Tarikh

[Tarikh Khulafa] Penaklukan Mesir

Kaum muslimin melakukan futuhat terhadap Mesir pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

— Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA – Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab ra., Mesir merupakan wilayah kekuasaan Romawi. Pemimpin Mesir ditunjuk dari Romawi dan tinggal di Kota Iskandariyah. Saat itu, Mesir masih menjadi basis kekuatan kekaisaran Romawi.

Setelah pasukan kaum muslim menaklukkan Syam dan pasukan yang dipimpin Amr bin Ash juga berhasil membuka Palestina, Amr bin Ash meminta izin kepada Amirulmukminin untuk membuka wilayah Mesir.

Hadis Nabi saw. tentang Penaklukan Mesir

Penaklukan Mesir sudah diberitakan oleh Rasulullah saw.. Imam Muslim meriwayatkan dari jalur Abdurrahman bin Syamasah al Mahri yang mengatakan bahwa Abu Dzar al-Ghifari menuturkan, Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya kalian akan membuka suatu wilayah yang di sana disebutkan “alqirath”, karena itu aku berwasiat kepada kalian untuk memperlakukan penduduknya dengan baik, sebab mereka memiliki tanggungan dan kekerabatan. Jika kalian melihat dua orang yang saling berselisih di sana, pada tempat batu bata maka keluarlah darinya.”

Abu Dzar menyebutkan, “Lalu aku melihat Abdurrahman bin Syurahbil bin Hasanah dan saudaranya, Rabi’ah saling berselisih di suatu tempat batu bata, maka aku pun keluar dari sana.” (HR Muslim)

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Gencarnya Futuhat dan Bertambahnya Kekayaan Umat pada Masa Khalifah Umar Bin Khaththab ra.

Khalifah Umar bin Khaththab ra. menyetujui usulan Amr bin Ash untuk mem-futuhat Mesir. Amirulmukminin mengirimkan pasukan ekspedisi dalam jumlah besar. Khalifah juga meminta Zubair bin Awwam dan pasukannya membantu Amr bin Ash, ditemani Bisyr bin Artha’ah, Kharijah bin Hudzaifah, dan Umair bin Wahab al-Jamhi.

Diplomasi Sebelum Peperangan

Setelah pasukan kaum muslim memasuki Kota Babelion, mereka maju ke wilayah Mesir yang langsung disambut pasukan pimpinan Abu Maryam Jatsaliq didampingi Uskup Abu Miryam. Ia diutus Muqauqis dari Kota Iskandariyah untuk mengamankan negeri dari serangan kaum muslimin.

Ketika pasukan Amr bin Ash tiba, pasukan musuh mulai menyerang. Amr berkata, “Tahan dulu serangan kalian sampai kami memberi alasan pada kalian. Setelah itu kalian bisa menyampaikan pandangan kalian.” Abu Maryam dan Abu Miryam keluar dan maju ke hadapan Amr bin Ash.

Amr bin Ash mengajak mereka berdua untuk memeluk Islam, membayar jizyah, atau berperang. Pimpinan pasukan kaum muslimin ini juga menyampaikan kepada mereka tentang wasiat Nabi saw. kepada penduduk Mesir, sebab keberadaan Hajar ibu Nabi Ismail as. serta Mariyah istri Rasulullah saw. dan sekaligus ibu Ibrahim, berasal dari kalangan mereka.

Baca juga:  Asiyah binti Mazahim, Ratu Mesir Pemeluk Cahaya

Abu Maryam dan Abu Miryam lalu menghadap Muqauqis, pemimpin Koptik dan Athrabun panglima militer Romawi. Keduanya menyampaikan yang ditawarkan kaum muslimin itu. Namun, Athrabun menolak dua opsi pertama dan bersikukuh untuk berperang.

Berakhir dengan Perjanjian Damai

Kaum muslim menyerang pasukan yang dipimpin Athrabun, dan Athrabun pun tewas. Pasukan kaum muslimin lalu bergerak ke arah Ain asy Syam dan mengepung kota tersebut. Zubair bin Awwam naik ke pagar kota. Penduduk Kota Ain asy Syam bersegera menemui Amr bin Ash untuk mengajukan perdamaian.

Amr bin Ash menulis piagam jaminan keamanan kepada mereka. Piagam itu berbunyi, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah yang diberikan Amr bin Ash kepada penduduk Mesir, berupa jaminan keamanan atas jiwa, harta, agama, tempat-tempat ibadah, salib, wilayah darat dan laut mereka. Mereka tidak akan diganggu.”

“Seluruh penduduk Mesir wajib membayar jizyah, jika mereka menyetujui perjanjian damai ini dan maksimal jumlah yang dibayarkan 50.000.000 dirham. Mereka bertanggung jawab atas kejahatan pencuri-pencuri mereka. Jika ada yang menolak membayar jizyah ini,  kami tak akan memberikan perlindungan kepadanya. Kami tidak bertanggungjawab atas perlindungan kepada orang yang enggan menerima perjanjian ini. Jika pembayaran mereka berkurang dari ketentuan, maka imbalannya akan dicabut sesuai kadar kekurangan pembayaran mereka.”

“Barang siapa di antara bangsa Romawi dan orang-orang Nubia yang ikut dalam perjanjian damai ini, mereka akan mendapatkan hak seperti penduduk Mesir, juga memiliki kewajiban seperti kewajiban penduduk Mesir. Dan barang siapa yang menolak perjanjian ini dan memilih pergi dari sini, maka dia aman hingga dia tiba di tempat yang aman baginya, atau ia keluar dari kekuasaan kami.”

“Mereka wajib membayar sesuai kadar yang wajib bagi mereka, yakni sepertiga sepertiga. Pada setiap hitungan sepertiga itu terdapat hitungan tarikan pajak sepertiga yang menjadi kewajiban mereka. Perjanjian ini diberlakukan atas dasar wasiat Allah dan jaminan dari Rasulullah, Amirulmukminin, dan kaum mukminin.”

Perjanjian ini disaksikan Zubair bin Awwam, serta Abdullah dan Muhammad, keduanya adalah putra Zubair. Serta ditulis oleh Wardan dan Hidhir. Semua penduduk Mesir menerima perjanjian damai tersebut. Kaum muslimin lalu tinggal di Fusthath dan Amr bin Ash membangun masjid di kota tersebut. [MNews/Rgl]

Baca juga:  [Tapak Tilas] Mengenal Mesir, Bumi para Nabi

Sumber: Prof. Dr. Ibrahim al Quraibi. Tarikh Khulafa. Qisthi Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *