[Tapak Tilas] Turki, Antara Masa Lalu dan Masa Depan Islam

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Sebelum masuk dalam wilayah kekuasaan Islam, kawasan Turki merupakan wilayah penting bagi kekaisaran Romawi Timur. Di kawasan inilah pusat negara adidaya ini berada, yakni Kota Bizantium yang kelak terkenal sebagai Konstantinopel atau Istanbul.

Secara geografis, Turki terletak di kawasan Anatolia yang terkenal juga sebagai Asia Minor atau Eurasia. Kawasan ini ada di antara Asia Barat Daya dan Eropa Tenggara, terkelilingi oleh Laut Hitam, Bulgaria, Yunani, Laut Mediterania, Syria, Irak, Iran, Azerbaijan, dan Georgia.

Turki terletak di Anatolia dan Balkan, berbatasan dengan Laut Hitam, antara Bulgaria dan Georgia, berbatasan dengan Laut Aegean dan Laut Mediterania, antara Yunani dan Suriah. Koordinat geografis terletak di: 39°00′N 35°00′E. Foto: Wikipedia.

Konon, leluhur bangsa Turki sendiri sebetulnya bukan berasal dari kawasan Anatolia. Mereka berasal dari daratan yang membentang antara Asia Tengah hingga ke Siberia yang saat ini mencakup Mongolia, Kazakhstan Timur, Kirgizstan Timur, Xinjiang Uyghur, Manchuria Barat, dan Selatan Rusia.

Islamisasi Bangsa Turki

Bangsa Turki terkenal memiliki banyak suku. Di antara suku-suku itu ada yang memiliki kebiasaan hidup sebagai nomaden, semisal suku Khazar, Pecheneg,  dan lainnya. Sebagian mereka ada yang akhirnya tinggal di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah.

Para sejarawan mencatat, pada abad ke-6 M, suku-suku bangsa Turki ini sudah biasa menjalin hubungan dagang di sepanjang Jalur Sutra dengan bangsa-bangsa lainnya. Inilah yang menjadi jalan perkenalan bangsa Turki dengan Islam yang dibawa oleh bangsa Arab.

Namun, interaksi dengan bangsa Arab ini tak serta-merta membuat mereka tertarik dengan Islam. Selain nomaden, watak mereka pun terkenal sangat keras. Mereka baru bisa tunduk saat kekuasaan Islam mencapai wilayah Amu Darya yang meliputi Afganistan hingga Tajikistan tahun 651 M abad ke-7–8 Masehi.

Pada masa ini, proses islamisasi bangsa Turki berlangsung secara alami. Sampai-sampai di bawah kekuasaan Islam itu terbentuklah kekhanan yang berbasis pada suku bangsa Turki. Misalnya kekhanan Khazar, Uighur, Pesheneg, dan lain-lain.

Pada 830 M, Dinasti Abbasiyah pun banyak merekrut bangsa Turki yang terkenal keras dan kuat itu sebagai tentara. Kegigihan dan prestasi militer mereka lambat laun menguatkan pengaruh mereka di lingkaran kekuasaan.

Saat kepemimpinan bangsa Arab dalam Khilafah Abbasiyah melemah, mereka pun tampil sebagai penguat. Bahkan pada masa selanjutnya mereka turut berjasa mengembangkan dakwah Islam ke berbagai tempat dan membangun kekuasaan politik di sana.

Baca juga:  [Sejarah] Munculnya Nasionalisme di Negeri Islam

Di wilayah Hindustan, berdirilah kesultanan Ghaznawiyah (977–1186 M) dan Kesultanan Delhi (1206–1526 M). Di wilayah Persia mereka mendirikan Kesultanan Seljuk (1037–1194 M).

Kekuatan yang Memudar

Pascapenyerangan Mongol ke pusat Khilafah di Baghdad (1258 M), kekuatan Khilafah menjadi pudar. Nyaris dua tahun umat Islam hidup tanpa kepemimpinan umum yang bisa menyatukan mereka.

Karenanya, di beberapa wilayah, tampillah beberapa kekuatan politik Islam yang mengambil alih kekuasaan. Di Mesir tampil kekuatan para Mamluk yang kekuasaannya cukup kuat.

Pasukan Mamluk ini berhasil memenangkan perang melawan pasukan Mongol dalam pertempuran Ain Jalut pada 1260 M. Inilah yang menjadikan kekuasaan Mamluk bertambah pengaruhnya, bahkan hingga ke Makkah dan Madinah, serta mengklaim diri sebagai Khilafah.

Adapun di wilayah lainnya, pasukan Turki tampil sebagai penyelamat. Di bawah kepemimpinan Othman I (Otsman Ghazi putra Ertuĝrul), kaum muslim berhasil menegakkan kekuasaan di Anatolia. Tepatnya saat mereka berhasil menduduki benteng Eskişehir dan Karacahisar yang sebelumnya berada dalam penguasaan Romawi Timur.

Selanjutnya, pasukan Otsman berhasil menguasai Yenişehir, sebuah kota penting di wilayah yang kemudian menjadi pusat kekuasaannya. Dari sinilah beliau berhadapan langsung dengan kekuatan Romawi yang kala itu menjadi satu-satunya kekuatan adidaya di dunia.

Penaklukan Pusat Kekuasaan Romawi

Sejak masa kepemimpinan Otsman I, pergesekan antara kekuatan Islam dengan Romawi makin keras. Pasukan Otsman memenangkan beberapa peperangan hingga banyak penduduk Romawi Timur di Anatolia ketakutan.

Beberapa kota penting pun jatuh ke tangan pasukan muslim, seperti Ephesus, Edirne, dan Bursa. Bahkan, Kota Bursa sempat menjadi pusat pemerintahan ketika kepemimpinan Islam beralih kepada Orhan, anak Otsman I.

Pengaruh kekuasaan Turki Utsmani ini pun makin kuat setelah kemenangan telak melawan Romawi Timur, khususnya saat kepemimpinan politik berada di tangan Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) yang berkuasa antara tahun 1451–1481 M.

Saat itu, tepatnya pada 1453 M, beliau dan pasukannya berhasil merebut Kota Konstantinopel yang merupakan pusat kekuasaan Romawi Timur. Peristiwa ini bahkan membuktikan kabar gembira dari baginda Rasulullah saw. yang beliau sampaikan tujuh abad sebelumnya.

Peristiwa ini bukan hanya memberi pengaruh kuat di wilayah Anatolia dan sekitarnya saja, melainkan hingga ke seluruh dunia, termasuk di wilayah Islam lain yang masih ada dalam pengaruh dinasti Mamluk.

Baca juga:  Konstantinopel dan Khilafah, Menembus Batas Romantika Sejarah

Apalagi saat itu, kondisi kekuasaan Mamluk termasuk atas Haramain sudah sangat lemah. Namun, pihak Mamluk justru berkonspirasi dengan kekuatan Syiah di Persia untuk melemahkan kekuatan Islam di Turki yang pengaruhnya makin meluas.

Oleh karenanya, pada masa kepemimpinan Salim I (1512–1520), terjadilah Perang Reydaniyya antara pasukan Turki dengan Mamluk. Perang ini berhasil dimenangkan oleh pasukan Turki.

Konsekuensinya, Dinasti Mamluk mau tidak mau harus menyerahkan kendali pemerintahan atas seluruh wilayah Islam termasuk Haramain kepada Utsmaniyah. Dengan demikian, Turki Utsmaniyah pun layak mengenakan julukan “Khilafah” atas seluruh dunia Islam.

Konon, transisi kekhalifahan dari Dinasti Mamluk ke Turki ditandai dengan upacara simbolis di Konstantinopel (Istanbul) pada 1517 M. Bahkan, kunci-kunci Haramain langsung diberikan oleh Gubernur Makkah kepada sang Khalifah.

Masa Kejayaan dan Kehancuran

Ketika Sultan Selim I berkuasa, umat Islam dan negara Khilafah diakui berada dalam puncak kejayaannya. Situasi ini terus berlanjut ketika beliau wafat dan digantikan oleh Sultan atau Khalifah Sulaiman Al-Qanuni (1520–1566 M).

Tentang hal ini, penulis pada masa Khalifah Sulaiman Al-Qanuni, Mevlana Isa, menggambarkan kondisi kekhalifahan sebelumnya. Tulisnya, “Pada zaman Selim I, kumpulan domba dan serigala dapat berjalan beriringan tanpa saling bertengkar, dan begitu juga tikus terhadap kucing.”

Pada masa mereka, kesejahteraan masyarakat Khilafah di seluruh dunia memang demikian memuncak. Kesejahteraan dan keadilan terasa oleh seluruh warga negara, muslim maupun nonmuslim.

Posisi politik kekuasaan negara Islam pun demikian diperhitungkan. Dalam konstelasi politik internasional, negara Khilafah terposisi sebagai negara pertama yang disegani, bahkan ditakuti kekuatan kafir Eropa.

Situasi ini berlangsung hingga awal abad ke-18 M. Ini pula yang memunculkan kedengkian dari musuh-musuh Khilafah. Negara-negara Kristen Eropa yang sebelumnya saling berperang akhirnya bersatu berkonspirasi untuk membuat makar menghancurkan Khilafah.

Mereka menggunakan strategi perang pemikiran dan budaya untuk melemahkan pertahanan ideologi umat Islam. Dengan strategi itu pula mereka berusaha memecah belah persatuan umat. Salah satunya dengan menebar racun nasionalisme (ashabiyah) di tubuh mereka melalui antek-antek bayaran dari kalangan umat Islam.

“The Sick Man”

Strategi tersebut memang jitu. Masyarakat Islam makin jauh dari ajaran-ajaran Islam. Satu demi satu wilayah pun menuntut pemisahan dari pusat Khilafah. Bahkan, kelemahan pun merasuk hingga ke dalam lingkaran kekuasaan. Sampai-sampai negara mulai mengadopsi hukum Barat dan ini mempercepat proses penghancuran dari dalam.

Baca juga:  Ayasofia, Pragmatisme Erdogan dan Narasi Kebencian akan Kebangkitan Islam

Sebagai dampaknya, posisi tawar Khilafah di hadapan musuh makin merosot tajam. Wilayahnya pun banyak yang jatuh ke tangan penjajah Barat. Khilafah pada pertengahan abad ke-19 sampai mendapat stigma sebagai “the sick man from Europe”. Alhasil, Khilafah yang tadinya digdaya, berbalik menjadi lemah. Bahkan, Khalifah mengais-ngais belas agar bisa diakui sebagai bagian dari Eropa.

Karikatur dari majalah punch ini menunjukkan Sultan 
Abdul Hamid II di depan poster yang mengumumkan reorganisasi Kesultanan Utsmaniyah. Karikatur mengacu pada kelemahan Kekaisaran Ottoman sekitar pergantian abad (Sick man of Europe), menjadikannya bola isyarat kekuatan Eropa. Sumber: Wikipedia.

Lalu di ujung sejarahnya, Khilafah terseret dalam perang dunia yang melumpuhkan. Hingga tubuhnya terkerat-kerat menjadi “ganimah” kaum penjajah. Puncak dari situasi menyedihkan ini adalah ketika Mustafa Kemal si antek Inggris mengumumkan pembubaran Khilafah dan mengusir Khalifah dari istananya. Lalu pada 1924 M, ia si laknatullah, mengumumkan sekularisasi Turki semurni-murninya.

Kubangan Sekularisme

Keberhasilan Mustafa menghancurkan Khilafah menjadi sebab makin mundurnya Turki dan umat Islam dunia pada umumnya. Pintu segala bencana terbuka dengan lebar.

Turki sendiri tak pernah bisa mewujudkan mimpi kosong Mustafa sang pengkhianat. Bahkan, dari masa ke masa, Turki jadi bulan-bulanan Barat, sementara rakyatnya makin kehilangan identitas kemuslimannya.

Hal ini berlangsung hingga sekarang. Keagungan Turki hanya ada dalam cerita-cerita sejarah sebagai jualan untuk meraup devisa. Muslim yang mayoritas ternyata tak merepresentasi keagungan din Islam lantaran Turki dengan sadar menjadikan sekularisme sebagai dasar undang-undang.

Kebesaran Turki di dunia internasional pun masih sebatas retorika. Tetap saja tangannya tak mampu menghentikan penjajahan umat yang terjadi di hadapan mata. Mereka sama sekali tidak mampu membela Palestina atas arogansi Israel, padahal Turki punya tentara.

Benar bahwa hari ini girah Islam mulai merebak di tengah umat. Namun, selama sekularisasi tetap menjadi landasan negara, Turki tak akan bisa kembali pada sejarah emas peradabannya. Begitu pun dengan umat Islam dunia, mereka tak bisa berharap pada retorika para pemimpinnya.

Sungguh, kemuliaan muslim Turki hanya ada pada ideologi Islam. Oleh karenanya, ambil dan perjuangkanlah bersama umat Islam dunia yang konsisten memperjuangkannya. [MNews/Gz]

3 komentar pada “[Tapak Tilas] Turki, Antara Masa Lalu dan Masa Depan Islam

  • 11 Oktober 2021 pada 22:07
    Permalink

    Masyaallah rindunya khilafah

    Balas
  • 10 Oktober 2021 pada 23:19
    Permalink

    Janji Allah itu pasti…kita tinggal bersungguh sungguh berjuang menegakkannya

    Balas
  • 10 Oktober 2021 pada 21:23
    Permalink

    Subhanalloh..ya Robb hanya dengan PertolonganMu kami mampu menegakkan institusi yg Engkau Ridhoi

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *