Aparat Represif dan Rezim Antikritik, Mahasiswa Harus Bangkit!

Perubahan yang diinginkan mahasiswa tak akan terwujud dalam demokrasi, yang ada justru demokrasi melanggengkan kezaliman demi kezaliman. Perubahan kondisi negeri hanya akan terwujud dengan perubahan sistem, dari demokrasi kapitalisme menjadi Islam. Inilah proyek perubahan yang harus diperjuangkan para mahasiswa.

Penulis: Nida Alkhair

MuslimahNews.com, OPINI—Viral, sebuah video menunjukkan kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian saat mengamankan demo mahasiswa di Pemkab Tangerang, Banten, Rabu (13/10/2021). Insiden polisi membanting mahasiswa hingga kejang-kejang dan pingsan ini, sontak mendapat kecaman publik. Masyarakat tak hanya menuntut tersangka diberi sanksi tegas, tetapi juga meminta Kapolresta Tangerang mundur dari jabatannya.

Kasus kekerasan oleh aparat terhadap pendemo ini bukanlah kasus tunggal. Berbagai peristiwa kekerasan yang melibatkan anggota polisi kerap terjadi.

Berdasarkan catatan KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), terdapat 814 kasus tindak kekerasan yang diduga melibatkan anggota polisi sepanjang 2020 hingga September 2021. KontraS menilai ada eskalasi pembiaran di tingkatan internal dan eksternal kepolisian yang melegitimasi rentetan aksi tindak kekerasan (BBC Indonesia, 14/10/2021).

Demokrasi Antikritik

Sikap represif terhadap pendemo acapkali terjadi. September lalu, beberapa mahasiswa UNS yang membentangkan poster berisikan pesan agar Presiden Jokowi membenahi KPK, ditangkap oleh aparat. Meski akhirnya para mahasiswa tersebut dilepaskan, penangkapan ini telah mendapat sorotan tajam dari publik.

Hal tersebut menunjukkan, bahwa rezim ini antikritik. Meski unjuk rasa dilakukan secara damai dan sopan seperti yang terjadi di UNS, sikap rezim tetap represif. Prosedur pengamanan unjuk rasa yang harusnya tetap menghormati hak warga negara untuk menyampaikan aspirasi, tak diindahkan lagi.

Baca juga:  Kebutuhan Pemuda Berjuang Tegakkan Khilafah

Padahal, rakyat berhak menyampaikan kritik kepada pemerintah. Negara ini tegak karena ada kesepakatan rakyat. Para penguasa bisa memimpin negeri ini juga karena rakyat bersedia memberi mereka kekuasaan.

Oleh karena itu, penguasa memiliki tanggung jawab untuk melayani dan mengayomi rakyat, bukan justru bersikap represif. Ketika hasil kerja para penguasa mendapatkan kritik dari rakyat, hal itu haruslah dipandang secara positif. Artinya, rakyat turut peduli pada kondisi negara yang tidak baik-baik saja. Kritik ada untuk diapresiasi dan ditindaklanjuti dengan perbaikan, bukan justru dibungkam demi menjaga citra diri.

Pernyataan “kangen didemo” seharusnya bukan sekadar pemanis bibir. Namun, direalisasikan dengan menerima pendemo, mendengar aspirasi mereka, dan melakukan perbaikan nyata. Sayangnya, realitas di negeri ini tak seperti yang dicitrakan para pejabatnya.

Negeri ini, yang menahbiskan diri sebagai negara demokrasi, ternyata justru antikritik. Padahal, katanya, demokrasi itu pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Katanya, kebebasan berpendapat dijamin undang-undang, tetapi kok rakyat demo malah ditangkapi?

Padahal, rakyat melakukan demonstrasi karena saluran resmi sudah tak berfungsi. Salah satu pilar demokrasi, yakni Dewan Perwakilan Rakyat, yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat, justru menutup mata, telinga, dan hatinya dari jeritan rakyat.

Baca juga:  Omnibus Disahkan Buru-Buru, Siapa yang Diburu?

Para wakil rakyat abai terhadap suara rakyat. Mereka justru sibuk merapat ke gerbong rezim, demi mendapatkan cipratan keuntungan materi. Padahal gaji dan tunjangan dari negara sudah sangat besar, tetapi masih tak cukup untuk memuaskan kerakusan.

Perubahan Sistem

Syukurlah ada mahasiswa yang masih peduli kondisi negeri, pada saat para wakil rakyat mendadak buta dan tuli. Syukurlah para mahasiswa masih mau bersuara, meski terbelit UKT yang tak murah dan tekanan ekonomi yang kian berat. Syukurlah para mahasiswa berani menanggung risiko perjuangan, mulai dari diciduk hingga dibui.

Demikianlah seharusnya sikap para mahasiswa (pemuda), mereka adalah pemimpin perubahan untuk menumbangkan kezaliman dan mewujudkan keadilan. Mereka adalah pelopor perubahan dari sistem yang sewenang-wenang menuju sistem yang menebarkan rahmat untuk seluruh alam.

Para mahasiswa layaknya para pemuda sahabat Rasulullah saw., yang di usia belia berani berdakwah melawan kezaliman penguasa Quraisy Makkah. Namun, para mahasiswa harus belajar dari sikap represif rezim, bahwa rezim bersikap demikian untuk menjaga eksistensi sistem demokrasi.

Para mahasiswa tak boleh terkecoh dengan pencitraan rezim dan sistem demokrasi. Seolah-olah aspiratif, tetapi ternyata suka “menggebuk”. Para mahasiswa harus menyadari bahwa hakikat demokrasi adalah pemerintahan yang berkhidmat kepada para kapitalis, bukan kepada rakyat.

Baca juga:  Demonstrasi Mahasiswa, Harus Berujung pada Perubahan Besar dan Mendasar

Perubahan yang diinginkan mahasiswa tak akan terwujud dalam demokrasi, yang ada justru demokrasi melanggengkan kezaliman demi kezaliman. Perubahan kondisi negeri hanya akan terwujud dengan perubahan sistem, dari demokrasi kapitalisme menjadi Islam. Inilah proyek perubahan yang harus diperjuangkan para mahasiswa.

Seruan

Wahai para mahasiswa, jadilah pejuang Islam, penuhilah hadis Nabi Muhammad saw.,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ : الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ

“Tujuh (golongan) yang Allah naungi di hari yang tidak ada naungan melainkan naungan dari-Nya, (yaitu) pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Tuhannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Jadilah seperti Mush’ab bin Umair ra., pemuda yang istikamah mendakwahkan Islam di Madinah, hingga sistem Islam tegak di dalamnya. Jadilah Seperti Usmah bin Zaid, pemuda yang memimpin para sahabat senior untuk menumbangkan kezaliman. Juga, jadilah seperti Ali bin Abi Thalib, pemuda yang totalitas dalam melawan tirani, hingga rela bertaruh nyawa menggantikan Rasulullah saw. untuk menjadi target rezim.

Dengan demikian, untuk mampu melawan kezaliman, para mahasiswa harus bangkit. Memiliki ketinggian pemikiran dengan ideologi Islam, sehingga bisa merumuskan arah perjuangan yang benar. Sesungguhnya, kebangkitan yang dicita-citakan itu hanya ada dalam sistem Islam, maka perjuangkan! Wallahu a’lam. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *