Pola Pikir Sains dan Pola Pikir Rasional

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM – Pola pikir sains (thariqah ilmiah) adalah suatu metode pengkajian yang dapat ditempuh agar seseorang sampai pada tahap mengetahui hakikat sesuatu yang diteliti, melalui berbagai macam percobaan ilmiah. Namun proses pencapaian hanya berlaku bagi benda-benda yang bersifat materi/fisik, dan tidak terhadap ide-ide (abstrak).

Thariqah ilmiah ini dapat diterapkan dengan cara memperlakukan benda pada situasi/keadaan tertentu, bukan pada situasi/kondisi yang alami. Hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan hasil percobaan pada situasi/kondisi alami yang telah ada (kontrol).

Dari percobaan dan hasil yang diperoleh serta perbandingan yang dilakukan, dapat diambil suatu kesimpulan tentang hakikat benda yang diteliti dan dapat diserap oleh indra. Bentuk percobaan ini telah lazim dilakukan di laboratorium.

Thariqah ilmiah mengharuskan adanya “peniadaan” terhadap segala bentuk informasi yang diperoleh sebelumnya tentang materi/benda yang diteliti. Kemudian dimulailah langkah-langkah pengamatan dan eksperimen terhadap materi atau benda tersebut.

Thariqah ini mengharuskan seseorang yang hendak melakukan penelitian terlebih dahulu harus meniadakan setiap pandangan, pendapat, atau keyakinan tentang benda/materi tersebut yang telah dihasilkan melalui eksperimen sebelumnya. Kemudian mulai melakukan pengamatan dan eksperimen, dilanjutkan studi komparasi, klasifikasi, sampai mencapai suatu kesimpulan yang diperoleh berdasarkan tahapan/proses ilmiah tadi.

Apabila seseorang telah sampai pada suatu kesimpulan setelah melakukan eksperimen, maka hasil penelitiannya itu berupa kesimpulan ilmiah, yang biasanya didasarkan pada suatu penelitian/eksperimen. Kesimpulan itu tetap merupakan kesimpulan ilmiah, selama belum dapat dibuktikan adanya kesalahan dalam salah satu penelitiannya.

Kesimpulan yang dihasilkan oleh seorang peneliti melalui thariqah ilmiah, meskipun disebut sebagai suatu fakta ilmiah atau etika/tata cara ilmiah, akan tetapi belum pasti, yakni masih mengandung “faktor kesalahan”. Bahkan adanya “faktor kesalahan” dalam thariqah ilmiah merupakan paradigma yang paling mendasar yang harus diperhatikan dalam thariqah ilmiah, sebagaimana yang ditetapkan etika ilmiah. Kesalahan dalam mengambil kesimpulan sering terjadi dan telah terbukti berbagai kekeliruan di bidang pengetahuan sains, setelah sebelumnya dianggap sebagai faktor ilmiah yang pasti.

Sebagai contoh teori ilmiah tentang atom, yang sebelumnya dikatakan sebagai partikel kecil dari suatu benda yang tidak dapat dipecah lagi. Namun kemudian terbuktilah kekeliruannya, yang juga menggunakan metode ilmiah yang sama. Ternyata atom masih dapat dipecah lagi.

Dari sini dapat dipahami, bahwa thariqah ilmiah hanyalah berlaku untuk benda/materi saja. Karena termasuk kerangka berpikir paling mendasar dalam thariqah ilmiah ini adalah melakukan eksperimen terhadap benda dengan memperlakukannya pada kondisi tertentu dan bukan dalam kondisi/situasi yang alami (khusus dilakukan dalam ilmu terapan). Hal itu tidak dapat dilakukan terhadap sesuatu yang berbentuk ide atau pemikiran (abstrak). Oleh sebab itu, kesimpulan yang dihasilkan dari thariqah ilmiah adalah kesimpulan yang bersifat dugaan dan tidak pasti, serta mengandung “faktor kesalahan”.

Sedangkan pola pikir rasional (thariqah aqliyah), adalah suatu metode pengkajian yang dapat ditempuh agar seseorang sampai pada tahap mengetahui hakikat sesuatu yang sedang dikaji, melalui indra yang menyerap obyek. Proses penyerapan tersebut dilakukan melalui panca indra menuju ke otak, dibantu oleh pengetahuan/informasi sebelumnya yang akan menafsirkan dan memberikan keputusan (sikap) atas fakta tersebut. Keputusan tersebut dinamakan pemikiran atau ide (thought) yaitu pemahaman yang diperoleh akal secara langsung.

Thariqah ini mencakup pengkajian materi/obyek yang dapat diindra (ilmu fisika), maupun yang bukan materi/abstrak (berkaitan dengan pemikiran). Dan ini satu-satunya metode yang alami yang ada dalam diri manusia untuk memahami segala sesuatu. Yaitu dengan terbentuknya pemikiran atau pemahaman terhadap sesuatu.

Pola pikir seperti ini merupakan definisi akal. Dengan cara inilah, manusia dalam kedudukannya sebagai manusia bisa memahami segala sesuatu yang telah lalu, baik yang telah ataupun yang ingin ia ketahui. Hasil yang diperoleh melalui thariqah aqliyah, mengandung dua kemungkinan.

Jika kesimpulan itu berkaitan tentang “ada” atau “tidak adanya wujud” sesuatu, maka ia bersifat pasti dan sedikit pun tidak mengandung faktor kesalahan. Sebab, keputusan itu diambil melalui penginderaan terhadap sesuatu, sedangkan alat indra manusia tidak mungkin salah dalam menentukan “adanya” sesuatu yang bersifat nyata, karena penyerapan indra manusia terhadap “adanya” sesuatu kenyataan bersifat pasti, sehingga keputusan akal untuk menentukan “adanya” sesuatu yang terindra adalah pasti.

Kesalahan yang mungkin tejadi dengan metode ini diakibatkan kesalahan pengindraan. Misalnya saja fatamorgana yang disangka air, atau pensil yang lurus terlihat bengkok dan patah ketika dicelupkan ke dalam air. Namun demikian hal itu tidak berarti meniadakan adanya sesuatu, yaitu adanya fatamorgana dan pensil.

Kesalahan ini teletak pada fenomena yang ada, yaitu memandang fatamorgana sebagai air, dan pensil yang lurus dikatakan bengkok atau patah. Demikian juga dalam memahami berbagai fenomena-fenomena yang lain, sesungguhnya pengindraan manusia tetap tidak akan salah dalam menentukan adanya sesuatu, jika ia merasakan/mengindra sesuatu, berarti sesuatu itu pasti ada, begitu pula terhadap keputusan yang ia lihat/rasakan bersifat pasti.

Apabila kesimpulan atau keputusan tersebut berkaitan dengan hakikat atau fenomena dari sesuatu, maka bersifat tidak pasti dan mengandung faktor kesalahan. Sebab keputusan tersebut diambil berdasarkan informasi yang diperoleh atau interpretasi terhadap fakta yang terindra melalui informasi yang telah ada, namun terdapat kemungkinan menyusup unsur kesalahan. Akan tetapi, ia dianggap sebagai pemikiran yang “benar” sampai terbukti kesalahannya. Pada saat itulah diputuskan bahwa kesimpulannya salah. Sedangkan sebelumnya, tetap dipandang sebagai kesimpulan yang tepat atau pemikian yang benar.

Adapun penelitian yang menggunakan cara berpikir logika (mantiq), sesungguhnya bukan metode berpikir, melainkan salah satu cara pembahasan yang dibangun berdasarkan pola pikir rasional. Sebab, pola pikir logika dilakukan dengan cara membangun suatu pemikiran/premis di atas pemikiran/premis lain yang kesimpulannya dapat diindra.

Dengan cara ini, kemudian dihasilkan suatu kesimpulan tertentu. Misalnya premis pertama menyatakan papan tulis itu terbuat dari kayu; premis kedua setiap kayu mempunyai sifat terbakar; maka kesimpulannya papan tulis itu mempunyai sifat terbakar. Begitu pula misalnya, seekor kambing yang disembelih dikatakan mati jika tidak bergerak; ternyata kambing yang disembelih tidak bergerak; maka kesimpulannya kambing ini mati.

Kebenaran pola pikir logika tergantung pada premis-premisnya. Jika premisnya benar, maka akan diperoleh kesimpulan yang benar. Tetapi jika premisnya salah maka akan diperoleh kesimpulan yang salah (kontradiksi).

Disyaratkan pada premis berupa pernyataan yang dapat mengantarkan pada suatu yang dapat diindra. Hal ini berarti kembali pada pola pikir rasional, dan dengan pengindraan dapat menentukan benar salahnya kesimpulan. Maka dapat dipahami, bahwa pola pikir logika merupakan salah satu pola pikir yang dibangun berdasarkan pola pikir rasional. Dalam pola pikir logika terkandung unsur kesalahan atau kemungkinan adanya kekeliruan.

Untuk menguji kebenaran pola pikir logika, maka lebih baik menggunakan pola pikir rasional dalam menggali dan menentukan kesimpulan, tanpa mempertimbangkan lagi pola pikir logika–walaupun hal itu bisa digunakan–tetapi dengan syarat premis-premisnya harus benar, yang hal ini dapat diketahui dengan hanya menggunakan pola pikir rasional.

Berdasarkan uraian di atas jelas pada dasarnya metode berpikir hanya ada dua, yaitu pola pikir sains dan pola pikir rasional. Yang pertama mengharuskan adanya pengabaian terhadap informasi yang sudah ada (dimiliki), sedangkan yang kedua justru mengharuskan adanya informasi yang diperoleh sebelumnya.

Pola pikir rasional adalah dasar dalam berpikir. Hanya dengan pola pikir tertentu dapat diperoleh pemikiran yang tidak dapat dicapai dengan cara pola pikir sains ataupun pola pikir logika.

Dengan pola pikir rasional dapat diketahui setiap realita ilmiah melalui pengamatan eksperimen dan penarikan kesimpulan. Dengan metode itu pula dapat diketahui realitas setiap kesimpulan yang dihasilkan oleh pola pikir logika, dan lain sebagainya.

Begitu pula dengan metode itu, akan diketahui realita sejarah dan dapat membandingkan kesalahan atau kebenaran sejarah. Dengan metode itu pula manusia dapat memperoleh pemikiran yang bersifat integral mengenal alam semesta, manusia, dan kehidupan serta realitas dari alam semesta, manusia, dan kehidupan tersebut.

Sementara itu, pola pikir sains tidak akan dapat menghasilkan sesuatu, atau bahkan tidak pernah ada kecuali jika dibangun berlandaskan pola pikir rasional atau sesuatu yang telah ditetapkan berdasarkan pola pikir rasional. Dengan demikian suatu yang pasti akan alami bahwa pola pikir sains tidak dapat dijadikan sebagai dasar berpikir.

Di samping itu pola pikir ini menentukan bahwa segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh indra adalah tidak berwujud. Sehingga ilmu logika, sejarah, dan teori-teorinya diabaikan, karena semua ini belum terbukti secara ilmiah keberadaannya. Sebab semua itu tidak ditetapkan dengan pola pikir sains, yaitu dengan cara pengmatan, eksperimen, dan penarikan kesimpulan.

Jika demikian halnya, maka ini merupakan kesalahan yang total. Karena itu pengetahuan alam hanyalah salah satu cabang dari dunia ilmu pengetahuan. Ia merupakan salah satu jenis pemikiran dari seluruh jenis pemikiran yang ada, sedangkan jenis ilmu pengetahuan amat banyak, dan semua itu justru tidak ditetapkan berdasarkan pola pikir sains, tetapi dengan pola pikir rasional.

Oleh karena itu pola pikir sains tidak dapat dijadikan asas/dasar pola berpikir. Yang harus dijadikan dasar/asas berpikir adalah pola pikir rasional.

Namun demikian, pola pikir sains adalah pola pikir yang salah. Kesalahannya adalah menjadikannya asas untuk berpikir. Dengan demikian, sebagai asas berpikir, akan menimbulkan kesulitan. Pola pikir ini bukanlah suatu asas yang menjadi dasar tegaknya sesuatu, melainkan hanya salah satu cabang yang ditegakkan di atas suatu asas.

Dengan menjadikannya sebagai asas berarti telah membuang/tidak membahas sebagian besar ilmu pengetahuan dan realitas-realitas hidup. Hal itu akan mengakibatkan terjadinya penolakan terhadap sebagian besar ilmu pengetahuan yang dipelajari yang mengandung banyak realitas, padahal ia (ilmu pengetahuan dan realitas itu) ada.

Terlebih lagi pola pikir sains hasilnya berupa dugaan dan di dalamnya terdapat unsur kesalahan. Hal ini menjadi paradigma (kerangka berpikir) yang biasanya selalu diperhatikan oleh pola pikir tersebut. Oleh karena itu tidak layak pola pikir sains dijadikan sebagai dasar/asas berpikir.

Sebab dengan pola pikir ini akan dihasilkan kesimpulan yang bersifat dugaan tentang wujud dan sifat dari sesuatu. Sebaliknya, pola pikir rasional mampu menghasilkan kesimpulan atau keputusan yang pasti tentang wujud dan sifat-sifat tertentu yang ada pada sesuatu, walaupun dari segi hakikat sesuatu dan sifatnya, kesimpulan itu tidak bersifat dugaan belaka, akan tetapi dari segi penentuan kebenaran “adanya” suatu dan sifat-sifat tertentu dari sesuatu itu adalah pasti dan meyakinkan.

Dengan demikian pola pikir rasional harus dijadikan sebagai asas penelitian, mengingat bahwa kesimpulan yang dihasilkannya bersifat pasti. Jika suatu kesimpulan tentang wujudnya sesuatu dan sifat-sifat yang terkandung di dalamnya didasarkan pada pola pikir rasional, maka bertentangan dengan kesimpulan yang diperoleh dengan pola pikir sains, maka sudah selayaknya bila yang diambil adalah pola pikir rasional. Sebab, tentu yang diambil adalah hal yang bersifat pasti, bukan yang bersifat dugaan.

Akhirnya dapatlah dipahami bahwa kesalahan berpikir yang terjadi di seluruh dunia ini adalah karena dijadikannya pola pikir sains sebagai asas pola pikir sekaligus sebagai penentu dalam menetapkan pemahaman terhadap sesuatu. Kesalahan itu harus diluruskan, dan merupakan suatu keharusan menjadikan pola pikir rasional sebagai asas berpikir dan senantiasa menjadikannya sebagai pegangan dalam memutuskan pemahaman terhadap sesuatu. [MNews/Rgl]

Sumber: Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *