[Fikrul Islam] Peran Insting dalam Identifikasi

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM – Banyak orang mencampuradukkan antara pemikiran dengan identifikasi yang berasal dari naluri. Mereka tidak mampu membedakan keduanya, sehingga terperosok dalam kekeliruan yang kadang menggelikan dan menyesatkan.

Ada yang beranggapan bahwa anak kecil ketika dilahirkan sudah memiliki akal dan pemikiran. Ada pula yang menganggap bahwa hewan pun memiliki pemikiran. Banyak juga yang tersesat dalam mendefinisikan pemikiran, lantaran tidak dapat membedakan antara pemikiran dan identifikasi yang berasal dari naluri.

Kekeliruannya terletak dalam memahami maksud dari akal. Oleh karena itu, penjelasan mengenai identifikasi yang berasal dari naluri merupakan hal yang penting sekali, sebagaimana halnya penjelasan mengenai maksud akal, pemikiran, dan kesadaran.

Identifikasi yang berasal dari naluri terjadi pada diri hewan akibat berulangnya pengindraan terhadap suatu realitas. Hal ini bisa dikarenakan hewan memiliki otak dan indra, sebagaimana halnya manusia. Hanya saja, otak hewan tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin informasi/kenyataan, yang ada hanyalah pusat indra.

Jadi, hewan tidak memiliki informasi-informasi sebelumnya yang dapat dikaitkan dengan indra atau realitas. Yang ada pada hewan itu hanyalah perasaan terhadap kenyataan [insting, ed.]. Perasaan ini akan terulang lagi saat terjadi pengindraan terhadap realitas.

Pengulangan ini bukan merupakan usaha mengaitkan, tetapi hanya sebagai reaksi pusat indra akibat terjadinya pengindraan terhadap realitas pertama atau realitas baru yang berhubungan dengan realita pertama. Akibat pengulangan ini terjadilah identifikasi yang berasal dari naluri, yaitu yang menentukan tingkah laku hewan tersebut terhadap pemuasan naluri atau kebutuhan jasmani. Tingkah laku ini hanya untuk memilih antara memenuhi atau tidak memenuhi kebutuhannya, tidak lebih dari itu.

Dengan demikian yang terjadi pada diri hewan hanyalah pengindraan terhadap realitas, tanpa memerhatikan berapa kali dan dalam bentuk apa terjadinya pengindraan ini. Pengindraan inilah yang mendorong hewan tersebut untuk memenuhi atau tidak memenuhi kebutuhannya.

Misalnya, apabila kepada seekor hewan atau burung disodorkan makanan, maka hewan atau burung itu akan membedakan mana yang dapat dimakan atau tidak, baru kemudian hewan atau burung itu menentukan sikapnya terhadap makanan tersebut; apakah akan dimakan atau ditolaknya, tidak lebih dari itu. Apabila tercapai identifikasi dari segi pemenuhan maka hewan itu akan merasa puas sehingga tidak melakukan sesuatu yang lain lagi dan tidak mengusahakan lebih dari itu.

Contohnya apabila seekor kuda disodori gandum dan seonggok tanah, maka kuda itu akan mencoba-coba mengetahui mana di antara keduanya yang dapat memenuhi pemuasan. Apabila kuda itu merasakan bahwa gandum itu dapat memuaskan kebutuhannya dan bukan pada tanah, akan terbentuk pada perasaan kuda itu bahwa gandum dapat memuaskan kebutuhannya; sedangkan tanah tidak. Maka sejak saat itu, kuda ini tidak lagi menggubris onggokan tanah dan akan memakan gandum ketika lapar.

Identifikasi yang berasal dari naluri seperti ini terjadi pada diri hewan melalui percobaan yang terjadi dengan perantaraan indra. Percobaan ini cukup dilakukan hanya sekali, baik hewan itu sendiri yang melakukannya atau hewan lain yang disaksikannya. Begitu pula percobaan itu dilakukan terhadap satu benda atau terhadap beberapa benda yang berbeda-beda.

Semua ini menghasilkan identifikasi yang berasal dari naluri. Hanya saja percobaan terhadap satu benda lebih menonjol pada diri hewan dari pada percobaan terhadap beberapa benda lainnya. Pada diri hewan tersebut mungkin saja dapat melakukan berbagai percobaan seperti yang dilakukan terhadap gandum dan tanah, atau terhadap rasa pahit, manis, dan masam.

Mungkin pula terjadi beberapa percobaan yang rumit sehingga menghasilkan pengulangan pengindraan yang mirip dengan berpikir. Akan tetapi pada hakikatnya hanyalah suatu pengulangan terhadap apa yang telah diindra, bukan mengaitkan informasi-informasi.

Contohnya, adalah usaha (percobaan) pencurian telur oleh tikus. Suatu ketika ada dua ekor tikus masuk ke sebuah toko telur, tikus yang satu terlentang dan yang lainnya mendorong telur ke perut tikus yang terlentang tadi. Kemudian tikus tersebut mencengkeramkan dua kakinya pada telur dan tikus kedua menariknya dari ekornya sampai ke sarangnya, sehingga keduanya dapat meletakkan telur tersebut di dalamnya. Kemudian dua tikus itu melakukan hal yang sama dalam bentuk seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Usaha ini memang rumit, tetapi dihasilkan dari percobaan-percobaan dan pengulangan pengindraan, bukan dengan mengaitkan informasi-informasi. Percobaan ini hanya berkaitan dengan pemuasan terhadap kebutuhannya atau berhubungan dengan apa yang dapat memuaskannya.

Jadi kasus tikus ini tidak akan terjadi terhadap benda yang tidak dimakan olehnya. Walaupun dapat terjadi pada selain telur, asal dapat dimakan (memuaskannya).

Apa yang terjadi pada tikus dan kuda di atas dapat terjadi pada binatang-binatang lain seperti monyet, unta, dan sebagainya. Dan apa yang dilakukan itu bukan suatu pemikiran, melainkan identifikasi yang berasal dari naluri yang khusus berkenaan dengan sesuatu yang dapat memuaskan kebutuhannya saja dan tidak akan melampauinya.

Hal ini berarti hewan tidak mungkin sampai mengetahui hakikat sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya dan yang tidak. Oleh karena itu hal ini merupakan identifikasi yang berasal dari naluri semata, dan tidak menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan pemikiran, atau kesadaran.

Kejadian yang mirip dengan hewan, terjadi pula pada seorang anak yang baru dilahirkan, meskipun di dalam otaknya terdapat potensi untuk mengaitkan informasi-informasi, namun anak itu belum memperoleh informasi tersebut yang harus ia pertautkan dengan indra dan realitas yang baru, sehingga bisa membedakannya. Oleh karena itu pada diri anak tersebut tidak terjadi pemikiran, akal atau kesadaran. Melainkan hanya identifikasi yang berasal dari naluri belaka terhadap sesuatu yang memberi kepuasan atau tidak.

Hal ini tidak memberinya pengetahuan tentang hakikat sesuatu yang telah dapat ia identifikasi sebagai hal-hal yang dapat memberinya kepuasan. Si anak tersebut tidak tahu hakikat sesuatu yang dapat memuaskannya atau tidak. Yang terjadi hanyalah identifikasi yang berasal dari naluri sebatas apakah benda tersebut memuaskannya atau tidak.

Apabila anda menyodorkan ke hadapan anak buah apel dan batu, ia akan mencoba salah satunya. Mana yang ia temukan mengenyangkan ia makan, dan yang tidak, ia buang. Dari percobaan ini ia mengambil buah apel dan membuang batu dengan identifikasi yang berasal dari naluri yang terjadi pada percobaan tadi saja. Sebab informasi belum ada pada dirinya.

Apabila informasi telah diperoleh, maka secara alami ia akan menggunakannya. Sebab kemampuan mempertautkannya merupakan bagian dari bentukan otak. Pengindraannya terhadap sesuatu secara pasti terikat dengan dijalinnya informasi sebagai suatu keharusan.

Oleh karena itu adanya persepsi terhadap sesuatu terikat secara pasti dengan penginderaan terhadapnya. Pada saat itulah terdapat pada diri anak kecil tersebut pemikiran, akal, atau kesadaran segera setelah memperoleh informasi yang dapat dipertautkan.

Berdasarkan hal ini, yang dimaksud dengan identifikasi yang berasal dari naluri adalah pengindraan terhadap realitas melalui indera, sehingga terjadi pembedaan terhadap sesuatu, apakah ia mengenyangkan atau tidak.

Berbeda halnya dengan pemikiran, ia adalah penangkapan terhadap suatu kenyataan dengan perantaraan indra ke otak disertai adanya informasi-informasi yang diperoleh sebelumnya yang dapat menjelaskan kenyataan tersebut. Dengan kata lain pemikiran itu adalah pengambilan keputusan terhadap sesuatu (mengetahui hakikatnya). Sedangkan identifikasi yang berasal dari naluri tidak lain adalah penjelasan apakah suatu benda mengenyangkan atau tidak. [MNews/Rgl]

Sumber: Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *