[Resensi Buku] Gempuran Ideologi Asing tatkala Islam Terasing

Berbahagialah orang-orang yang terasing, yaitu mereka yang konsisten dengan syariat Islam sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya, perlawanan dan keteguhan seorang muslim serta pengingkaran mereka terhadap kaum yang menyelisihinya, akan berbuah manis pada waktunya.

Judul buku: Islam yang Terasingkan

Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

MuslimahNews.com, RESENSI BUKUAdalah thabi’i, ketika suatu ideologi ingin bertahan hidup beragam upaya pun akan dilakukan. Termasuk saat ini, ideologi kapitalisme sedang mencoba suatu ide baru dalam rangka mempertahankan eksistensinya. Ide ini memiliki motif kelahiran yang tetap sama dengan kakak kandungnya—sekularisme—yang tak lain demi melawan dan menghancurkan Islam. Ide tersebut bernama Islam moderat.

Memang, di setiap masa, pertarungan antara yang hak dan yang batil adalah sunatullah. Hal ini sejatinya akan memperlihatkan kepada seluruh manusia, bahwa hanya yang hak yang layak dipilih. Namun, apa jadinya ketika yang batil sudah terbalut topeng moderasi?

Tak pelak, dalam lensa moderasi, Islam justru tampak ekstrem, radikal, dan keras. Ini karena moderasi mencoba menurunkan standar Islam dari yang sejatinya aturan kafah menjadi terlihat lebih ramah. Namun, akibat lain yang tak kalah berbahaya, ternyata upaya ini sekaligus menuding Islam sebagai agama intoleran. Pada titik inilah kemudian Islam di masa modern menjadi terasing. Para pejuang Islam kafah pun acapkali dirundung kriminalisasi.

Baca juga:  Perang Melawan Islam Kafah di Balik Kurikulum Moderasi Beragama

Ini semua adalah gempuran kapitalisme—selaku ideologi asing—yang tak akan pernah berhenti melakukan terobosan baru untuk terus menguliti Islam agar tidak dapat tampil kafah, serta membuat ragu kaum muslimin terhadap agamanya sendiri.

Terasing

Pada masa lalu, Islam juga pernah terasing, bahkan saat khilafah masih tegak. Buku ini menceritakan masa berkuasanya Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saat itu, sebagian ajaran Islam terasing dari masyarakat, bahkan mayoritasnya tidak mengetahui haramnya khamr. Melalui masa kekuasaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Allah Swt. menampakkan kembali apa-apa yang telah terasing tersebut.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi amirulmukminin ketika muka bumi penuh kezaliman. Memang beliau menjabat hanya sekira 2,5 tahun. Namun, dalam waktu pemerintahannya yang singkat itu, beliau berhasil menghancurkan berbagai kezaliman yang ada. Beliau juga selalu berusaha keras menghidupkan ilmu, menyebarkan dakwah, dan membela Islam. Umar bin Abdul Aziz sangat mirip dengan kakeknya, yaitu Umar bin Khaththab ra. dalam hal kezuhudan, kegigihan, serta ketekunannya dalam mempelajari dan menegakkan Islam.

Kisah Umar bin Abdul Aziz adalah sebuah potret bersejarah, bahwa seorang muslim tidak boleh bersikap lemah dengan sedikitnya jumlah orang yang memahami dan membela Islam. Sebagaimana hadis,

Baca juga:  Membingkai Takwa dengan Islam Kafah

“Sesungguhnya Allah Swt. akan mengutus kepada umat ini setiap 100 tahun sekali, orang yang akan melakukan pembaruan agama.” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim).

Makna tajdid (pembaruan agama) adalah menghidupkan kembali amal perbuatan yang telah lenyap dari nilai-nilai Al-Qur’an dan sunah, serta membunuh bidah. Pengertian hadis tersebut juga berlaku umum untuk seluruh ahli ilmu dari kelompok apa pun dan setiap golongan ulama, baik ulama tafsir, hadis, fikih, nahu, lughah (bahasa), dan golongan lainnya. Hal ini menjadi penting, karena memang ketika terjadi keterasingan, orang-orang sebenarnya sangat membutuhkan petunjuk dan dakwah Islam.

Demikianlah, telah sangat jelas hadis Rasulullah ﷺ,

“Islam akan datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim).

Berbahagia

Berbahagialah orang-orang yang terasing, yaitu mereka yang konsisten dengan syariat Islam sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya, perlawanan dan keteguhan seorang muslim serta pengingkaran mereka terhadap kaum yang menyelisihinya, akan berbuah manis pada waktunya. Rasulullah ﷺ. bersabda,

“Akan merasakan manisnya iman, yakni orang yang rida bahwa Allah sebagai Rabbnya, Islam menjadi agamanya, dan Muhammad sebagai Rasul-Nya.” (HR Bukhari, Muslim).[MNews]

Baca juga:  Penerapan Syariat Islam dalam Masyarakat Plural, Mungkinkah?

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.