[Fikrul Islam] Naluri Beragama

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM — Di dalam diri manusia terdapat suatu potensi hidup (dorongan/semangat) yang senantiasa mendorong melakukan kegiatan serta menuntut pemuasan. Potensi tersebut memiliki dua bentuk manifestasi.

Pertama, menuntut adanya pemenuhan yang bersifat pasti, jika tidak terpenuhi, manusia dapat binasa. Inilah yang dinamakan kebutuhan jasmaniah (haajatul ‘udluwiyah), seperti makan, minum, dan membuang hajat.

Kedua, menuntut adanya pemenuhan saja, tetapi jika tidak dipenuhi, manusia tidak akan mati, melainkan akan merasa gelisah hingga terpenuhinya kebutuhan tersebut. Inilah yang dinamakan naluri (gharizah).

Dari segi munculnya dorongan (tuntutan pemuasan), naluri berbeda dengan kebutuhan jasmani, sebab dorongan kebutuhan jasmani bersifat internal (misalnya, orang ingin makan karena lapar, dan ini tidak memerlukan dorongan dari luar).

Sedangkan naluri, sesungguhnya yang mendorong atau yang melahirkan suatu perasaan yang menuntut pemenuhan, dapat berupa pemikiran-pemikiran tentang sesuatu yang dapat mempengaruhi perasaan, atau berupa suatu kenyataan yang dapat diindra yang mendorong perasaan untuk memenuhinya.

Naluri untuk mengembangkan/melestarikan jenis misalnya, bisa dirangsang karena memikirkan atau melihat seorang wanita cantik atau segala sesuatu yang berkaitan dengan seks. Apabila rangsangan-rangsangan itu tidak ada, naluri pun tidak akan muncul.

Contoh lain adalah naluri beragama yang dapat muncul dengan adanya pemikiran-pemikiran mengenai ayat-ayat (tanda kebesaran ciptaan) Allah.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Khasiyatul Insan (Potensi Manusia)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pengaruh-pengaruh suatu naluri akan tampak ketika ada sesuatu yang merangsangnya. Pengaruh naluri ini tidak akan muncul apabila tidak ada hal-hal yang merangsangnya atau apabila terjadi pengalihan terhadap hal-hal yang merangsang dengan menafsirkannya secara keliru, sehingga menimbulkan persepsi yang dapat menghilangkan ciri asalnya (yang biasanya merangsang naluri).

Naluri beragama merupakan naluri yang tetap ada dalam diri manusia, sebab naluri ini merupakan perasaan membutuhkan kepada Sang Pencipta Yang Mahakuasa yang mengaturnya, tanpa memandang siapa yang dianggap Sang Pencipta tersebut.

Perasaan ini bersifat fitri yang selalu ada selama ia menjadi manusia, baik ia (orang yang) beriman terhadap Khalik atau ia kufur terhadap-Nya atau beriman kepada materialisme dan naturalisme. Perwujudan perasaan ini dalam diri setiap manusia bersifat pasti (harus muncul). Sebab, perasaan ini tercipta sebagai salah satu bagian dari penciptaan manusia, sehingga tidak mungkin memisahkannya atau menghilangkannya dari diri manusia. Itulah yang disebut tadayun (perasaan beragama).

Adapun perwujudan dari tadayun adalah adanya perasaan takdis (penyucian) terhadap Sang Pencipta Yang Mahakuasa, atau terhadap segala sesuatu yang digambarkannya sebagai penjelmaan dari Sang Pencipta.

Kadang kala takdis itu terwujud dalam bentuk yang hakiki (sempurna), sehingga menjadi suatu ibadah. Namun, terkadang terwujud pula dalam gambaran/bentuk yang sederhana, sehingga hanya menjadi sebuah kultus atau pengagungan.

Baca juga:  Potensi Kehidupan Manusia

Takdis adalah penghormatan setulus hati yang paling tinggi. Yaitu penghormatan yang bukan berasal dari rasa takut, tetapi berasal dari perasaan tadayun. Sebab takdis bukan merupakan manifestasi dari rasa takut.

Manifestasi dari rasa takut tidak lain adalah kegelisahan, pelarian, atau usaha untuk membela diri. Hal ini jelas bertentangan dengan hakikat (kenyataan) takdis. Dengan demikian takdis adalah manifestasi dari perasaan tadayun, bukan dari rasa takut.

Berdasarkan penjelasan di atas maka rasa beragama terpisah dengan gharizatul baqa’ (naluri untuk mempertahankan diri) yang salah satu bentuk perwujudannya adalah rasa takut. Oleh karena itu selalu didapati, bahwa setiap manusia sebenarnya “beragama” semenjak Allah Swt. menciptakannya; dan setiap manusia pasti menyembah sesuatu. Ada yang menyembah matahari, planet-planet, api, berhala, atau menyembah Allah Swt..

Tidak pernah ditemui pada satu masa pun atau pada umat, dan bangsa mana pun kecuali mereka senantiasa menyembah sesuatu. Bahkan pada bangsa yang diperintah oleh penguasa yang diktator, yang memaksa mereka melepaskan agamanya sekalipun, mereka tetap beragama dan menyembah sesuatu, meskipun harus melawan kekuatan yang menguasainya serta rela menanggung siksaan yang dideritanya agar dapat menjalankan ibadah tersebut.

Oleh karena itu, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu mencabut rasa beragama dari diri manusia atau menghilangkan usaha takdis terhadap Al-Khaliq, atau mencegah manusia beribadah. Yang mungkin dilakukan hanya meredamnya untuk sementara waktu. Sebab, ibadah adalah perwujudan alami dari rasa beragama yang merupakan salah satu naluri (yang ada) dalam diri manusia.

Baca juga:  Potensi Kehidupan Manusia

Adapun yang tampak pada sebagian orang ateis dengan tidak melakukan ibadah atau dengan mengolok-olok ibadah, sebenarnya mereka telah mengalihkan perwujudan naluri beragama dari ibadah kepada Allah Swt. menjadi ibadah kepada makhluk-makhluk-Nya dan diwujudkan kepada alam nyata, para pahlawan, atau terhadap sesuatu yang dianggap agung (super) dan lain sebagainya. Di sini mereka telah melakukan kekeliruan besar dan penafsiran yang salah terhadap sesuatu dengan mengalihkan tadayun itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapatlah dipahami sebenarnya kufur itu lebih sulit daripada iman, sebab kekufuran itu merupakan usaha pengalihan manusia dari fitrahnya, dan pengalihan fitrah tersebut dari perwujudannya yang hakiki. Yang mana hal itu memerlukan usaha yang keras. Adalah amat sulit mengalihkan manusia dari ketentuan tabiat dan fitrahnya. [MNews/Rgl]

Sumber: Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

One thought on “[Fikrul Islam] Naluri Beragama

  • 13 Oktober 2021 pada 13:59
    Permalink

    Dan perwujudan gharizah taddayun yg shahih adalah yg memuaskan akal ..sesuai dengan fitrah manusia dan menetramkan jiwa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *