Badan Riset dalam Khilafah, Pengabdian untuk Meraih Janah

Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com, OPINI — Riset merupakan upaya manusia mengembangkan ilmu pengetahuan. Dari sini, para ahli dapat menghasilkan berbagai macam penemuan, dari teknologi elektronik, pangan, tambang, bangunan, transportasi, hingga bunga untuk estetika. Semua itu dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Baru-baru ini, orang nomor satu di negeri Zamrud Khatulistiwa melantik ketua badan pengarah riset yang juga merupakan Ketua Dewan Pengarah BPIP. Sontak, hal itu membuat banyak orang beranggapan miring. Mereka takut kalau riset akan dimanfaatkan untuk politik. Sebenarnya, bagaimana Islam memandang riset dan politik?

Politik itu Mengurusi, Bukan Menguasai

Anggapan bahwa politik adalah kekuasaan yang dekat dengan permainan kotor, kesewenang-wenangan, dan kecurangan, memang hal biasa. Kondisi saat inilah yang membuat manusia berpikiran negatif mengenai istilah itu. Fakta memperlihatkan banyak gerakan politik yang mendekati rakyat hanya saat butuh suara. Selebihnya, mereka diam ketika sudah berkuasa. Kita bisa lihat dari kebijakan para wakil rakyat di atas sana.

Pandangan mengenai politik seperti ini jelas sangat berlawanan dengan Islam. Rasulullah saw. membawa Islam bukan hanya sebagai agama, tetapi sebagai sistem kehidupan. Aktivitas beliau merupakan aktivitas politik. Bagi Islam, politik tidak hanya berbicara masalah kekuasaan, tetapi mengurusi urusan umat.

Nabi saw. mencontohkannya ketika berada di Madinah. Beliau saw. menjadi seorang pemimpin yang memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya. Beliau memakai aturan Allah Swt. (Al-Qur’an dan Sunah) sebagai dasar mengambil kebijakan. Adapun para sahabat—termasuk khulafa setelahnya—senantiasa mengikuti yang beliau lakukan.

Memberikan Amanah pada Ahlinya

Amanah adalah tanggung jawab yang wajib dilakukan. Oleh karena itu, amanah seyogianya diberikan kepada orang yang tepat, bukan yang berambisi tetapi tidak ahli. Ini karena amanah sekecil apa pun pasti akan diminta pertanggungjawaban.

Rasul saw. bersabda, “Setiap kalian semuanya adalah pemimpin dan  bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya. Suami pemimpin keluarganya dan akan ditanya tentang keluarga yang dipimpinnya. Istri memelihara rumah suami dan anak-anaknya dan akan di tanya tentang hal yang dipimpinnya. Seorang hamba (buruh) memelihara harta majikannya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Ketahuilah, bahwasanya kalian semua pemimpin dan akan dituntut (diminta pertanggung jawaban) tentang hal yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, sangat penting memberikan amanah pada ahlinya agar amanah bisa berjalan baik. Alkisah, ketika Rasulullah saw. bertemu petani kurma yang sedang mengawinkan kurma, beliau saw. mempertanyakan mengapa harus mengawinkan kurma, tidak membiarkan saja secara alami. Mendengar hal itu, para petani itu mengikuti saran Rasulullah saw..

Namun, ketika panen tiba, hasil perkebunan justru menurun. Setelah itu para petani menemui Rasulullah saw. dan mengadukan perihal itu. Dari sini beliau saw. tahu, untuk mengurusi urusan teknis (duniawi) perlu menyerahkan pada ahlinya, sedangkan beliau saw. tidak ahli dalam hal perkebunan kurma.

Oleh karenanya, beliau bersabda, “Kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR ath-Thabrani)

Jika masalah mengelola perkebunan kurma saja Rasulullah saw. menyarankan untuk menyerahkan pada ahlinya, kegiatan penelitian juga perlu demikian, mengingat tidak semua orang mampu menjalankan amanah ini. Perlu kepakaran dan kemampuan untuk menjalankannya. Bukan sekadar kemauan berkuasa, tetapi juga kemampuan dan intelektualitas yang tinggi. Apalagi badan riset adalah lembaga penting bagi kelangsungan hidup manusia.

Khilafah dalam Menjalankan Riset

Keberadaan riset dapat membantu manusia menyelesaikan masalah hidup. Karena itu, badan riset sangat dibutuhkan. Namun, berkembang tidaknya riset juga tergantung dengan kebijakan penguasa, mengambil keputusan yang benar atau tidak.

Pemimpin yang paham Islam dan menjadikannya landasan memimpin negara akan mengutamakan kebutuhan rakyat daripada keuntungan. Dengan demikian, negara Islam akan memberikan kepemimpinan badan riset pada ahlinya. Badan itu akan menjalankan penelitian sesuai dengan keperluan masyarakat, baik mendesak atau tidak. Misalnya, apabila di negara tersebut terjadi wabah, pemimpin akan memberikan dukungan moral dan materiel untuk menjalankan penelitian tentang obat dari wabah.

Begitu pun saat bencana kelaparan, negara akan memerintahkan badan riset melakukan penelitian tentang cara-cara mengatasi kekeringan, atau bahan pangan yang cepat dipanen, tidak banyak membutuhkan air, dan rasanya tetap enak.

Bahkan, untuk memudahkan komunikasi, negara juga akan membiayai segala penelitian untuk mengembangkan teknologi agar mudah menjangkau seluruh dunia dalam waktu cepat. Tidak hanya itu, negara akan berusaha mengatasi masalah ini dengan mitigasi bencana. Tentu semua itu akan didukung dan dibiayai negara Islam.

Bagi para peneliti, negara Islam akan memberikan penghargaan yang pantas. Negara memberikan dana yang cukup, termasuk fasilitas memadai untuk penelitian. Buku-buku yang dihasilkan pun akan dihargai, sehingga para ilmuwan tidak akan mengemis dana pada orang lain (asing) untuk biaya penelitian. Setiap hasil karya atau penemuan akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, bukan untuk para kapitalis yang hanya mementingkan profit atau keuntungan.

Sistem pendidikan Islam bertujuan membentuk generasi yang memiliki kepribadian Islam, yaitu mempunyai pola pikir dan sikap Islam yang akan mendukung berkembangnya riset. Dari sisi akal inilah muncul peneliti-peniliti kompeten yang berlomba-lomba mempersembahkan karya terbaiknya untuk Islam. Dalam benak mereka hanya ada pengabdian agar berguna bagi yang lain, bukan demi profit yang bernilai materi.

Dari Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim)

Hadis di atas menanamkan kepada seluruh peneliti dan generasi bahwa semua hasil karya yang bermanfaat bagi orang lain akan menjadi amal jariah. Amalan tersebut akan membawa mereka menuju janah. Adapun beberapa ilmuwan muslim yang telah memberikan sumbangsih kemajuan bagi umat manusia seperti Ibnu Sina sebagai ahli kedokteran; Al-Khawarizmi ahli algoritma, astrologi, dan astronomi; Abbas Ibn Firnas penemu pesawat terbang; dan sebagainya.

Negara Islam sungguh memperlihatkan perhatian yang luar biasa kepada riset. Sejarah membuktikan, selama 13 abad negara Islam (Khilafah) menjadi mercusuar dunia. Jika kita melihat semua bukti itu, masihkah ada ragu mengambil Islam kafah? [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *