[News] Melambungnya Harga Batu Bara, Pengamat: Korporasi Paling Menikmati

MuslimahNews.com, NASIONAL—Merespons melambungnya harga batu bara, pengamat kebijakan publik, Emilda Tanjung, M.Si., memandang, yang paling menikmati adalah korporasi.

“Terus melejitnya harga batu bara, berdampak kepada salah satunya melonjaknya kenaikan kekayaan taipan. Seperti pemilik korporasi batu bara dari Kalimantan yang berasal dari Singapura, Low Tuck Kwong. Saat harga bahan bakar atau hasil tambang itu melambung, yang paling menikmati justru korporasi pertambangan itu sendiri,” ujarnya dalam sebuah podcast bertajuk “Krisis Energi, Melonjaknya Ekspor Batu Bara, Siapa yang Untung?”, Jumat (8/10/2021).

Ia mengatakan, kekayaan pendiri dan pemilik saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) ini melonjak hingga Rp12,87 triliun hanya dalam sepuluh hari. “Menurut laporan Forbes, Low berada di posisi ke-11 orang terkaya di Indonesia. Dengan total kekayaan sama dengan TP Rachmat, yakni mencapai US$ 2,1 miliar atau Rp 30,03 triliun,” paparnya.

Krisis Energi

Ia menyampaikan, hal ini terjadi akibat krisis energi di negara-negara di Eropa, Cina, dan India. Akibatnya, ia menjelaskan, ekspor batu bara pun meningkat tajam dari sejumlah negara penghasil bahan tambang, seperti Indonesia.

“Bahkan sebagaimana mengutip CNBC, pada 5 Oktober lalu harga batu bara di pasar ICE New Castle, Australia, berada pada level US$280 ribu per ton. Melonjak 12,45% daripada hari sebelumnya. Mencapai rekor tertinggi sejak 2008,” urainya.

Baca juga:  Kebijakan Rezim “Menggila”, Rakyat Makin Sengsara

Bagi negara kita, ia melanjutkan, berdasarkan Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM, realisasi penerimaan negara dari sektor pertambangan mineral dan batu bara, hingga Selasa (6/10/2021), menembus Rp49,84 triliun. “Penerimaan dari komoditas batu bara saja mencapai Rp40 triliun. Melampaui target yang ditetapkan pemerintah,” tuturnya.

“Namun, penjualan hasil tambang yang masuk ke dalam kas negara hanya sekitar 4% dari keuntungan bersih pemilik UPK operasi produksi. Bisa dikatakan 40 triliun itu, sangat jauh dibandingkan penerimaan riil yang dimiliki korporasi batu bara itu sendiri,” kritiknya. 

Potensi

Ia menilai, dari fakta ini, negara kita memiliki potensi sumber daya energi yang masih sangat besar. “Tetapi ketika mengelolanya dengan konsep kapitalisme neoliberal, ternyata tidak memberikan manfaat yang besar pula bagi rakyat. Konsep ini telah menjadikan korporasi swasta menguasai sumber daya energi dan tambang tadi,” ungkapnya.

Menurutnya, semestinya jika menggunakannya semaksimal mungkin untuk seluruh rakyat, maka tentu akan bisa membiayai dan memberi kemudahan bagi rakyat mendapatkan akses energi.

“Dengan ketersediaan bahan baku batu bara, PLN seharusnya tidak lagi sulit mencari bahan bakar dalam rangka menghidupkan mesin generator listriknya. Namun, mahalnya harga bahan bakar ini menyebabkan di antaranya, rakyat harus membayar mahal tagihan listrik,” cetusnya.

Baca juga:  Janji di Atas Ingkar Rezim PHP

Ia menyayangkan, rakyat hanya mendapat remah-remah dari sumber daya yang begitu besar. “Padahal Allah menganugerahkan, memberikan, dan menciptakan msumber daya tersebut untuk bisa memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Bukan untuk kepentingan dan kemashlahatan korporasi swasta saja,” tukasnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan, dalam Islam, negara atau khilafah tidak boleh menyerahkan pengelolaan sumber daya milik publik tersebut kepada korporasi. “Dengan tata kelola Islam, negara bertanggung jawab penuh terhadap pemenuhan seluruh hak-hak rakyatnya. Akhirnya, sumber daya alam  yang begitu besar dan melimpah yang Allah berikan kepada kita, baru akan benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat,” tandasnya.[MNews/Ruh]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *