[News] Pengamat: Kelaparan Serius di 50 Negara, Problemnya Tidak Hanya di Konsumen

Sekitar 2,4 miliar orang telah mengalami kehilangan akses ke makanan bergizi. Rekomendasi yang diberikan mencakup berbagai program, salah satunya melarang konsumen menyia-nyiakan makanan. Padahal, problemnya tidak hanya di tingkat konsumen.

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Merespons adanya 50 negara di dunia yang menghadapi kelaparan serius, pengamat ekonomi Islam Ustazah Nida Sa’adah, S.E., M.E.I., Ak. menyatakan, problemnya tidak hanya di tingkat konsumen.

“Berdasarkan Data Indeks Kelaparan Global, hari ini 50 negara di dunia menghadapi kelaparan yang serius. Sekitar 2,4 miliar orang telah mengalami kehilangan akses ke makanan bergizi. Rekomendasi yang diberikan mencakup berbagai program, salah satunya melarang konsumen menyia-nyiakan makanan. Padahal sebetulnya, problemnya tidak hanya di tingkat konsumen,” paparnya dalam sebuah podcast bertajuk “Hari Pangan Sedunia dan Problem Food Hunger”, Senin (18/10/2021).

Ia menguraikan, walaupun di tingkat konsumen, problemnya juga beragam bukan hanya menyia-nyiakan makanan. “Namun juga ada lapisan masyarakat yang memang tidak memiliki akses yang cukup untuk mendapatkan makanan,” jelasnya.

Produsen

Menurutnya, ada juga problem serius di tingkat produsen, petani, antara lain ketersediaan lahan. “Lahan makin menyempit, bahkan mereka harus bersaing di tingkat global dengan Multinational Corporation. Kebijakan yang diatur oleh negara justru tidak membuat petani pada posisi yang menguntungkan,” urainya.

Baca juga:  Yaman Menghadapi Kelaparan Terburuk di Dunia dalam 100 Tahun

Begitu pula problem ketersediaan benih, lanjutnya, termasuk mahalnya benih sehingga para petani tidak bisa dipastikan selalu menanam tanaman bernilai jual tinggi. “Ditambah problem yang tidak kalah peliknya adalah ketika petani mengalami masa panen. Justu kebijakan yang dibuat oleh negara membuat petani harus bersaing dengan produk pangan impor dengan harga jual yang lebih rendah. Banyak sekali kasus di tingkat produsen ini yang harus mengalami kerugian besar ketika panen, karena anjloknya harga produk yang mereka hasilkan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, artinya problemnya berada di ranah yang substansial yaitu regulasi rantai pasok makanan. “Tidak bisa hanya membuat slogan-slogan dan semacam pencanangan tempat-tempat tertentu bahwa tidak akan terjadi kelaparan di sana. Terlebih dengan gerakan yang bersifat individualistik bertumpu pada perilaku seseorang,” tukasnya..

Untuk menyelesaikannya, ia menyampaikan, maka perlu membentuk pribadi yang baik, tidak seperti peradaban demokrasi kapitalisme sekuler yang sukses membentuk pribadi-pribadi yang buruk. “Tentu saja dibutuhkan sebuah sistem bernegara dan bermasyarakat yang berhasil membangun pribadi-pribadi yang baik termasuk dalam menyikapi rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya,” paparnya.

Makin Pelik

Ia mengemukakan, problem makin pelik karena dalam peradaban demokrasi sekuler hari ini negara-negara besar membentuk dirinya menjadi imperialis. “Berusaha menguasai aset dari negara lain termasuk aset lahan di negara lain. Itulah yang terjadi di negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim hari ini. Lahan masyarakat diserobot, makin sempit, bahkan dilegalkan ketika pelakunya adalah negara lain. Regulasi dan perundang-undangan yang ada di negeri-negeri kaum muslimin ternyata justru mempersulit ruang gerak para petani,” cetusnya.

Baca juga:  22 Juta Orang Kelaparan di Era Jokowi, Pengamat: Hanya Islam Solusi Bebas Kepentingan

Ia menilai, inilah bukti kegagalan sistem dunia hari ini dalam mengatasi food hunger. “Sementara mereka selalu memperingati hari pangan setiap tahunnya dalam rangka mengatur pangan ini. Mereka gagal mendistribusikannya secara adil merata ke tengah masyarakat. Regulasi yang ada tidak berhasil mengatur distirbusi pangan,” tegasnya.

Ia menekankan, untuk itu butuh solusi sempurna dalam mengatur regulasi sistem bernegaranya, sistem politik pertaniannya, dan strategi kebutuhan primernya di dalam negara itu. “Jawaban itu hanya akan kita temukan dalam peradaban Islam, sistem Khilafah Islam,” pungkasnya.[MNews/Ruh]

One thought on “[News] Pengamat: Kelaparan Serius di 50 Negara, Problemnya Tidak Hanya di Konsumen

  • 20 Oktober 2021 pada 20:08
    Permalink

    Masyaallah islam mengatur pangan juga

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *