[News] Sejarawan: Penulisan Sejarah Islam di Nusantara Perlu Pendekatan “Ummah-sentris”

Saat ini, penulisan sejarah Islam di Nusantara lebih Indonesia-sentris untuk melawan Eropa-sentris. Hanya saja, Indonesia-sentris lebih fokus ke teritorial. Padahal, umat Islam itu memiliki ukhuwah Islamiah dan konektivitas dengan umat Islam di berbagai belahan dunia, sehingga perlu pendekatan lain dalam penulisan sejarah, yaitu “ummah-sentris” .

MuslimahNews.com, NASIONALSejarawan muda Nicko Pandawa mengungkapkan, perlu pendekatan lain dalam penulisan sejarah, yaitu “ummah-sentris”.

“Saat ini, penulisan sejarah Islam di Nusantara lebih Indonesia-sentris untuk melawan Eropa-sentris. Hanya saja, Indonesia-sentris lebih fokus ke teritorial. Padahal, umat Islam itu memiliki ukhuwah Islamiah dan konektivitas dengan umat Islam di berbagai belahan dunia, sehingga perlu pendekatan lain dalam penulisan sejarah, yaitu “ummah-sentris”,” jelasnya dalam Fokus Live: “Sejarah, Apa Perlunya?” di kanal YouTube UIY Official, Ahad (17/10/2021).

Menurutnya, boleh menulis sejarah secara subjektif asalkan tidak berbohong dan memanipulasi data. “Hanya saja, persoalannya terletak pada pemikiran dan pisau analisisnya. Kalau mau menulis sejarah Islam, harus paham dengan Islam. Kalau enggak, ambyar,” cetusnya.

Ia menjelaskan, orang-orang yang mengkaji sejarah, peneliti sejarah, atau sejarawan tidak mungkin menulis sejarah Islam hanya bermodalkan memahami data-data sejarah itu sendiri. “Namun, harus memahami tentang Islamnya dulu, seperti akidah Islam, tsaqafah Islamnya, dan lainnya. Kalau tidak melalui hal itu, simpulan sejarahnya bisa keliru,” ungkapnya.

Keterkaitan dengan Khilafah

Ia mencontohkan keterkaitan antara Nusantara dengan khilafah. “Ada orang yang menganggap itu hanya hubungan bilateral dua negara, seperti ekonomi atau perdagangan. Padahal, kalau melihat intisari hubungan umat Islam di Nusantara dengan khilafah bukan karena masalah dagang. Melainkan, karena umat Islam di Nusantara itu memahami fikih bahwa umat Islam itu hanya boleh punya imam yang satu,” urainya.

Baca juga:  [News] Editor JKdN II: Sudah Muncul Planning Baru untuk Produksi Mendatang

“Okelah ada banyak sultan. Namun, para sultan itu tidak merasa yang paling utama di muka bumi. Mereka tetap melandaskan kekuasaannya ada di atas sultan, yaitu khalifah. Oleh sebab itu, banyak sultan di Nusantara yang memberikan loyalitasnya kepada Khilafah Utsmaniyah,” sambungnya.

Untuk itu, ia menerangkan, menilai sejarah itu salah atau benar adalah dengan menelusuri sejarah secara komprehensif dan sikap umat Islam terhadap sejarah itu. “Contohnya isu khilafah. Ada sebagian orang yang merasa antikhilafah. Artinya, ada yang salah dengan penulisan sejarah bangsa ini atau umat ini secara global, tentang bagaimana khilafah itu dulu memiliki pengaruh besar terhadap mereka,” jelasnya.

Ia mengemukakan, di masa lalu sikap leluhur kita itu mendukung khilafah dan merasa menjadi warga negara khilafah.

By Design

Ia menilai, terjadinya keterputusan sejarah ini by design. “Secara faktual negeri kita pernah dijajah bangsa asing, khususnya Belanda. Ketika melihat umat Islam di nusantara mendukung khilafah dan dukungan ini mengganggu kedudukan penjajah yang menjadi penguasa, maka mereka berusaha mendistorsi sejarah atau keterikatan kita kepada khilafah,” tuturnya.

Akhirnya, ia melanjutkan, ditulislah sejarah bangsa kita yang cenderung Eropa-sentris. “Jadi saat kemerdekaan, kekuasaan tidak berada di tangan umat Islam melainkan di tangan nasionalis yang lebih menganggap peradaban itu digdaya di masa yang bukan Islam, seperti Majapahit dan Sriwijaya. Kemudian menjadikannya sebagai tolok ukur dalam membangun identitas keindonesiaan,” urainya.

Baca juga:  #Kamisfilmkhilafah, Tren Tagar soal Film Dokumenter JKdN

Hanya saja, ia menyampaikan, pembangunan identitas itu melupakan unsur Islam. “Orang-orang yang terdidik dengan kurikulum sejarah kaum nasionalis itu akhirnya merasa tidak memiliki dan lupa dengan sejarah yang faktual bahwa negeri ini pernah kuat dengan Islam, dengan khilafah,” paparnya.

Formula

Ia mengatakan, hal tersebut karena Belanda pernah menjajah negeri ini, dan memiliki penasihat, Snouck Hurgronje, yang berhasil membuat formula bagaimana umat Islam itu kuat.

“Snouck berkata di koran Belanda ( 16/07/1916), ‘Apapun yang menyebabkan dihentikannya pemborosan waktu dalam mempersoalkan khalifah, khilafah, dan jihad maka patut diberikan penghormatan setinggi-tingginya.’ Menurut Snouck ada dua faktor yang menyebabkan umat Islam itu kuat dan mampu menggalang kekuatan melawan penjajahan asing, yaitu khilafah dan jihad. Untuk itu, dua hal inilah yang harus dihilangkan dari memori umat, diganti dengan pelajaran kehidupan Barat,” terangnya.

Ia menguraikan, kemudian Snouck menasihati pemerintah Belanda untuk melaksanakan politik Etis di mana pemerintah Belanda itu “katanya” melakukan politik utang budi untuk mendidik penduduk pribumi supaya lebih pintar. “Pintar yang seperti apa? Pintar menurut ideologi Barat dan kehidupan Barat. Akhirnya banyak dari kaum pribumi yang terdidik dengan didikan Barat, melupakan fakta-fakta yang bisa menguatkan mereka dulu yaitu khalifah, khilafah, dan jihad,” tukasnya.

Baca juga:  Editorial: Ingin Khilafah, bukan Sekadar Romantisme Sejarah

Nasionalisme

Ia memaparkan, penanaman pemikiran yang paling intens dilakukan oleh Belanda adalah nasionalisme.”Mengalihkan  loyalitas yang tadinya kepada khalifah di Istanbul, menjadi kepada penjajah atau penguasa dan wilayah yang dikuasai penguasa tersebut. Sebelumnya terpaut kuat dengan khalifah, dialihkan menjadi dengan tanah air yang batas-batasnya dipatok oleh pemerintah kolonial,” cetusnya.

Selain itu, ia mengungkapkan, Snouck sering mengatakan perlawanan kaum muslimin di Nusantara yang berbasis jihad sudah tidak relevan bahkan mengganggu stabilitas politik Balanda. “Padahal pemerintah Belanda sudah berusaha sebaik mungkin menyelenggarakan pendidikan, dan kehidupan yang nyaman bagi rakyat Bumiputera. Belanda pun sudah merasa membayar utang budi dan memberikan pelayanan kepada negara jajahannya. Ketika masih ada yang melakukan perlawanan, akan distempel oleh Belanda sebagai fanatik, pengganggu keamanan, bahkan teroris,” ulasnya.

Ia menekankan, tampaklah intisari dari sejarah Islam di Nusantara adalah perjuangan Islam, spirit Islam, dan keterkaitan mereka dengan khilafah yang sangat kuat. “Jadi dengan mengetahui sejarah, kita bisa mempelajari dan mengantisipasi hal-hal buruk itu terjadi di masa depan,” tandasnya.[MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *