Kritik atas Pandangan Sosialisme tentang Akal

Intelektual sosialis telah membuat kesimpulan mengenai akal bahwa akal merupakan kekuatan yang dihasilkan melalui proses merefleksikan realitas ke dalam otak, ataupun otak ke dalam realitas. Mereka sengaja menolak informasi awal ketika memberikan gambaran mengenai akal. Mereka menyusun argumentasi bahwa akal merupakan kekuatan hasil refleksi. Benarkah?

Penulis: K.H. Hafidz Abdurrahman

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Intelektual sosialis telah membuat kesimpulan mengenai akal, bahwa akal merupakan kekuatan yang dihasilkan melalui proses merefleksikan realitas ke dalam otak atau otak ke dalam realitas. Mereka sengaja menolak informasi awal ketika memberikan gambaran mengenai akal. Mereka menyusun argumentasi, bahwa akal merupakan kekuatan hasil refleksi.

Benarkah akal merupakan kekuatan hasil refleksi otak ke dalam realitas atau sebaliknya? Jawabannya tentu tidak benar, sebab otak maupun realitas tersebut sama-sama tidak dapat melakukan refleksi atau pantulan seperti cermin.

Yang membawa pantulan objek ke dalam otak tersebut sebenarnya adalah indra. Ini terbukti ketika indra yang digunakan untuk menangkap objek itu adalah mata, memori yang tersimpan dalam otak adalah gambar. Berbeda ketika yang menangkap objek tadi adalah hidung, seperti bau busuk, memori yang terekam dalam otak berbentuk bau busuk. Juga berbeda ketika objek yang ada ditangkap dengan telinga, seperti bunyi mobil, memori yang tersimpan dalam otak pun berbentuk bunyi. Demikian seterusnya.

Inilah yang mereka sebut sebagai refleksi. Yang benar, semuanya tadi adalah hasil pengindraan manusia. Refleksi tersebut sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada adalah transformasi objek ke dalam otak dalam bentuk memori.

Baca juga:  Keistimewaan yang Ketiga bagi Manusia: Akal dan Pikiran

Dengan pandangan tersebut, sebenarnya intelektual sosialis mengakui bahwa komponen akal yang dapat digunakan untuk berpikir tersebut adalah: (1) otak, (2) realitas yang dapat diindra, dan (3) pengindraan, yang mereka sebut dengan “refleksi”.

Sedangkan alasan mereka menolak adanya informasi awal, sebenarnya lebih disebabkan karena akidah mereka yang tidak mau mengakui eksistensi Tuhan. Sebab, mengakui adanya informasi awal berarti mengakui bahwa adanya pemikiran lebih dahulu dibanding dengan adanya realitas.

Dari sini akan muncul pertanyaan, dari mana datangnya pemikiran manusia yang pertama? Sebab, kalau hal itu diakui, berarti harus ada Zat di luar diri manusia yang memberikan pemikiran tersebut, dan Zat itu juga bukan merupakan realitas itu sendiri.

Tentu saja ini bertentangan dengan akidah mereka yang menyatakan bahwa alam atau realitas yang ada adalah azali, tidak memerlukan zat di luar dirinya. Dengan demikian mereka membuat andaian, bahwa manusia pertama telah melakukan eksperimen untuk mendapatkan informasi.

Benarkah manusia dapat berpikir tanpa informasi awal? Anak kecil atau orang dewasa yang gila adalah contoh terbaik untuk membuktikannya. Anak kecil dan orang gila otaknya sama-sama tidak sempurna. Masing-masing otak mereka tidak dapat digunakan untuk mengasosiasikan antara informasi awal dengan memori yang ditransfer oleh alat indra mereka.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Idrak (Pemikiran) Bagian 3/3

Akibatnya, baik anak kecil maupun orang gila tersebut, sama-sama tidak dapat membedakan realitas yang ada di depannya. Ketika anak kecil memegang batu, batu tersebut akan dimakan, dan orang gila pun akan melakukan hal yang sama. Masing-masing mempunyai otak, tetapi benarkah dengan otak mereka masing-masing realitas di depan mereka secara otomatis dapat disimpulkan?

Ternyata tidak. Jika ada orang gila yang dapat melakukannya, tentu karena sisa memori yang masih terdapat dalam otak mereka. Sementara anak kecil tadi sama sekali tidak dapat melakukan apa-apa. Contoh lain, ketika anak kecil tersebut diberi kosakata yang salah, seperti buang air besar dinyatakan dengan menyanyi, maka sampai besar anak tersebut akan berkesimpulan bahwa menyanyi adalah buang air besar. Semuanya ini merupakan pengaruh informasi awal pada diri manusia.

Gambaran ini terlihat dari penjelasan Allah kepada Malaikat, ketika mereka memprotes Allah Swt. terhadap penciptaan Adam. Menurut mereka, manusia hanya akan menimbulkan kerusuhan di muka bumi. Allah kemudian membantah seraya menyatakan, “Aku Mahatahu tentang apa yang kamu tidak tahu.”  

Allah pun kemudian membuktikan pernyataan-Nya,

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ

Baca juga:  Keistimewaan yang Ketiga bagi Manusia: Akal dan Pikiran

قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

قَالَ يٰٓاٰدَمُ اَنْۢبِئْهُمْ بِاَسْمَاۤىِٕهِمْ ۚ فَلَمَّآ اَنْۢبَاَهُمْ بِاَسْمَاۤىِٕهِمْۙ قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۙ وَاَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ

Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian mengajukannya kepada Malaikat seraya berfirman, ‘Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka semuanya jika kamu benar (dengan tuduhan kamu, bahwa kamu lebih tahu).” Mereka menjawab, Mahasuci Engkau, kami tidak mempunyai ilmu sedikit pun, kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Bijaksana.’ Dia berfirman, ‘Wahai Adam, sampaikanlah kepada mereka nama-nama mereka semua.’ Apabila Adam selesai menyebutkan kepada mereka nama-nama semuanya itu, Dia berfirman, ‘Bukankah Aku telah beritahukan kepada kamu, bahwa Aku Maha Tahu perkara gaib di langit dan di bumi, serta Mahatahu apa yang kamu kemukakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (QS Al-Baqarah: 31—33).

Ayat di atas, dengan jelas membuktikan, bahwa Malaikat tidak bisa membuat kesimpulan mengenai realitas yang ditunjukkan oleh Allah, sedangkan Adam dapat melakukannya setelah Adam diberi informasi oleh Allah, sedangkan malaikat tidak diberi informasi terlebih dahulu oleh Allah. Dengan demikian jelas, bahwa tidak ada satu pun manusia yang dapat mengambil kesimpulan tanpa mempunyai informasi awal. [MNews/Rgl]

Sumber: Islam Politik & Spiritual, Hafidz Abdurrahman

One thought on “Kritik atas Pandangan Sosialisme tentang Akal

  • 20 Oktober 2021 pada 07:30
    Permalink

    Dasar aqidahnya hasil pemikiran manusia maka akan pasti salah dan tdk terjangkau

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *