Fikrul Islam

[Fikrul Islam] Pemikiran dan Kesadaran

Pemikiran, akal, dan kesadaran, pengertiannya sama, yaitu penangkapan suatu kenyataan dengan perantaraan indra ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut—yang berfungsi menafsirkannya. Bagaimana pemikiran ini bisa terwujud?

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM Pemikiran, akal, dan kesadaran pengertiannya adalah sama dan merupakan nama-nama yang berbeda untuk satu sebutan. Kadang-kadang digunakan kata pemikiran dan yang dimaksud adalah proses berpikir. Dapat digunakan dengan maksud hasil pemikiran, yakni suatu yang telah sampai pada manusia melalui suatu proses berpikir.

Pemikiran dengan arti proses berpikir, tidak memiliki organ tubuh tertentu yang dapat ditunjuk, melainkan merupakan suatu proses yang rumit yang melibatkan empat unsur yaitu: fakta yang terindra, pancaindra manusia, otak manusia, dan informasi sebelumnya yang berkaitan dengan fakta tersebut dan dimiliki oleh manusia.

Jika keempat unsur tersebut tidak terkumpul dalam suatu proses berpikir, pemikiran, akal, dan kesadaran tidak pernah terwujud. Oleh karena itu, orang-orang terdahulu telah mengalami suatu kekeliruan dalam membahas hakikat akal. Di mana mereka mencoba berusaha menentukan tempat keberadaannya, apakah ada di kepala, di hati, atau tempat lainnya. Yang jelas mereka menduga bahwa akal adalah suatu organ tertentu dalam tubuh, atau bahwa akal itu memiliki organ tertentu yang bekerja secara aktif.

Orang-orang modern pun telah melakukan kekeliruan, tatkala menjadikan otak sebagai tempat bersemayamnya akal, sekaligus sebagai pusat kesadaran, atau pemikiran. Baik mereka itu yang berpendapat bahwa pemikiran adalah refleksi otak terhadap kenyataan ataupun yang mengatakan sebaliknya bahwa pemikiran adalah refleksi kenyataan ke otak.

Sebab otak adalah salah satu organ sebagaimana organ tubuh yang lain. Tidak ada suatu refleksi apa pun yang terdapat padanya. Sebab yang dimaksud dengan refleksi adalah memantulnya cahaya pada suatu benda atau memantulkan suatu benda yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk direfleksikan; yang disertai adanya cahaya.

Misalnya, cahaya lampu listrik yang mengenai suatu benda dipantulkan kembali oleh benda tersebut, sehingga tampaklah bersama-sama dengan cahaya itu. Demikian juga dengan cahaya matahari, bulan, dan cahaya-cahaya lainnya.

Baca juga:  Keterikatan pada Hukum Syarak Merupakan Dasar Terpenting bagi Tegaknya Daulah dan Kehidupan Individu (Bagian 1/2)

Atau sampainya gambaran suatu benda pada cermin disertai dengan adanya cahaya, maka terjadilah pemantulan cahaya, sehingga terjadi pemindahan gambar benda itu pada cermin, dan terlihat sebagaimana adanya. Pantulan gambaran benda itu seolah-olah tergambar di balik cermin (bayangan maya) sampai bisa dilihat.

Padahal sebenarnya hal itu tidak tergambar di sana. Yang terjadi adalah refleksi (pencerminan), sebagaimana refleksi cahaya terhadap benda apa saja. Inilah yang dimaksud dengan refleksi.

Dalam proses berpikir, tidak terjadi suatu refleksi apa pun, tidak menghasilkan suatu refleksi, dan tidak ada refleksi kenyataan terhadap otak. Yang jelas di sini tidak ada suatu bentuk refleksi sama sekali. Adapun mata yang disangka dengan perantaraannya dapat menimbulkan suatu refleksi, ternyata tidak terjadi dan tidak menghasilkan apa pun.

Yang terjadi adalah suatu pencerapan. Sebab suatu benda yang terlihat, tidaklah terpantul gambarnya keluar. Yang terjadi adalah suatu pencerapan dengan sampainya gambaran benda tersebut.

Jika gambaran benda yang tampak itu tercerap dan terdapat di bagian dalam mata, maka terlihatlah benda itu. Tidak mungkin terjadi suatu pemantulan di bagian belakang mata, dan tidak mungkin terjadi atau dihasilkan suatu pantulan.

Dengan demikian, otak bukanlah tempat bersemayamnya akal atau pemikiran. Yang sebenarnya terjadi adalah suatu perpindahan gambaran tentang fakta yang terindra oleh otak melalui perantaraan indra manusia yang lain.

Jenis “gambar” tersebut tergantung pada indra yang memindahkannya. Bila indra yang digunakan adalah indra penglihatan (mata), maka yang akan sampai adalah bentuk gambarnya. Jika yang digunakan adalah indra pendengaran, maka yang akan sampai adalah “gambaran” suara. Dan jika yang digunakan adalah indra penciuman, maka yang akan sampai adalah “gambaran” baunya, demikian seterusnya. Jadi fakta itu tergambar sebagaimana yang sampai ke otak atau sesuai dengan gambar yang disampaikan.

Dengan demikian terjadinya suatu pengindraan terhadap fakta belaka, belum merupakan suatu pemikiran. Yang terjadi hanyalah suatu identifikasi yang berasal dari naluri; apakah hal itu mengenyangkan, menyakitkan, menggembirakan, memberi kenikmatan atau sebaliknya, dan lain sebagainya, tidak lebih dari itu. Di sini belum terjadi pemikiran.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Idrak (Pemikiran) Bagian 3/3

Namun demikian, jika informasi sebelumnya berkaitan dengan fakta tersebut, di sini akan terjadi jalinan dengan daya ingat yang ada dalam otak manusia terhadap kenyataan yang diindra dan telah tergambar dalam otak, maka terjadilah suatu proses berpikir, dan selanjutnya menghasilkan kesadaran terhadap hakikat benda tersebut.

Jika tidak ada informasi sebelumnya, tidak mungkin mengetahui hakikat benda tersebut, yang ada hanyalah semata-mata pengindraan atau sekadar identifikasi yang berasal dari naluri–seperti apakah hal itu mengenyangkan atau tidak, tak lebih dari itu–dan tidak akan menghasilkan suatu pemikiran.

Dengan demikian, proses berpikir tidak akan berlangsung, kecuali dengan terwujudnya empat unsur, yaitu: fakta yang diindra, satu atau beberapa alat indra, otak, dan informasi sebelumnya yang berkaitan dengan benda yang diindra. Jika salah satu dari keempat unsur tadi tidak ada, maka sama sekali tidak akan terjadi suatu proses berpikir.

Usaha berpikir yang dilakukan tanpa adanya fakta yang diindra atau tidak adanya informasi sebelumnya, adalah suatu khayalan/imajinasi yang tidak ada wujudnya, dan bukan merupakan suatu pemikiran. Hanyut dalam khayalan dengan menjauhkan diri dari fakta yang terindra atau informasi sebelumnya tentang masalah tersebut, akan menjerumuskan kepada ilusi dan kesesatan. Bahkan mungkin akan menyebabkan kerusakan otak, sehingga tertimpa bencana tidak waras, epilepsi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, haruslah terdapat fakta yang terindra dan informasi sebelumnya di samping adanya alat indra dan otak manusia.

Jadi pemikiran, akal, dan kesadaran adalah penangkapan suatu kenyataan dengan perantaraan indra ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya. Dikatakan penangkapan kenyataan bukan gambarnya. Sebab yang ditangkap adalah pencerapan fakta, bukan gambaran fakta tersebut seperti halnya gambar fotografi (potret) yang merupakan gambar suatu kenyataan yang dapat diindra. Maka lebih tepat jika dikatakan sebagai penangkapan fakta, daripada memindahkan gambaran fakta. Sebab, gambar suatu yang ditangkap adalah pencerapan fakta bukan sekadar gambarnya.

Baca juga:  Ilmu dan Tsaqâfah

Itulah definisi pemikiran, akal, dan kesadaran. Proses ini terjadi dalam diri si pemikir yang menghasilkan pemikiran, bukan yang menerima pemikiran. Sebab dalam diri orang yang menerima pemikiran tidak berlangsung proses ini karena pemikiran itu telah ditemukan lalu menghilang. Kemudian, si penemu itu memberikan kepada orang banyak, dan terus berpindah di kalangan manusia, yang kemudian mereka ekspresikan dengan simbol-simbol bahasa atau simbol-simbol lainnya. Meskipun yang paling menonjol adalah ekspresi dalam bentuk bahasa.

Suatu pemikiran yang disampaikan kepada seseorang perlu dilakukan langkah-langkah peninjauan sebagai berikut: Jika pemikiran tersebut memiliki fakta yang dapat diindra dan sebelumnya telah diindra oleh orang tersebut, atau ia mengindranya pada saat menerima pemikiran itu; atau ia belum pernah mengindranya baik sebelumnya atau saat ia menerima pemikiran itu, tetapi dapat membayangkan dalam benaknya sebagaimana yang disampaikan kepadanya, lalu ia membenarkan dan menjadikannya fakta dalam benaknya, seolah-olah telah mengindra dan menerimanya seperti fakta yang benar-benar terindra, maka dalam dua keadaan seperti ini ia telah menyadarinya. Dengan adanya fakta tersebut, terbentuklah dalam benaknya suatu persepsi (mafhum) dan menjadi suatu pemikiran yang nyata seolah-olah dia sendiri yang menghasilkan pemikiran itu.

Akan tetapi jika belum terdapat suatu kenyataan pada diri orang yang menerimanya, kendati telah memahami rangkaian kalimat, pemikiran, dan apa yang dimaksud dengan pemikiran itu, tetapi pemikiran itu belum mempunyai fakta dalam benaknya, baik dengan mengindranya, meyakininya, atau menerimanya, maka ia merupakan informasi (maklumat) belaka. Dengan kata lain sekadar pengetahuan tentang berbagai benda saja, sekalipun itu merupakan pemikiran, ditinjau dari keberadaan unsur-unsurnya, tetapi bagi orang yang belum memahami realitasnya tidak lebih dari pengetahuan saja.

Oleh karena itu yang dapat berpengaruh pada diri manusia bukanlah informasi melainkan persepsi. Sebab persepsi merupakan pemikiran-pemikiran dalam benak orang-orang yang memahaminya. Karena itu, adalah suatu keharusan untuk mengetahui hakikat pemikiran agar dapat diketahui bagaimana pemikiran itu dapat mempengaruhi manusia. [MNews/Rgl]

Sumber: Al-Fikru Al-Uslamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam),  Muhammad Ismail.

2 komentar pada “[Fikrul Islam] Pemikiran dan Kesadaran

  • Karsimah Sari

    Dari pemikiranlah membangkitkan seseorang

    Balas
  • Ummayyaa

    MasyaaAllah musti dibaca berulang barulah paham… Penting sekali kita belajar pemikiran Islam agar tidak terjebak pada pemikiran yang menyesatkan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *