Apakah Islam Terbuka terhadap Pelbagai Ideologi Modern?

Penulis: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS — Ahmad Murtafi Haris dalam tulisannya di nu[dot]or[dot]id menyatakan Islam terbuka untuk pelbagai ideologi modern. Fungsi agama sebagai landasan moral dan keluasan cakupannya menjadikan agama terbuka terhadap pelbagai perbedaan pandangan modern. Ia bisa dibawa dalam pertarungan antarideologi, seperti kapitalisme, sosialisme, dan komunisme

Dalam tulisan tersebut Haris juga menyatakan masing-masing ideologi memiliki pendukung dari kalangan agamawan yang mampu menunjukkan korelasi antara materi yang ada dalam kitab suci dan ideologi yang dianut, termasuk komunisme. Ia mencontohkan, Haji Misbach atau Mohammad Misbach adalah aktivis Sarekat Islam “Merah” yang selain mengidolakan Rasulullah Muhammad juga mengidolakan Karl Marx. Dia penganut setia komunisme. [1]

Bagi Misbach, ajaran Karl Marx adalah pengejawantahan nilai-nilai Islam sehingga baginya muslim yang benar adalah muslim yang komunis. Misbach juga menyerang kelompok Islam modernis seperti Muhammadiyah yang disebutnya sebagai kapitalis muslim. [1]

Ada hal menarik yang perlu dikritisi dari tulisan Haris ini, yaitu ketika ia menyebutkan bahwa Islam terbuka terhadap pelbagai ideologi modern. Benarkah demikian? Untuk menjawabnya, kita perlu samakan dulu persepsi tentang apa itu Islam? Apakah Islam butuh pada ideologi modern ataukah tidak? Kemudian bagaimana Islam memandang berbagai ideologi tersebut, apakah menerima ataukah menolak?

Apa itu Islam?

Islam tak bisa disejajarkan dengan agama-agama lainnya, karena Islam bukan sekadar agama. Pengertian “agama” yang masyarakat luas pahami saat ini adalah “agama” dalam pengertian Barat sekuler. Agama diartikan hanya menyangkut hubungan privat antara manusia dengan Tuhan, dan tidak berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Kalaupun mengatur hubungan antarmanusia, agama hanya mengatur pada aspek terbatas, misalnya ibadah ritual dan moral.

Ketika pemaknaan tersebut diterapkan kepada Islam, maka Islam kemudian dipahami seperti agama agama lainnya yang ‘a-politis’ dalam mengatur kehidupan manusia. Padahal, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia tanpa kecuali. Tak ada satupun permasalahan yang menimpa manusia, kecuali Islam telah menjelaskan aturan dan solusinya. Allah SWT berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ……..

“ … Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (TQS An Nahl [16]: 89)

Karena karakter Islam yang seperti itulah maka Islam bukan hanya sekadar agama, melainkan juga sebuah ideologi.

Definisi Ideologi

Ideologi menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani adalah aqidah aqliyah (akidah yang lahir dari sebuah proses berpikir secara rasional) yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud “akidah” adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan.

Baca juga:  Khilafah Mengatasi Serangan Masif Global Pelaku Penyimpangan Seksual

Pemikiran tersebut meliputi dua bagian yaitu, fikrah (ide) dan thariqah (metode). Sedang peraturan yang lahir dari akidahberfungsi untuk memecahkan dan mengatasi problematik hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara akidah serta untuk mengemban ideologi. [2]

Dalam konteks definisi ideologi inilah maka Islam adalah agama yang mempunyai kualifikasi sebagai ideologi dengan padanan dari arti kata mabda’ dalam konteks bahasa Arab. Dan dengan berpatokan pada definisi ideologi tersebut, maka ideologi di dunia hanya ada tiga yaitu, Islam, Kapitalisme dan Sosialisme (termasuk di dalamnya Komunisme).

Islam Tak Butuh Ideologi Modern

Dari ke tiga ideologi tersebut, hanya Islam yang berasal dari Allah Swt. Sedangkan Kapitalisme dan Sosialisme- yang disebut Haris sebagai ideologi modern- adalah ideologi buatan manusia. Karena berasal dari Allah Swt, maka hanya Islamlah ideologi yang shahih (benar) dan paling layak untuk mengatur urusan manusia. Firman Allah Swt

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al Maidah [5]: 50).

Terlebih, Islam adalah Diin (agama dan ideologi)yang sudah Allah sempurnakan . Allah Swt berfirman

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS Al Maidah [5]: 3).

Karena kesempurnaannya, Islam tak butuh ajaran lainnya. Islam tak butuh Kapitalisme maupun Sosialisme.

Apakah Islam Terbuka atau Tertutup?

Dalam pandangan Islam, semua yang bertentangan dengan Islam terkategori kufur, baik itu agama maupun ideologi. Setiap muslim diseru untuk meninggalkannya. Siapapun yang mengambilnya, maka amalannya tertolak. Allah Swt berfirman

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Baca juga:  Sekularisme Menyuburkan Perilaku Menyimpang

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran 85)

Frase ‘fa lan yuqbala minhu’ adalah qorinah yang lebih baligh (mendalam maknanya), yang menunjukkan tidak akan pernah diterimanya agama orang kafir yang jelas jelas Kafir (kuffran haqiqiyan) karena memeluk selain Islam sebagai agama. Mereka itu adalah ahli kitab yaitu Nasrani dan Yahudi, atau musyrik yaitu pengikut agama selain Nasrani dan Yahudi (seperti Hindu, Budha dll), atau memeluk ideologi selain Islam baik Kapitalisme maupun Sosialisme, ataukah orang yang nampak Islam namun pemikiran, perasaan dan cara hidupnya tidak berasaskan islam. [3]

Ibnu Abbas menyebut mereka sebagai kufran duna kufrin, ketika menjelaskan tafsir surat Al Maidah 44 ( wa man lam yahkum bi maa anzalallahu fa ulaaika humul kaafiruun). Jadi semuanya tercakup di dalam ayat tersebut. Sebab, pengertian kata ‘ghaira Al-islam’ adalah semua yang bukan islam, baik berupa agama maupun ideologi.[3]

Begitu pula kata ‘diinan’ (agama) di ayat tersebut (QS Ali Imran 85), dalam pengertian yang dikehendaki Allah adalah tuntunan hidup yang meliputi dunia dan akhirat, spiritual dan politik. Dan bukan ajaran agama yang disalah artikan oleh orang kafir, yang terbatas mengurusi urusan akhirat saja. Maka ajaran selain Islam adalah ajaran kufur baik berupa ajaran spiritual seperti Yahudi Nasrani dan lain lain, maupun ajaran politik seperti Kapitalisme dan Sosialisme-komunisme. [3].

Dari sini maka jelas, Islam menolak semua ajaran kufur. Islam tertutup dari kapitalisme maupun sosialisme.

Mewaspadai Isu Islam Agama Terbuka

Mengopinikan Islam sebagai agama yang terbuka dari ideologi modern, sama saja menafikan kesempurnaan Islam. Ini adalah upaya untuk mengompromikan Islam dengan kekufuran, mencampuradukkan antara Islam yang hak (benar), dengan Kapitalisme dan Sosialisme yang batil. Allah jelas melarang aktivitas tersebut. Firman Allah Swt..

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS Al Baqarah [2]: 42).

Kapitalisme dan sosialisme adalah ideologi bathil yang bertentangan dengan Islam. Islam mengharuskan aturan agama diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia (lihat QS Al Baqarah [2]: 208), sementara Kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan manusia sehingga manusia bebas membuat peraturan hidupnya sendiri. Sedangkan ideologi sosialisme, termasuk di dalamnya komunisme, telah mengingkari keberadaan agama, bahkan menafikan pengakuan terhadap agama [2]

Baca juga:  Khilafah Menutup Pintu Penyimpangan Seksual

Demikian nyata pertentangan kedua ideologi ini dengan islam, maka menganggap Islam sebagai ajaran yang terbuka dari kedua ideologi tersebut jelas adalah pemahaman yang sangat berbahaya, maka umat perlu mewaspadainya.

Khilafah, Penjaga Umat dari Ideologi Kufur

Ketika daulah Khilafah Islamiyah masih tegak, Khalifah menjadi penjaga agar semua ideologi dan ajaran kufur tak bisa masuk ke dalam benak umat. Hal ini karena dalam pandangan islam, khalifah (pemimpin) adalah junnah (perisai) yaitu pelindung dan penjaga yang akan melindungi umat dari segala bahaya yang mengancamnya. Rasulullah Saw bersabda

“Sesungguhnya al imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya” (HR Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Ketika daulah tersebut tak ada , ditambah lagi kondisi umat Islam yang sangat jauh dari pemahaman Islam yang shahih, maka masuknya pemikiran pemikiran kufur ke dalam hati dan pikiran umat tak memiliki penghalang sedikitpun.

Sehingga lambat laun umat semakin jauh dari ideologi Islam dan semakin dekat dengan ideologi ideologi kufur. Kemudian lahirlah sosok -sosok muslim yang kapitalis maupun muslim yang komunis. Ketika mereka menjadi pemimpin, maka mereka mengatur umat dan negara dengan aturan-aturan kufur yang berasal dari ideologi kufur yang mereka yakini. Wajar jika kerusakan dan penderitaan terus menimpa umat Islam hari ini, karena hukum-hukum kufur yang dipakai, sementara hukum-hukum Allah dicampakkan.

Lalu.., apakah kita biarkan hal ini terus terjadi? Jelas tidak. Kita harus berusaha mengambil dan mengamalkan hanya ajaran Islam, dan membentengi diri dan keluarga kita dari semua ajaran kufur yang bertentangan dengan Islam. Tak hanya itu, kita juga harus memahamkan umat akan hal tersebut, dan berusaha agar Khilafah segera tegak, karena hanya Khilafah satu satunya yang akan menjaga umat ini dari berbagai ideologi kufur dan kerusakan akibat penerapan ideologi kufur tersebut. Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi

[1] https://nu.or.id/opini/islam-terbuka-untuk-pelbagai-ideologi-modern-OegtC

[2] Taqiyuddin An Nabhani, Peraturan Hidup Dalam Islam (Nizham al-Islam), alih bahasa Abu Amin dkk, cet. III (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2003)

[3] Hafidz Abdurahman, Islam Politik dan Spiritual, Pustaka Lisan Ul haq, cetakan 1, 1998

3 komentar pada “Apakah Islam Terbuka terhadap Pelbagai Ideologi Modern?

  • 20 Oktober 2021 pada 21:55
    Permalink

    Ideologi Islam saja sdh mencukupi mengatur seluruh sisi kehidupan dan memberikan solusi terbaik bagi seluruh persoalan hidup manusia jd tidak memerlukan ideologi yg lain ,Islam yg berasal dari Allah tertutup bagi ideologi buatan manusia

    Balas
  • 20 Oktober 2021 pada 19:58
    Permalink

    Islam bkn sekedar agama tetapi ideologi, disitulah kekuatan islam

    Balas
  • 20 Oktober 2021 pada 19:07
    Permalink

    Ideologi islam adalah satu²nya ideologi yg sesuai dg fitrah manusia,, in syaa Allah islam kaffah tersgrkn,, aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *