Peran Orang Tua dalam Mengatasi Perilaku Penyimpangan dalam Keluarga

Alih-alih melindungi rakyatnya dari perilaku menyimpang, negara malah menumbuhsuburkan perilaku menyimpang. Sistem kehidupan sekuler liberal memang mengagungkan kebebasan berperilaku. Bagaimana Islam menyelesaikan kasus penyimpangan? Apa peran orang tua untuk menjaga anak-anak mereka agar terhindar darinya?

Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA — Membaca artikel berjudul Pengalaman Transpria Muslim: Dari Kerudung ke Sarung, “Saya bukan perempuan” yang dilansir CNN Indonesia (12/10/2021), kaget sekaligus miris, refleks berucap, “Astaghfirullaahal azhzhiim … Naudzubillaahi min dzalika.” Lebih miris lagi ketika membaca sepenggal demi sepenggal kalimat yang ada dalam artikel tersebut.

Ringkasnya sebagai berikut:

Adalah Amar Alfikar, 30 tahun, terlahir sebagai anak perempuan dari keluarga pesantren. Ayahnya adalah kiai, seorang penceramah ulung yang dihormati. Namun Amar gelisah. Dia tidak merasa bahwa dirinya adalah perempuan. 

Setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelisahan, Amar memutuskan untuk bertransisi menjadi laki-laki. "Ibu, saya bukan perempuan dan saya tidak bisa suka dengan laki-laki," kata Amar ketika melela pada ibunya. Amar menceritakan pergulatan batinnya dalam transisi, dan bagaimana dia melibatkan keluarga dan komunitasnya dalam perubahannya, dari yang tadinya berjilbab menjadi bersarung.

Jika kita membaca keseluruhan artikel ini, tampak sebenarnya orang terdekat Amar tidak setuju, bingung atau kaget, termasuk Amar sendiri pun takut-takut untuk mengakuinya. Terlebih ibunya, orang yang melahirkannya karena ia tahu bahwa anaknya ini memang perempuan sejak lahir.

Kakak laki-lakinya sempat marah dan terus mengingatkannya. Ini membuktikan sesungguhnya mereka mengakui bahwa apa yang dilakukan oleh Amar ini merupakan hal yang dinilai aneh atau sebuah penyimpangan, tidak sesuai aturan Islam.

Akan tetapi, pada akhirnya mereka semua menerima atau membiarkannya dengan berbagai alasan. Ini merupakan takdir yang ditetapkan atas Amar. “Biarlah ini menjadi tanggung jawabnya sendiri terhadap agamanya,” kata mereka.

Buah Sistem Kapitalisme Sekuler

Diterapkannya sistem sekuler kapitalisme yang menjadikan manfaat sebagai asas kehidupan dan menjadikan kebebasan, baik beragama, berpendapat, kepemilikan, dan berperilaku di atas segalanya merupakan biang keladi munculnya berbagai macam pemikiran dan tingkah laku yang menyimpang. Terlebih lagi sistem ini mengusung hak asasi manusia (HAM) yang makin mengukuhkan kebebasan ini.

Mereka merasa bebas berbuat sekehendak hati selama tidak mengganggu orang lain. Nilai kebebasan yang dianut sistem ini menjadi racun mematikan bagi akal dan naluri manusia. Sah-sah saja yang dilakukan seseorang walaupun menyimpang atau melanggar, selama yang bersangkutan siap menanggung risiko.

Pemahaman inilah yang akhirnya menyebabkan lunturnya semangat saling menasihati atau amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat, bahkan di dalam keluarga. Seorang ayah dan ibu seolah-olah “terpaksa” mengikuti kehendak anaknya, padahal yang dilakukan anaknya jelas menyimpang.

Lemahnya pemahaman umat terhadap ajaran Islam kafah menjadi salah satu faktor utama kondisi ini bisa terjadi. Islam telanjur dipahami sebatas ritual saja, hingga tak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik konteks individu, keluarga, maupun dalam interaksi masyarakat dan kenegaraan.

Ketika Islam tidak dijadikan standar perilaku, hawa nafsu menjadi penentu. Akibatnya, orang berlomba memenuhi kebutuhan naluri dan jasmani sesuka hatinya, menghilangkan ketakwaan individu. Terlebih lagi negara, alih-alih bisa melindungi rakyatnya tercegah dari perilaku menyimpang, yang terjadi justru sebaliknya, malah menumbuhsuburkan perilaku menyimpang.

Dalam sistem kehidupan sekuler liberal saat ini, kebebasan berperilaku begitu diagung-agungkan. Negara pun kehilangan nyali mengatur warga negaranya karena momok demokrasi yang mengharuskan mengakomodir semua kepentingan dan kelompok. Akibatnya, benar dan salah menjadi kabur, halal atau haram tak dapat jelas dibedakan. Sistem seperti ini pun telah menyeret “orang baik” berbuat maksiat dan pelaku maksiat makin kuat.

Pandangan Islam

Berbeda halnya dengan sistem sekuler kapitalisme, Islam menjadikan akidah Islam ‘Laa Ilaaha illallah Muhammad Rasulullah‘ sebagai asas, wahyu Allah sebagai pijakannya. Islam memiliki aturan yang sangat terperinci dan sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan.

Sebagai sistem aturan yang lahir dari Yang Maha Mengetahui akan makhluk ciptaan-Nya, seluruh persoalan yang dihadapi makhluk-Nya dapat diselesaikan dengan memuaskan tanpa ada pihak mana pun yang dirugikan. Ini karena sesuai fitrah dan memuaskan akal manusia yang akhirnya akan menenteramkan jiwa. Karenanya, dengan menerapkan aturan-aturan Allah, manusia akan mendapatkan kebahagiaan, terhindar dari malapetaka.

Islam mengharuskan umat Islam untuk terikat dengan aturan dari Allah swt. dan Rasul-Nya, tanpa terkecuali. Islam sebagai aturan kehidupan yang diturunkan Allah swt. merupakan aturan paripurna yang mampu menyelesaikan setiap persoalan manusia secara menyeluruh, tuntas, dan sempurna. Dalam Islam, yang halal dan haram sangat jelas, tidak lekang waktu, tidak tergantung pendapat penduduk bumi.

Dalam Islam, perempuan yang bersikap seperti lelaki ini disebut al-Imraatu al-mutarajjilah atau ‘perempuan yang menyerupai kaum lelaki’.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga dan tidak akan dilihat Allah di hari kiamat kelak, yaitu seorang yang durhaka kepada orang tuanya, wanita yang menyerupai lelaki, serta lelaki dayyuts (tidak memiliki sifat cemburu.” (HR Ahmad dan An-Nasai)

Dari Ibnu Abbas ra. berkata, bahwasanya Rasulullah saw. melaknat mukhannasin (laki-laki yang menyerupai perempuan) dan mutarajjilat (perempuan yang menyerupai lelaki). Beliau saw. bersabda, “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian. Maka Rasulullah saw. mengeluarkan Fulan dari rumahnya dan Umar juga mengeluarkan Fulan dari rumahnya.” (HR Bukhari).

Dari penjelasan kedua hadis ini saja telah jelas bahwa perempuan yang berperilaku seperti lelaki adalah haram, termasuk perempuan bergaya pakaian khas lelaki atau sebaliknya, hukumnya haram.

Peran Orang Tua

Sistem Islam adalah sistem kehidupan yang unik dan mencakup seluruh kaum muslimin. Negara bertanggung jawab menerapkan aturan-aturan Islam secara utuh dalam kerangka mengatur seluruh urusan umat, baik lelaki maupun perempuan. Akan tetapi, tentu saja haruslah membenahi seluruh aspek kehidupan dan menatanya sesuai syariat Islam, aturan yang datang dari Sang Maha Pencipta yang Mahatahu akan makhluk ciptaan-Nya.

Selain itu, kontrol masyarakat pun sangat diperlukan, sehingga akan mencegah terjadinya kerusakan di tengah-tengah masyarakat. Amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah umat akan memunculkan masyarakat sehat dan jauh dari penyimpangan.

Tidak kalah pentingnya adalah peran individu dan keluarga muslim untuk menjauhkan terjadinya penyimpangan di dalam keluarga. Ayah sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya, berperan besar mencegah dan mengatasi perilaku menyimpang dalam keluarga.

Yang dilakukan Amar serta respons keluarganya harus menjadi pelajaran bagi kita semua—keluarga muslim—jangan sampai hal demikian menimpa keluarga kita. Naudzubillahi min dzalika! Di sinilah pentingnya keluarga muslim mencegah hal demikian terjadi.

Lalu, apa yang bisa kita upayakan?

Pertama, menanamkan keimanan sejak dini.

Menanamkan iman yang kukuh adalah tugas utama orang tua. Orang tualah yang akan memengaruhi tumbuh kembang sendi-sendi agama dalam diri anak. Allah Swt. juga telah memperingatkan kita—para orang tua—dalam QS At-Tahrim: 6, قوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً (“…Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”).

Allah memerintahkan orang-orang beriman agar taat dan patuh melaksanakan perintah-Nya. Juga diperintahkan mengajarkan keluarganya agar taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka. Keluarga merupakan amanat yang harus dipelihara, baik raga maupun jiwanya .

Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Muttafaq alayh). Dari hadis ini, dapat kita pahami bahwa karakter anak kelak dapat dipengaruhi kebiasaan di lingkungannya, terlebih di rumahnya, cara orang tua mendidiknya dan lingkungan keluarga akan menentukan karakter anak.

Penanaman iman bertujuan agar anak mengenal Allah dan Rasul-Nya. Ketika anak memahami bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar, biidznillah kelak mereka paham bahwa semua perbuatannya selalu dalam pantauan Allah, sehingga berhati-hati dalam berbuat.

Kedua, mengenalkan syariat Islam dan akhlak mulia.

Sejak dini, orang tua harus memperkenalkan syariat Islam kepada anak, sebagaimana hadis Rasulullah saw., “Perintahlah anak-anakmu agar mendirikan salat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah karenanya tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”

Demikian halnya dengan hukum lainnya, seperti kewajiban menutup aurat, menjaga pergaulan, larangan mencuri, termasuk fikih wanita. Juga menjelaskan ahkamul khamsah, demikian halnya dengan akhlak mulia. Dengan memahami hukum syarak dan akhlak mulia, anak akan terhindar dari perilaku menyimpang.

Ketiga, mengasah akal anak untuk berpikir benar.

Tidak bisa kita mungkiri, tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi saat ini memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak-anak. Kerap anak memiliki argumentasi sendiri terkait hal yang dilakukannya.

Pandainya seorang anak berargumentasi adalah karena kecerdasan dan keingintahuannya yang besar. Orang tua haruslah memberikan informasi sahih yang bersumber dari ajaran Islam yang kelak menjadi pijakan dalam menilai berbagai informasi yang ia dapatkan.

Keempat, mengeksiskan sisi keperempuanannya.

Sejak dini orang tua harus membiasakan anak perempuan memakai pakaian perempuan, memberikan mainan untuk anak perempuan, dan bergaul dengan teman-temannya yang perempuan, serta mengajari anak-anak keterampilan perempuan dan membiasakan mengerjakan pekerjaan rumah, seperti memasak dan sebagainya. Hal ini akan mengeksiskan naluri perempuannya.

Kelima, menanamkan sikap tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan.

Mereka tidak mudah jatuh dalam keburukan dan penyimpangan. Jika melakukan suatu kekhilafan, ia akan segera menyadari lalu bertobat dan memperbaikinya. Sikap tanggung jawab akan membuat anak-anak cerdas dalam mengontrol dan mengendalikan dirinya.

Keenam, membiasakan amar makruf nahi mungkar di antara anggota keluarga.

Manusia mana pun tidak luput dari kesalahan, demikian halnya dalam keluarga—ayah, ibu, dan anak-anak. Tentu saja, setiap anggota keluarga yang satu tidak pernah rela anggota lainnya melakukan kesalahan karena khilaf atau belum tahu.

Dengan demikian, saling memberi nasihat dan mengingatkan merupakan wujud suatu hubungan yang saling mencintai karena Allah swt. di antara anggota keluarga. Sebab, tujuannya adalah menjaga ketaatan kepada Allah swt. dan menjauhkan dari bermaksiat kepada-Nya. Nasihat yang disertai dengan komunikasi, cara, suasana, dan waktu yang tepat, akan membuat anggota keluarga yang dinasihati merasakan perhatian dan ketenteraman dalam menerima masukan.

Khatimah

Demikianlah, telah sangat jelas orang tua memiliki peran penting untuk mengarahkan anggota keluarganya agar selalu dalam aturan Allah Al-Khaliq Al-Mudabbir. Perilaku menyimpang atau tidak sesuai Islam akan bisa dihindari jika para orang tua senantiasa menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya dengan baik, sesuai yang Allah Swt. perintahkan.

Karena itu, solusi satu-satunya tak lain adalah mengembalikan aturan Sang Pencipta dengan menerapkan aturan Din Islam secara menyeluruh. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Juan]

One thought on “Peran Orang Tua dalam Mengatasi Perilaku Penyimpangan dalam Keluarga

  • 20 Oktober 2021 pada 15:35
    Permalink

    Pendidikan anak tanggung jawab orang tua…Islam dengan aturan yg jelas tinggal orang tua yg harus memenuhi tanggung jawab nya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *