Tumpukan Utang Tersembunyi RI, Bikin Ngeri

Aiddata mengungkapkan, utang tersembunyi Indonesia dari Cina bahkan melampaui utang yang tercatat secara resmi. Jika hal ini terus dibiarkan, maka dapat dipastikan negeri akan remuk, berujung pada tergadainya seluruh aset negara. Rakyat pun makin menderita karena utang yang makin menggila pada Cina.

Penulis: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI—Ekonomi Indonesia dalam kondisi kritis. Ibarat pasien, sudah harus masuk ruang Intensive Care Unit (ICU) dan harus menggunakan ventilator pula. Mengapa demikian? Karena membayar bunga utang, harus melakukan utang baru. Sungguh mengerikan.

Lembaga riset asal Amerika Serikat, Aiddata mengungkap utang tersembunyi Indonesia dari Cina. Berdasarkan hasil riset berjudul “Bangking on the Belt and Road: Insights from a new global database of 13.427 Chinese Development Projects”, Aiddata menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari 25 negara penerima utang tersembunyi terbesar dari Cina. (Gelora.co, 14/10/2021).

Bahkan, Indonesia menjadi negara terbesar di antara negara-negara Asia Tenggara yang memiliki utang tersembunyi dari Cina. Padahal, peminjaman utang sebesar itu merupakan bagian dari strategi Cina untuk merealisasikan keinginannya mewujudkan jalur sutra baru yang dikenal Belt and Road Initiative (BRI).

Aiddata mengungkapkan, utang tersembunyi Indonesia dari Cina bahkan melampaui utang yang tercatat secara resmi. Jika hal ini terus dibiarkan, maka dapat dipastikan negeri akan remuk, berujung pada tergadainya seluruh aset negara. Rakyat pun makin menderita karena utang yang makin menggila pada Cina.

“Gila” Utang pada Cina

Jika sudah mengalami kondisi “gila”, maka memang sulit disembuhkan. Apalagi “gila” utang. Publik harus mengetahui bahwa dana yang diterima Indonesia dari Cina melalui skema ODA (Official Development Assistance) mencapai US$4,42 miliar. Lalu yang diterima melalui skema OOF (Other Official Flows) lebih besar lagi, yakni US$29,96 miliar.

Jika ditotalkan, utang tersembunyi yang disalurkan Cina ke Indonesia pada periode 2000-2017 mencapai US$34,38 miliar atau setara dengan Rp488,9 triliun. Jumlah ini hampir 18% dari total belanja APBN 2021 yang mencapai Rp2.750 triliun. Panik enggak? Ya paniklah ketika kita mengetahui utang tersembunyi lebih besar jumlahnya dari utang yang tercatat resmi.

Baca juga:  [News] Divestasi Jalan Tol, Pengamat: Tidak Bisa Diterima Akal Sehat

Utang tersembunyi yang diberikan Cina tak tercatat di lembaga pemerintah, karena disalurkan lewat perusahaan negara atau BUMN. Perlu diketahui publik ada sejumlah mega proyek infrastruktur negeri ini yang didanai Cina. Mulai dari bendungan hingga kereta cepat Jakarta-Bandung yang didanai dari utang tersembunyi.

Pembangunan Waduk Jatigede di Jawa Barat didanai dari CEXIM-Cina sebesar US$215,62 juta. Kemudian Tol Medan-Kualanamu sepanjang 61,8 km dibiayai juga oleh CEXIM-Cina sebesar US$122,43 juta. Kereta cepat Jakarta-Bandung dibiayai sebesar US$5,573 miliar. Sejumlah dana itu tentu diberikan tidak cuma-cuma, ada “harga” yang harus dibayar untuk melunasi pinjamannya.

Pinjaman Super Besar, Agar Tak Mampu Bayar?

Cina sengaja memberi utang besar demi taktik tertentu. Lihat saja angka-angka tumpukan utang tersembunyi Indonesia pada Cina begitu besar. Belum lagi utang resmi yang tercatat pada lembaga pemerintah. Saat ini saja membayar utang pokok sebesar Rp400 triliun, bunganya Rp370 triliun, total Rp770 triliun dalam satu tahun. Bukankah hal ini membuat ekonomi negeri berjalan “sempoyongan” dan bisa pingsan.

Cina telah mendapatkan banyak kritikan dari sejumlah ekonom dari berbagai negara terkait utang yang membebani banyak negara. Namun, tak menghentikan langkahnya untuk terus meminjamkan utang melalui program BRI. Lembaga keuangan Cina telah menyediakan lebih dari US$440 miliar dalam pendanaan proyek BRI.

Menurut analis senior Asia Kaho Yu di Verisk Maplecroft, situasi utang yang tidak tercatat resmi bisa menimbulkan masalah. Hal itu dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Bahkan, mampu merampas aset negara dan memperpanjang kontrak mereka.

Baca juga:  Utang Membengkak, Ekonomi Menukik, Salah Siapa?

Sebagai contoh yang terjadi di Sri Lanka, harus meyerahkan pelabuhan strategis ke Beijing pada 2017. Hal itu terjadi setelah Sri Lanka tak mampu melunasi utangnya kepada perusahaan-perusahaan Cina. Sengaja diberikan pinjaman super besar agar tidak mampu bayar.

Fenomena inilah yag disebut diplomasi perangkap utang. Negara yang berutang ke Cina dipaksa menandatangani wilayah nasional atau membuat konsesi, saat mereka tidak dapat memenuhi kewajiban.

Utang, Penjajahan Gaya Baru

Dr. Julian Sigit, M.E.Sy. menyatakan, besarnya utang tersembunyi Cina dapat merusak eksistensi negara. Apalagi utang telah menjadi strategi paling jitu untuk menguasai suatu negara. Bisa dikatakan sebagai bentuk penjajahan gaya baru.

Jika hal ini terus dipertahankan oleh penguasa dalam sistem demokrasi, maka berpeluang besar bagi Indonesia harus melepas satu demi satu aset milik rakyat kepada negara atau lembaga kreditur. Bukan hanya itu, secara politik tentu peminjam utang dapat mendikte jalannya setiap kebijakan yang diputuskan oleh penguasa. Ini tertuang dalam setiap perjanjian yang dilakukan, sebelum si peminjam utang menerima sejumlah uang.

Parahnya, secara politik dan ekonomi negeri dikendalikan oleh negara atau lembaga peminjam utang. Terus terpasung dengan segala kepentingan mereka. Negara yang seperti ini menunjukkan tidak mandiri, bahkan tergadaikan.

Negeri sekuler yang mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi akan terus melanggengkan penjajahan lewat berbagai kebijakannya. Salah satu kebijakan dalam ekonomi yakni mengandalkan utang ribawi untuk pembangunan negeri. Negeri dijajah kok bangga, utang yang kian menggunung kok katanya masih aman? Ironis.

Solusi Hadapi Perangkap Utang Cina

Pertama, mengganti paradigma pembangunan ekonomi. Berpihak kepada rakyat, bukan kepentingan pemilik modal atau kepentingan politik praktis penguasa.

Kedua, adanya political will negara untuk mewujudkan pembangunan ekonomi berdasarkan kekuatan ideologi. Tentunya dengan penerapan ideologi Islam dalam institusi khilafah.

Baca juga:  Indef Ungkap Utang Indonesia Ternyata Capai Rp7.000 Triliun

Jika kekuatan Cina menjerat hampir seluruh negeri Islam dengan jebakan utangnya, maka dibutuhkan mewujudkan tegaknya khilafah yang melibatkan seluruh negeri muslim di dunia. Perkara ini membutuhkan keseriusan dalam mengedukasi umat Islam. Terutama dalam hal memahamkan konstruksi khilafah sebagai ajaran Islam, yang mampu menyatukan seluruh negeri Islam dan menjadikannya negara besar dan mandiri.

Kemudian memahamkan umat Islam sebagai pemilik sejati kekuasaan. Seharusnya menyerahkan kepemimpinan kepada mereka yang benar-benar menerapkan syariat. Bukan kepada para penguasa antek penjajah yang melanggengkan hegemoni mereka di setiap negeri muslim.

Khatimah

Membangun negara tanpa utang sebenarnya bisa dilakukan jika negara menerapkan sistem ekonomi Islam dan konsep keuangan negara baitulmal. Konsep baitulmal memiliki tiga pos besar pemasukan negara, yaitu pengelolaan aset milik umum, pengelolaan aset milik negara, dan zakat mal.

Sejumlah pos tersebut memiliki pemasukan yang besar dan berkelanjutan. Tak membebani rakyat dengan pajak. Tanpa harus berutang. Oleh karenanya, sudah seharusnya para penguasa negeri muslim mengambil dan menjalankan sistem ekonomi Islam, serta menerapkan konsep baitulmal.

Semestinya para penguasa negeri muslim yang “gila” utang riba mengingat apa yang difirmankan Allah Swt, “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al- Baqarah: 275).[MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *