Tantangan bagi Dakwah Ideologis (Bagian 2/2)

Penulis: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS — Untuk bisa menghadapi tantangan dakwah dan menyelesaikannya, seorang pengemban dakwah harus tahu tantangan apa yang akan menghalang di jalannya. Dengan demikian, ia bisa menyiapkan diri lebih baik dan tahu apa yang harus dilakukannya sebagai antisipasi yang tepat. (sambungan dari bagian 1/2).

Tantangan Internal Jemaah

Tantangan ini terkait dengan pelaksanaan aktivitas berjemaah yang telah diwajibkan syarak dalam berdakwah. Kemunculannya dapat mengganggu aktivitas jemaah, bahkan sampai merusak jemaah dari dalam. Apa saja?

1) Ketakjelasan fikrah dan thariqah dakwah.

Fikrah dan thariqah dakwah adalah jiwa dari jemaah. Ketakjelasan fikrah bisa membawa jemaah menginterpretasikan Islam agar sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada saat itu, atau menyesuaikan Islam agar cocok dengan peraturan-peraturan selain Islam yang akan diambil, sehingga Islam seolah-olah sesuai dengan hal-hal tersebut. Pada akhirnya, apa yang diperjuangkan oleh jemaah tersebut malah menyimpang dari Islam.

Sedangkan thariqah yang tidak jelas akan membuat jemaah mengambil langkah-langkah yang keliru dalam memperjuangkan kebangkitan Islam, misalnya dengan berjuang melalui sektor ekonomi, pendidikan, perbaikan akhlak, dan sebagainya yang tidak membawa pada kebangkitan hakiki.

Untuk mampu memiliki fikrah dan thariqah yang benar, jemaah harus mengacu pada apa yang telah dilakukan Rasulullah saw. dalam menegakkan Islam. Ini memerlukan upaya penggalian yang cermat dan tepat dengan pemikiran yang dalam dan cemerlang.

2) Bahaya kelas.

Bahaya ini terjadi karena ketika jemaah menjadi wakil umat atau mayoritas umat, ia akan mempunyai tempat terhormat, posisi yang mulia, serta mendapatkan penghormatan yang sempurna dari umat, khususnya dari masyarakat umum. Ini kadang kala dapat mengembuskan tipu daya ke dalam jiwa para aktivis jemaah, sehingga mereka merasa bahwa mereka lebih tinggi dari umat, bahwa yang menjadi tugas mereka adalah memimpin, sedang tugas umat adalah untuk dipimpin.

Pada saat itulah mereka merasa lebih tinggi di atas individu-individu umat atau sebagian dari umat, tanpa mempertimbangkan bahaya dari sikap ini. Jika ini terjadi berulang-ulang, umat akan merasa bahwa jemaah adalah suatu lapisan “kelas” yang lain.  Demikian pula jemaah pun akan merasakan hal yang sama.

Munculnya perasaan ini adalah awal dari kehancuran jemaah, karena ia akan melemahkan semangat jemaah untuk mempercayai orang-orang kebanyakan dari masyarakat. Sebaliknya, ia akan melemahkan kepercayaan masyarakat banyak terhadap jemaah. Pada saat itulah umat akan mulai berpaling dari jemaah.

Untuk mengatasi tantangan ini, hendaknya para aktivis dakwah bersikap seperti individu-individu umat kebanyakan. Hendaklah mereka tidak mempunyai perasaan terhadap diri mereka, kecuali bahwa mereka adalah pelayan umat dan bahwa tugas mereka sebagai partai adalah melayani umat.

Perlu dijaga juga agar aktivis dakwah tidak terjebak pada ashabiyah (fanatisme golongan) dan penyeruan terhadapnya. Sikap ini terbentuk dari perasaan bahwa partainya adalah partai yang paling benar dan partai lainnya salah.

Memang, kita harus memilih untuk bergabung dengan partai dakwah yang kita anggap fikrah dan tharIqah-nya benar. Namun, kita harus tetap berpegang pada kaidah ‘pendapat saya benar tetapi tidak tertutup dari kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah tetapi tidak tertutup kemungkinan mereka benar’.

Artinya, kita selalu tetap kritis terhadap pemikiran partai, menimbangnya semata dengan timbangan Islam, bukan dengan fanatisme sempit terhadap golongan.

3) Sikap tsiqah terhadap pemimpin.

Pemimpin sebuah partai dakwah adalah pemersatu bagi anggota partai. Semua perbedaan yang memungkinkan untuk menimbulkan perpecahan, dikembalikan kepada pemimpin. Ia yang akan menentukan pendapat mana yang akan diadopsi, sehingga partai terhindar dari perpecahan.

Sikap tidak tsiqah terhadap pemimpin bisa membahayakan jemaah karena menimbulkan gejolak perpecahan, ketaksamaan langkah dakwah, dan disharmonisasi dakwah. Hal ini akan memperlambat gerak partai dalam melakukan penetrasi dakwah ke tengah umat.

Tsiqah tidak berarti percaya buta dengan mematikan sikap kritis terhadap pemimpin. Pengoreksian tetap harus ada, tetapi dalam koridor yang sudah digariskan partai, sehingga tidak menimbulkan distabilitas partai.

Tantangan Eksternal

Tantangan eksternal muncul dari luar individu dan partai dakwah. Tantangan ini terkait dengan kondisi masyarakat yang menjadi sasaran dakwah beserta pemikiran yang berkembang di dalamnya.

1) Tantangan ideologis.

Tantangan ideologis adalah pertentangan ideologi (Islam) dengan sistem (pranata kehidupan) yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Ideologi Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang baru bagi masyarakat sekarang. Ideologi ini bertentangan dengan sistem kapitalisme berikut anaknya: sekularisme dan demokrasi, yang saat ini diterapkan atas masyarakat.

Oleh sebab itu, para penguasa akan menganggap ideologi Islam ini merupakan ancaman terhadap institusi kekuasaan mereka. Mereka pasti akan menghalangi dengan berbagai macam cara, dengan melancarkan propaganda untuk menentang ideologi itu atau dengan menggunakan kekuatan fisik (kekerasan).

Maka dari itu, para pengemban ideologi ini harus berusaha menjaga diri dengan segenap kemampuan, menentang propaganda-propaganda sesat—dengan menjelaskan dakwah mereka—dan bersiap sedia menanggung segala penderitaan di jalan dakwah ini.

2) Perbedaan tsaqafah di masyarakat.

Dalam masyarakat terdapat berbagai macam tsaqafah dan tersebar berbagai macam pemikiran yang berbeda-beda. Yang paling berbahaya dari tsaqafah dan pemikiran tersebut adalah pemikiran dan tsaqafah asing seperti liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Pemikiran dan tsaqafah ini begitu gencar disebarkan di tengah umat, sehingga dominan di tengah masyarakat, masuk dalam kurikulum pendidikan, dan menjadi jiwa sebagian besar media massa.

Para pengemban dakwah harus menghadapi pemikiran dan tsaqafah ini dengan secara intensif menjelaskan kepada masyarakat kerusakan dari ide tersebut dan bahayanya bagi masyarakat dan bagi agama mereka.

Para pengemban dakwah juga perlu mengenali para pengusung pemikiran dan tsaqafah asing ini untuk menghalangi penyebarannya di tengah umat. Kepada mereka diserukan untuk kembali pada pemikiran dan tsaqafah Islam. Jika mereka menolak, tidak perlu melakukan debat kusir dengan mereka, cukup dengan menjelaskan siapa mereka dan kerusakan pemikiran mereka kepada umat.

Perbedaan pemahaman terhadap tsaqafah Islam juga memiliki imbas terhadap dakwah. Masyarakat kadang menolak dakwah karena tidak sesuai dengan apa yang mereka pahami selama ini. Dalam hal ini, pengemban dakwah harus bijak menyikapi. Perbedaan-perbedaan yang hanya sekedar furu’ (cabang) tidak perlu dibesar-besarkan.

Sedangkan perbedaan yang bersifat mendasar seperti akidah, metode penerapan Islam dan sebagainya, disampaikan dengan dalil kuat, argumentasi jelas dengan menyentuh perasaan keislaman mereka, membangkitkan girah, dan menunjukkan fakta-fakta yang menunjang.

3) Tantangan pragmatisme.

Saat ini umat dikuasai oleh pragmatisme dalam menghadapi permasalahan. Mereka memandang masalah secara dangkal, hanya sekedar melihat fakta kemudian menghukuminya berdasar fakta tersebut. Akibatnya mereka tidak mampu melihat apa yang ada di balik fakta, atau malas untuk melihat lebih jauh lagi.

Satu-satunya cara untuk mengatasi kesulitan ini adalah berusaha membahas sesuatu perkara secara mendalam dengan mereka, sampai mereka melihat dan menyadari bahwa fakta itu adalah objek pemikiran yang harus diubah, bukan dijadikan sebagai sumber hukum. Proses ini dilakukan secara intensif sampai umat terbiasa dengan pemikiran yang mendalam dan cemerlang.

4) Konspirasi musuh-musuh Islam terhadap dakwah.

Tidak dapat kita mungkiri bahwa musuh-musuh Islam senantiasa mencari jalan untuk menghalangi dakwah Islam. Allah sendiri telah memperingatkan kita akan hal tersebut,

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah: 120)

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS Ash-Shaaf: 8)

Para musuh Islam ini berusaha untuk menyebarkan ketakutan umat terhadap dakwah , misalnya dengan menyematkan cap fundamentalis, teroris, radikalis terhadap para pengemban dakwah. Mereka juga menyusun strategi pengebirian dakwah dengan program deradikalisasi, yang hanya membolehkan mengajarkan Islam sebagai agama damai yang pluralis, inklusif dan moderat. Padahal hakekatnya, mereka mencoba untuk menghalangi dakwah ideologis dan politis yang akan membangkitkan umat.

Para musuh Islam juga membuat konspirasi memecah belah umat dengan membuat aliran-aliran sesat, mendukung kelompok-kelompok sempalan dan orang-orang murtad untuk terus mengobok-obok Islam. Kemunculan kelompok-kelompok ini cukup menyita perhatian dan energi para pengemban dakwah, sehingga menghambat langkah dakwah partai dakwah yang shahih.

Untuk menghadapi tantangan ini, para pengemban dakwah harus merapatkan barisan, menyatukan langkah untuk melawan. Kepada umat harus dijelaskan konspirasi ini dan memberikan pemahaman yang lurus agar mereka tidak mudah terprovokasi dan terpecah belah.

Yang pasti, keyakinan akan pertolongan Allah harus terus dipupuk dalam jiwa setiap pengemban dakwah. Konspirasi mereka sungguh tidak akan mampu untuk mengalahkan kekuasaan Allah.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran: 54).

Inilah beberapa tantangan dakwah yang harus dihadapi para pengemban dakwah ideologis. Betapa pun beratnya tantangan tersebut, dengan bekal takwa dan tawakal kepada Allah, mereka siap menghadapi. Mereka sadar sepenuhnya, bahwa masa depan Islam ada di tangan mereka. Merekalah yang akan mempersiapkan umat dan bersama umat menyongsong fajar kemenangan Islam, Insya Allah dalam waktu dekat. [MNews/Gz]

One thought on “Tantangan bagi Dakwah Ideologis (Bagian 2/2)

  • 20 Oktober 2021 pada 07:37
    Permalink

    Mudah2an pengemban dakwah dilindungi dri sikap2 yg berbahaya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *