BeritaInternasional

[News] Pengamat: Seruan Bank Dunia Hanya Janji Manis, Sebatas Slogan

Seruan Bank Dunia menyambut Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, tidak akan pernah menjadi fakta bahwa kemiskinan bisa diatasi secara tuntas.

MuslimahNews.com, INTERNASIONALMengkritisi seruan Bank Dunia pada Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, pengamat ekonomi Islam, Ustazah Nida Sa’adah, S.E., M.E.I., Ak. menegaskan, itu hanya janji manis. Sebatas slogan.

“Seruan Bank Dunia dalam artikel Ending Persistent Poverty, Respecting All People and Our Planet menyambut Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia tiap 17 Oktober, hanya janji manis. Sebatas slogan. Tidak akan pernah menjadi fakta bahwa kemiskinan bisa diatasi secara tuntas,” urainya dalam sebuah podcast bertajuk “Mengakhiri Kemiskinan di Dunia”, Senin (11/10/2021).

Ia memaparkan, Bank Dunia memiliki strategi utama dan menyerukannya ke seluruh dunia dengan mengacu pada Millennium Development Goals. “Bentuknya, saling memperhatikan di antara masyarakat. Slogannya, ‘Apa yang sudah Anda lakukan untuk orang-orang di sekitar Anda di masa pandemi ini?’,” ujarnya. Menurutnya, sudah bisa dipastikan, seruan ini tidak menyelesaikan problem utamanya.

Problem Utama

Ia menyebutkan, problem utama itu pertama, regulasi yang diterapkan negara, disadari atau tidak justru menciptakan kemiskinan struktural di tengah-tengah masyarakatnya sendiri.

“Antara lain regulasi pajak yang item-nya terus ditambah, besarannya ditambah, persentasenya ditingkatkan. Di saat pandemi ketika banyak orang kehilangan pekerjaan tentu akan menciptakan kemiskinan secara luas. Di saat yang sama, negara justru kehilangan kemampuan untuk memastikan tiap kepala keluarga memiliki akses terhadap pekerjaan,” kritiknya.

Baca juga:  Spekulasi Angka Kemiskinan Menampakkan Kelemahan Sistem Ekonomi Kapitalisme

Ia menilai, di saat yang sama, negara gagal mengatasi kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin. “Distribusi harta dan kekayaan ternyata tidak bisa berputar di tengah masyarakat. Harta makin bertumpuk di antara segelintir orang, dan sebagian besar rakyat jatuh pada jurang kemiskinan,” ungkapnya.

Kedua, ia menyampaikan, negara-negara besar menguasai aset sumber daya alam dan pangsa pasar. “Mengeksploitasi sumber daya alam besar-besaran di negara berkembang kemudian membelinya dengan harga murah. Di saat yang sama, pangsa pasar yang sangat besar di negara berkembang, justru dibanjiri oleh produk dari negara-negara maju,” jelasnya.

Ia menekankan, inilah penyebab kemiskinan makin meluas. “Tanpa memecahkan problem utamanya, tanpa menghentikan penjajahan oleh negara maju kepada negara berkembang, maka tidak akan pernah menyelesaikan kemiskinan. Selanjutnya, tanpa mengubah regulasi negara, yang disadari atau tidak, akan memiskinkan rakyatnya sendiri, maka kemiskinan juga tidak bisa selesai,” cetusnya.

Solusi

Ia menyatakan, satu-satunya solusi adalah penerapan Islam kafah dalam institusi khilafah. “Terdapat banyak bukti kesejahteraan dan kemakmuran yang tercipta secara luas, sehingga dinikmati bukan hanya oleh muslim, tetapi juga nonmuslim,” terangnya.

Ia mengutarakan, strategi utamanya adalah memastikan tiap orang berada pada proses penafkahan yang jelas sehingga terjamin pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan papannya. “Standar dalam Islam untuk mengukur kemiskinan itu tetap, tidak berubah, dan tidak berbeda. Miskin adalah ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, karena itulah Islam memerintahkan tiap kepala keluarga untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok itu dari orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya,” tuturnya.

Baca juga:  Melawan Pemiskinan Sistematis

Jadi, ia melanjutkan, negara membuat berbagai regulasi untuk memastikan tiap kepala keluarga memiliki mata pencarian. “Ketika berada pada kondisi extra ordinary yaitu kepala keluarga wafat, sakit parah, atau sudah tua, maka Islam memerintahkan kerabat dekatnya yang mampu untuk membantu orang-orang yang berada dalam tanggung jawab penafkahan tadi. Akhirnya problem kemiskinan bisa selesai dengan cepat,” paparnya.

Ia mengemukakan, ketika tidak ada kerabat, maka tanggung jawab penafkahan tadi akan beralih ke baitulmal, ke kas negara. “Negara tidak membiarkan orang-orang miskin itu menyelesaikan masalahnya sendiri, atau berharap ada orang lain yang membantu. Namun di dalam Islam, justru strategi utamanya adalah negara akan mengambil alih tanggung jawab itu secara makruf,” tukasnya.

Hanya saja, ia menambahkan, apabila kas negara dalam keadaan kosong, negara memiliki hak mengambil pungutan kepada rakyatnya yang disebut dharibah. “Ketika kas negara sudah terisi kembali, maka dharibah akan dihentikan,” ujarnya.

Sementara itu, ia menyatakan, negara akan melakukan pengaturan kebijakan makro dan mikro ekonomi syariah yang akan memastikan harta berjalan secara lancar di tengah masyarakat. “Di sisi lain, negara khilafah akan menutup akses bagi negara lain yang ingin menguasai negeri-negeri kaum muslimin,” tandasnya.[MNews/Ruh] 

2 komentar pada “[News] Pengamat: Seruan Bank Dunia Hanya Janji Manis, Sebatas Slogan

  • Segera beralih ke islam kaffah saja

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *