atas legitimasi Vatikan, penguasa Spanyol mewajibkan umat non-Kristen (Islam dan Yahudi) berganti agama menjadi Katolik. Mereka yang menolak akan dibunuh di pengadilan inkuisisi atau diusir ke luar Spanyol.

Era genosida kaum muslim ini sebetulnya sejalan dengan muncul dan bangkitnya kekuasaan Khilafah Utsmaniyah di belahan bumi lainnya, tepatnya di Anatolia. Namun, saat itu kekuasaan politik yang tampil sejak 1299 ini belum sampai pada puncaknya.

Baru saat Kekhalifahan Utsmani berhasil menaklukkan pusat kekaisaran Kristen Romawi pada 1453 di Konstantinopel, umat Islam bahkan orang Yahudi seakan mendapat payung penjaga tempat mereka menyimpan harapan dan cita-cita. Di wilayah kekuasaan Utsmaniyah inilah mereka mendapat tempat yang baik untuk melangsungkan hidupnya.

Khatimah

Kisah muslim di Andalusia memberi pelajaran tentang pentingnya berpegang teguh pada Islam dan persatuan di bawah naungan Khilafah Islam. Saat umat memberi celah pada kekufuran dan perpecahan, sejatinya mereka sedang menggali kuburannya sendiri.

Terlebih, musuh-musuh Islam akan tetap memelihara dendam. Mereka tak akan pernah rida umat Islam tampil memegang kendali peradaban. Sekalipun mereka tak akan pernah bisa menafikan bahwa mereka sesungguhnya berutang besar pada Islam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *