Opini

Kemal si Pembegal, Layakkah Ia sebagai Nama Jalan?

Diskusi seputar Khilafah kembali mengemuka setelah polemik rencana nama Mustafa Kemal Ataturk sebagai nama jalan di  Jakarta. Siapakah sebenarnya sosok penuh kontroversi ini? Layakkah negeri mayoritas muslim mengabadikannya sebagai nama jalan di Ibu Kota Jakarta?

Penulis: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI — Allah Swt. tampaknya memberi tanda agar kaum muslim senantiasa mengingat sejarah dan peradaban mereka yang selama ini terlupakan. Diskusi seputar Khilafah kembali mengemuka setelah rencana polemik nama Mustafa Kemal Ataturk sebagai nama jalan di  Jakarta.

Mayoritas umat Islam menolak rencana penamaan “Ataturk” sebagai nama jalan di Ibu Kota. MUI menolak keras wacana tersebut. Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas mengatakan Mustafa Kemal Ataturk adalah tokoh yang mengacak-acak ajaran Islam dan perbuatannya banyak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunah.

Penolakan juga datang dari Ketua Dewan Syuro DSKS Ustadz Muzzayin Marzuki. Menurutnya, hal itu menunjukkan ketakpahaman terhadap Islam dan perjuangan kaum muslim. Tak selayaknya menjadikan pecundang dan pengkhianat Islam sebagai nama jalan.

Bagaimana tanggapan pemerintah mengenai hal ini? Siapakah sebenarnya sosok yang penuh kontroversi ini? Layakkah negeri mayoritas muslim mengabadikannya sebagai nama jalan di Ibu Kota Jakarta?

Tata Krama Diplomatik?

Duta besar RI di Ankara, Muhammad Iqbal, mengatakan pemerintah Indonesia atau pemerintah daerah DKI Jakarta tidak menentukan pemberian nama jalan tokoh Turki tersebut. Hal itu merupakan tata krama diplomatik sebagai wujud hubungan resiprokal kedua negara. Singkat kata, penamaan Ataturk sebagai nama jalan adalah bentuk balasan karena Turki sudah menjadikan nama Soekarno sebagai salah satu nama jalan di depan KBRI Ankara.

Turki dan Indonesia memang memiliki nilai historis dan hubungan kuat. Jika melihat dengan kacamata nasionalis sekuler, Soekarno dan Ataturk dinilai sebagai Bapak Bangsa masing-masing negara, pendiri negara republik, dan tokoh revolusi yang katanya memiliki spirit perjuangan melawan kolonial. Namun, jika melihat dengan kacamata Islam, hubungan Nusantara dengan Khilafah Utsmani di Turki terekam dalam dakwah Islam yang dibawa para wali.

Baca juga:  Desain Terakhir Seputar Suriah

Inilah pentingnya kita melihat sejarah secara utuh. Kita harus memahami betul sosok Mustafa Kemal Ataturk yang umat Islam benci dan meninggalkan luka mendalam yang tak terobati. Jangan sampai negeri berpenduduk mayoritas muslim ini salah menilai tokoh yang sebenarnya adalah dalang di balik kehancuran Kekhalifahan Utsmani—yang sudah ratusan tahun menjadi penjaga dan pelindung kaum muslim di seluruh dunia.

Si Pembegal Khilafah

Bagi kalangan sekuler, Mustafa Kemal adalah pahlawan, bapak pembaharu Turki, dan tokoh revolusioner. Alasannya, Ataturk berhasil menghilangkan dominasi dan dogmatisme agama di Turki dengan menghancurkan dan menghapus sistem Kekhalifahan Utsmani saat itu.

Ia mengganti wajah Turki yang semula ternaungi cahaya Islam berubah menjadi Republik sekuler. Ia sengaja menjauhkan syariat Islam dari kehidupan rakyat Turki hingga mengubah segala aturan yang berbau Islam menjadi ala Barat.

Turki adalah negara Islam pertama yang sebelum Perang Dunia II dengan lantang dan berani mencomot negara sekuler. Semua ini terjadi berkat peran besar Kemal, si pembegal sekaligus penjagal Khilafah. Ia melakukan berbagai konspirasi untuk meruntuhkan sistem Khilafah yang sudah ratusan tahun menaungi Turki dan negeri-negeri Islam lainnya.

Kemal Ataturk terkenal sebagai peletak dasar sekularisme di Turki. Ia lahir pada 1881 di daerah Salonika. Ayahnya, Ali Riza, bekerja sebagai pegawai kantor di kota itu. Maryam Jameelah dalam bukunya Islam dan Modernisasi mencatat bahwa Ali Riza adalah seorang  pecandu alkohol. Sebagian penulis Barat menyebutkan Kemal Ataturk adalah anggota Freemasonry, organisasi rahasia Yahudi yang berdiri di London pada 1717. (Muammar, Arfan. Kritik terhadap Sekularisasi Turki)

Kemal Ataturk menginginkan Turki yang kental dengan Islam berubah jadi mencontoh peradaban Barat yang ia junjung tinggi. Ia menganggap Islam sebagai biang kerok kemunduran Turki. Oleh karena itulah, penghapusan sistem Khilafah merupakan agenda utamanya. Berperan sebagai agen Inggris, ia bergabung bersama gerakan Turki Muda yang menjadi cikal bakal perlawanannya mengobrak-abrik sistem Khilafah saat itu.

Baca juga:  Karakter Terburuk Kemal Ataturk, si Pengkhianat Umat Islam

Pada 1 November 1922, Dewan Agung Nasional pimpinan Kemal Ataturk menghapuskan Kekhalifahan. Selanjutnya, pada 13 Oktober 1923, pusat pemerintahan pindah dari Istanbul ke Ankara. Akhirnya, Dewan Nasional Agung pada 29 Oktober 1923 memproklamasikan terbentuknya Negara Republik Turki dan mengangkat Kemal Ataturk sebagai Presiden Republik Sekuler Turki.

Dosa Terburuk

Dosa Ataturk menghapus Kekhalifahan jelas tak termaafkan. Setelah Khilafah resmi diruntuhkan pada 3 Maret 1924, Ataturk menetapkan kebijakan sekuler radikal. Selama Kemal Ataturk berkuasa di Turki, ia berusaha melaksanakan program liberalisasi masyarakat Turki secara sistematis.

Dalam pandangannya, Barat harus menjadi role model bagi Turki. Pembenci Islam ini tidak pernah menganggap Islam sebagai peradaban. Ia menganggap Islam sebagai penghalang kemajuan, sehingga harus disingkirkan dalam aturan kehidupan.

Melansir dari muslimahnews.com (20/3/2021), inilah deretan perangai terburuk Kemal Ataturk terhadap Islam:

  1. Menghapus Khilafah Islam pada 1924 M atau 1342 H, tepat seabad yang lalu menurut tahun hijriah.
  2. Menghapus seluruh syariat Islam pada 1926.
  3. Menjadikan warisan antara laki-laki dan perempuan setara.
  4. Melarang rakyat Turki untuk melakukan ritual ibadah haji atau umrah.
  5. Melarang bahasa Arab di sekolah.
  6. Melarang azan di masjid-masjid.
  7. Melarang hijab (pakaian wanita sesuai syariat) di Turki.
  8. Mencoret nama Mustafa dari namanya.
  9. Menghapus perayaan Idulfitri dan Iduladha.
  10. Menjadikan hari Ahad sebagai hari libur mingguan menggantikan hari Jumat.
  11. Menghapus huruf Arab dari bahasa.
  12. Mengubah Masjid Hagia Sofia sebagai museum.
  13. Mengubah sumpah “demi Allah” menjadi sumpah “demi kehormatan” ketika penyerahan jabatan (pelantikan).
  14. Mengeksekusi ratusan ulama dan ahli fikih yang menolak pendekatannya.
  15. Sebelum matinya, ia berwasiat agar kaum muslim jangan menyalati jenazahnya. Ataturk mengatakan di depan parlemen Turki pada 1923, “Sekarang kita berada di abad ke-20 dan era industri yang tidak dapat berjalan di belakang kitab yang membahas at-tīn wa al-zaitūn (maksudnya adalah Al-Qur’an Al-karim).”
Baca juga:  Khilafah, Junnah Penghantar Jannah

Akibat perbuatan buruknya itu, hingga kini kaum muslimin berpecah belah dengan sekat-sekat nation state. Negeri muslim mudah terjajah. Sekularisasi dan westernisasi yang ia bawa telah menghancurkan kehidupan kaum muslimin. Umat tak lagi memiliki pelindung dan penjaga. Berkat begalnya terhadap Khilafah, Palestina, Suriah, Irak, dan negeri Islam lainnya berlumuran darah konflik berkepanjangan.

Melihat rekam jejaknya yang begitu hina, layakkan sosok seperti ini terabadikan sebagai nama jalan di negeri mayoritas muslim? Tata krama mana yang menjadikan tokoh pembegal Ibu (baca: Khilafah) bagi kaum muslim dijadikan nama jalan? Padahal, banyak pemimpin Turki yang lebih layak sebagai nama jalan, seperti Sulaiman al-Qanuni, Muhammad al-Fatih, atau Sultan Abdul Hamid II.

Khatimah

Tak selayaknya negeri yang mengagungkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa justru mengabadikan nama pengkhianat Islam sebagai nama jalan hanya karena tata krama diplomatik. Sudah selayaknya penguasa negeri ini memperhatikan perasaan umat Islam sebagai penduduk mayoritas. Jika wacana ini diteruskan, bukankah hal ini makin mengonfirmasi bahwa negeri ini memang negara sekuler?

Sekularisasi Turki harusnya menjadi pelajaran berharga. Eksperimen Turki yang berlangsung selama hampir seabad membuktikan bahwa penerapan sekularisme di negeri Islam sama saja bermakna menghapus Islam sebagai sebuah sistem hidup yang bersinar terang. Islam diturunkan sebagai din, sejatinya telah memiliki konsep sebagai peradaban.

Peradaban Islam akan kembali gemilang dengan penegakan syariat kafah dalam naungan Khilafah, bukan dengan peradaban sekuler Barat. Kalaulah ada kesalahan penerapan dalam sistem Khilafah, mestinya kaum muslim memetik hikmah dari kelemahan-kelemahan Daulah Khilafah saat itu beserta sebabnya. Agar kita—sebagai generasi penerus—tak mengulang kesalahan yang sama bagi masa depan Khilafah kelak. [MNews/Gz]

3 komentar pada “Kemal si Pembegal, Layakkah Ia sebagai Nama Jalan?

  • Citra Suwarni utama

    Nama Kemal Atarturk Tidak layak menjadi nama jalan di Indonesia yg mayoritas muslim bukan kah nama Kemal selalu berdampingan dengan kalimat laknatullah alaih karena perbuatannya yg sangat buruk terhadap Islam.

    Balas
  • Kemal ATTATURK la’natullah ‘alaih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *