[Fikrul Islam] Kedudukan Doa dalam Islam

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM – Doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Doa merupakan aktivitas ibadah yang paling agung. Imam Tirmidzi telah meriwayatkan sebuah hadis yang berasal dari Anas ra., “Doa itu adalah otaknya ibadah.”

Terdapat banyak riwayat dari Nabi saw. yang menganjurkan dan mendorong seseorang untuk berdoa seperti antara lain, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain doa.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

“Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu).” (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)

“Sesungguhnya doa itu dapat memberi manfaat (bagi pelakunya) untuk sesuatu yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Maka wahai hamba Allah, lakukanlah doa itu.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar)

“Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah, kecuali akan dikabulkan doanya, atau dijauhkan suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR Tirmidzi dan Hakim dari Ubadah ibn Shamit)

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu di antara tiga hal: dikabulkan doanya; ditangguhkan hingga hari kiamat; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR Ahmad dari Abi Said Al Khudri)

Semua hadis di atas menunjukkan adanya keharusan berdoa yang berupa permohonan hamba kepada Tuhannya untuk mendapatkan sesuatu. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan adanya doa antara lain, “(Dan) Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS Al Mukmin 60)

Baca juga:  Doa

“(Dan) apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS Al Baqarah 186)

“Atau, siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (berkuasa) di bumi?” (QS An Naml 62)

Tentang doa malaikat, Allah Swt. berfirman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), ‘Ya Tuhan kami, rahmat ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga-surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka bersama orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Mukmin 7-8)

Allah Swt. telah memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya, juga telah menjelaskan bahwa hanya Dialah yang dapat mengabulkan doa, bukan yang lain. Allah juga memaparkan bahwa sebagian dari doa dilakukan oleh malaikat-Nya. Maka, Allah menganjurkan kepada setiap muslim agar berdoa kepada-Nya, baik di saat sempit ataupun lapang, di dalam hati maupun terang-terangan, sehingga ia memperoleh pahala dari Allah.

Baca juga:  [Nafsiyah] Doa dan Perubahan

Berdoa itu lebih baik daripada diam atau berserah diri. Hal ini berdasarkan banyaknya dalil yang menunjukkan, juga karena berdoa adalah menifestasi dari kepatuhan dan ketundukan kepada Allah Swt..

Akan tetapi, patut diketahui bahwasanya doa tidak dapat mengubah sesuatu yang termasuk ilmu Allah; tidak dapat menolak qada; tidak dapat mencabut kadar, serta tidak dapat menghasilkan sesuatu di luar sebabnya.

Karena ilmu Allah adalah ketetapan pasti, qada Allah adalah suatu kenyataan dan pasti terjadi, kalau saja qada dapat ditolak oleh doa, tentu tidak ada qada. Dan qadar pun telah diciptakan oleh Allah, sehingga ia tidak bisa dicabut oleh doa.

Allah telah menciptakan hukum sebab-akibat, dijadikan-Nya sebab dapat melahirkan musabab (akibat) dengan pasti. Jika tidak menghasilkan musabab tertentu, berarti ia bukan sebab. Oleh karena itu, tidak boleh dijadikan keyakinan bahwa doa itu adalah jalan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan, sekalipun misalnya Allah Swt. mengabulkannya sehingga kebutuhan seseorang terpenuhi. Sebab, Allah telah menciptakan aturan-aturan untuk manusia, alam semesta, dan kehidupan, di mana ketiganya tunduk pada aturan-aturan itu. Allah pun mengikatkan sebab dengan musabab. Sehingga doa tidak memiliki pengaruh untuk mengubah aturan-aturan Allah, atau keluar dari hukum sebab-akibat yang telah dibuat-Nya.

Tujuan berdoa tidak lain semata-mata untuk memperoleh pahala dari Allah, sebagai pelaksanaan dari perintah-Nya. Doa adalah satu di antara jenis-jenis ibadah, sama dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti salat, shaum, zakat, dan sebagainya. Maka, seorang mukmin tentu akan berdoa kepada Allah dan meminta kepada Allah untuk dipenuhi kebutuhannya, atau untuk menjauhkannya dari rasa sedih, atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan urusan duniawi atau akhirat.

Baca juga:  [Nafsiyah] Hikmah Doa yang Tidak Dikabulkan Segera

Doa dilakukan sebagai bukti ketundukan kepada Allah dan usaha manusia untuk mendapatkan pahala dari Allah, sekaligus melaksanakan perintah-perintah-Nya. Apabila kebutuhannya terpenuhi, maka itu adalah anugerah dari Allah. Pemenuhan itu pun sesuai (sejalan) dengan aturan-aturan Allah serta berjalan di atas dasar-dasar peraturan sebab-akibat. Jika kebutuhannya tidak terpenuhi, maka tetap mendapatkan pahala.

Berdasarkan penjelasan tadi doa bagi seseorang muslim, hendaknya merupakan tanda ketundukan kepada Allah, sebagai pelaksanaan perintah-Nya, dan usaha memperoleh pahala dari Allah Swt.. Sama saja apakah permohonannya terpenuhi atau tidak. Boleh saja seorang muslim berdoa dengan bentuk doa apa pun yang dikehendakinya; baik di dalam hati, diucapkan melalui lisan, atau dengan kalimat apa pun, dan ia tidak terikat dengan bentuk doa tertentu.

Ia boleh berdoa dengan doa-doa yang tercantum dalam Al-Qur’an, hadis, dengan bentuk redaksinya sendiri-sendiri atau dengan mengambil doa yang berasal dari orang lain. Yang penting, ia dituntut untuk berdoa kepada Allah. Namun demikian yang lebih utama, tentulah bentuk doa sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan hadis. [MNews/Rgl]

Sumber: Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail.

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

One thought on “[Fikrul Islam] Kedudukan Doa dalam Islam

  • 12 Oktober 2021 pada 06:57
    Permalink

    Masyaallah, banyaknya kaum muslimin salah memehami doa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *