[Fikrul Islam] Realitas dan Persepsi Memengaruhi Naluri Manusia

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM – Naluri berbeda dengan kebutuhan jasmani, walaupun keduanya sama-sama merupakan potensi dinamis yang sama-sama fitri adanya. Kebutuhan jasmani menuntut suatu pemuasan secara pasti, yang jika tidak terpenuhi, manusia akan mati. Berbeda dengan naluri yang menuntut pemuasan, yang bila tidak terpenuhi, dia akan mengalami kegelisahan, tetapi tidak mati, bahkan tetap hidup.

Seorang manusia jika tidak makan atau buang hajat, cepat atau lambat pasti akan mati. Namun jika tidak memenuhi kebutuhan nalurinya, ia tidak akan mati. Misalnya jika ia tidak “berkumpul” dengan perempuan, atau tidak terpenuhi kebutuhan/naluri seksualnya, ia tidak akan mati. Sebab naluri manusia memang tidak mengharuskan (menuntut) pemuasan.

Di samping itu, tuntutan pemuasan kebutuhan jasmani bersifat internal, yakni muncul dari dalam diri manusia itu sendiri, meskipun kadang-kadang dorongan pemuasan itu dipengaruhi oleh suatu rangsangan dari luar. Berbeda halnya dengan naluri manusia yang sama sekali tidak bergerak secara internal untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian, tidak akan muncul perasaan untuk memuaskan kebutuhan naluri, kecuali jika ada rangsangan dari luar.

Jika rangsangan itu muncul dari luar, maka naluri terpengaruh, kemudian muncul perasaan yang menuntut adanya pemuasan. Sebaliknya, jika rangsangan itu tidak ada yang membangkitkan, ia akan tetap terpendam dan tidak akan muncul suatu perasaan untuk mencari pemuasan kebutuhan bagi naluri.

Lapar misalnya, secara alami muncul dari dalam diri manusia dan tidak membutuhkan rangsangan dari luar. Munculnya rasa (lapar) yang membutuhkan pemenuhan itu berasal dari dalam diri manusia. Ia akan merasa lapar, sekalipun tidak ada pengaruh dari luar. Akan halnya pengaruh luar dapat juga membangkitkan rasa lapar, misalnya makanan lezat yang dapat “meneteskan air liur” atau cerita-cerita tentang makanan semacam itu, akan dapat berpengaruh terhadap bangkitnya rasa lapar.

Berbeda halnya dengan keinginan seksual, yang sama sekali tidak akan muncul secara alami dalam diri manusia, melainkan membutuhkan suatu rangsangan dari luar yang dapat membangkitkannya. Oleh karena itu perasaan yang menuntut suatu pemuasan kebutuhan naluri, tidak akan bangkit dari dalam diri manusia itu sendiri, dan ia tidak akan merasakannya selama tidak ada rangsangan dari luar yang membangkitkannya.

Misalnya dorongan biologis untuk “berhubungan” dengan lawan jenis, atau perasaan apa pun yang berkaitan dengan hal itu, tidak akan muncul dalam diri seseorang, kecuali jika ia menyaksikan suatu fakta (realitas), mendengar cerita-cerita tentang fakta tersebut, atau dalam dirinya telah muncul berbagai bayangan yang membentuk persepsi tertentu, sehingga semua itu dapat berpengaruh terhadap suatu perasaan atau hasrat tersebut. Selama belum terdapat kenyataan/pemikiran, perasaan seks tersebut tidak akan muncul.

Oleh karena itu, sebenarnya bukan keberadaan naluri dalam diri manusia yang menimbulkan kegelisahan. Tetapi, dampak perasaan yang menuntut pemuasan itulah yang menyebabkan munculnya kegelisahan. Maka apabila tidak muncul suatu perasaan yang menuntut kebutuhan, disebabkan tidak adanya suatu rangsangan dari luar, tentu tidak terjadi suatu kegelisahan sama sekali. Dengan demikian tidak akan terjadi suatu kegelisahan dalam diri manusia, akibat tidak terpengaruhinya pemuasan kebutuhan seksual; dan tidak akan terjadi penindasan terhadap naluri manusia, jika tidak terwujud suatu kenyataan atau pemikiran yang dapat merangsang naluri tersebut.

Berdasarkan keterangan di atas, usaha-usaha menanamkan ide-ide yang akan membentuk persepsi porno/seksual, seperti karangan-karangan atau cerita-cerita yang berbau seksual adalah termasuk tindakan bodoh dan picik lagi menyesatkan. Begitu juga halnya dengan tindakan memperluas kesempatan terwujudnya suatu kenyataan yang terindra yang dapat memengaruhi naluri mengembangkan dan melestarikan jenis, misalnya dengan mencampur adukkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Ini berarti mewujudkan sesuatu yang dapat membangkitkan perasaan seksual, yang akan menimbulkan kegelisahan yang tetap berlanjut sampai terpenuhinya kebutuhan tersebut. Kemudian, dengan terus-menerus memberikan rangsangan terhadap naluri tersebut maka akan bangkitlah hasratnya untuk senantiasa memuaskan kebutuhannya.

Pada gilirannya ia akan dicengkeram oleh kesibukan aktivitas-aktivitas untuk melampiaskan kebutuhannya. Atau ia akan dicekam kegelisahan, bila pemuasannya tidak terlampiaskan. Inilah suatu bentuk keterbelakangan berpikir dan kesengsaraan yang abadi.

Oleh karena itu, adanya pergaulan yang campur aduk antara laki-laki dan perempuan, adalah suatu tindakan yang paling membahayakan masyarakat. Sebab, hal itu dapat mengakibatkan seseorang akan mencurahkan segenap tenaganya untuk sekadar melampiaskan kebutuhannya, sedangkan otaknya akan dicengkeram oleh persepsi (perasaan) untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, atau ”memaksa” manusia dalam kegelisahan secara terus-menerus. Demikian pula halnya dengan tindakan penyebaran karangan-karangan yang berbau seks.

Islam telah memberi seperangkat pemahaman yang dapat mengatur kecenderungan seksual manusia, secara positif (bersifat dorongan, pent) dengan memberinya seperangkat aturan dalam urusan pernikahan dan segala sesuatu yang terpancar darinya. Islam juga berusaha mencegah dan menjauhkan manusia dari segala hal yang dapat membangkitkan perasaan seksualnya, sementara ia tidak mampu melampiaskan kebutuhannya; dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan dirinya tenggelam dalam kesibukan serta menghabiskan waktunya untuk memikirkan ataupun bergelimang dalam perbuatan-perbuatan pelampiasan kebutuhan seksualnya yang timbul dari naluri mengembangkan dan melestarikan jenis.

Karena itulah Islam mengharamkan khalwat, berduaan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram atau bukan suami-istri. Sebab hal itu akan dapat membangkitkan kecenderungan seksual manusia, yang bila tidak mampu memenuhi kebutuhan naluri sebagaimana aturan yang dipeluknya, akan mendatangkan kegelisahan atau penyelewengan yang sangat keji dari peraturan. Dalil pengharaman khalwat ini sangat tegas, yaitu tercantum dalam hadis sahih di mana Rasulullah saw. bersabda,

“Janganlah salah seorang kamu berkhalwat dengan seorang perempuan, kecuali ia (perempuan itu) bersama mahramnya”.

“Mulai hari ini tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang perempuan secara sembunyi-sembunyi yang suaminya sedang bepergian, kecuali laki-laki itu bersama-sama satu atau dua orang laki-laki lain”.

Dalam hadis lain dijelaskan bahwa setan akan menjerumuskan perempuan dan laki-laki bersama-sama, apabila mereka ber-khalwat, saat itulah setan akan menjadi pihak yang ketiga, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan, karena pihak yang ketiga adalah setan.”

Oleh karena itu, menjadi kewajiban atas kaum muslimin, menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat membangkitkan dan merangsang naluri melestarikan jenis, serta merangsang perasaannya sebagai suatu sikap berserah diri pada perintah-perintah Islam. [MNews/Rgl]

Sumber:

Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

One thought on “[Fikrul Islam] Realitas dan Persepsi Memengaruhi Naluri Manusia

  • 20 Oktober 2021 pada 07:51
    Permalink

    Naluri ttp mengikuti tuntunan Allah dan Rasul agar tdk seperti hewan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *