BeritaInternasional

[News] Utang Tersembunyi Cina, Ketua HILMI: Merusak Eksistensi Negara

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Ketua HILMI Dr. Julian Sigit, M.E.Sy. menyatakan, besarnya utang tersembunyi Cina bisa merusak eksistensi negara.

“Proyek Belt and Road Initiative (BRI) mendorong puluhan negara menumpuk utang tersembunyi ke Cina yang mencapai US$385 miliar atau Rp5.492 triliun, termasuk  Indonesia Rp248 triliun. Ini bukan sekadar urusan utang piutang, tetapi merupakan cara paling berbahaya merusak eksistensi suatu negara,” ungkapnya dalam Kajian Peradaban: “Jebakan Hutang ‘Ala China”, di kanal YouTube Khilafah Channel Reborn, Selasa (5/10/2021).

Ia memaparkan, ini berdasarkan laporan AidData yang menganalisis 13.427 proyek pembangunan Tiongkok senilai total US$843 miliar di 165 negara selama periode 18 tahun hingga akhir 2017. Tujuannya mengungkap besaran utang tersembunyi dari proyek BRI. 

“AidData mendefinisikan utang tersembunyi sebagai utang yang diberikan Tiongkok kepada negara berkembang bukan melalui pemerintahan negara melainkan melalui perusahaan negara (BUMN), dan bank milik negara. Mayoritas utang tersebut biasanya tidak muncul dalam neraca utang pemerintah,” urainya.

Terlebih, ujarnya, sumber lain menyebutkan Cina akan menyalurkan utang dan hibah sebesar Rp12 kuadriliun ke 185 negara termasuk Indonesia.

“Utang ini tidak akan masuk dalam sistem pelaporan utang yang dibuat oleh lembaga keuangan dunia seperti Bank Dunia maupun Dana Moneter Internasional (IMF),” terangnya. 

Baca juga:  Debt Trap

Bermasalah

Ia menyampaikan, Indonesia, Pakistan, Malaysia, Vietnam, dan Kenya menjadi lima negara teratas yang memiliki proyek BRI bermasalah selama periode tersebut.

“Indonesia termasuk 10 negara penerima pinjaman terbesar dari Tiongkok melalui skema Official Development Assistance (ODA) senilai US$4,42 miliar atau setara Rp63 triliun dan skema Other Official Flows (OOF) sebesar US$29,96 miliar atau setara Rp427 triliun,” paparnya.

Ia mengemukakan, utang ini bisa menjadi beban pemerintah apabila wanprestasi. “Apalagi AidData menemukan sebagian utang yang diberikan lewat pendanaan proyek infrastruktur tersebut tidak menguntungkan negara debitur. Sekitar 7% dari proyek BRI Tiongkok sejak 2000—2017 menghadapi skandal, kontroversi, hingga pelanggaran hukum,” jelasnya.

Sementara itu, ia menegaskan, Tiongkok mulai mengungguli AS dalam hal ambisi menyalurkan pinjaman pembangunan infrastruktur di luar negaranya. “AidData mencatat Tiongkok mengeluarkan anggaran US$85 miliar per tahun untuk program pembangunan di luar negeri. Dua kali lipat capaian Amerika sebesar US$37 miliar,” cetusnya.

Penjajahan Baru

Ia mengingatkan, Utang Luar Negeri (ULN) adalah teori penjajahan baru dengan alat uang, merupakan debt trap hasil manifestasi neoliberalisme yang berkembang dan dipelopori Alferd Marshall pada 1890. “Bahkan, berkembang lebih luas pada 1970-an oleh para ekonom dalam usaha melipatgandakan kekayaan negara serta konglomerat,” tukasnya.

Baca juga:  Zakat Utang

Ia memandang ada bahaya yang akan timbul, pertama, bahaya jangka pendek. Ia mencemati, ini dapat menghancurkan mata uang negara pengutang dengan membuat kekacauan moneter. Menurutnya, akan terjadi ketika jatuh tempo.

“Negara pengutang tidak bisa membayar dengan mata uang negara pengutang, tetapi kadang harus menggunakan dolar AS atau hard money lainnya. “Ini pernah terjadi dan sedang terjadi di berbagai negara. Sampai harus menggunakan mata uang Yuan sebagai mata uang yang resmi menggantikan mata uang di negaranya itu,” ungkapnya.

Kedua, bahaya jangka panjang. Ia menilai, bahaya ini menyasar politik negara terkait kedaulatan.

“Apabila komoditas-komoditas berharga sudah tidak cukup untuk membayar utang tersebut, maka akan menyasar aset-aset strategis negara sebagai alat pelunasan. Kalau itu terjadi, maka hampir semua kebijakan publik dapat diintervensi seperti kasus yang begitu terang-terangan dilakukan Cina,” tegasnya.

Oleh sebab itu, ia menekankan, solusinya tidak bisa dengan cara kapitalisme, karena akan gali lubang tutup lubang, menutup utang dengan berutang lagi. Namun, menurutnya dengan cara Islam.

“Kalau dalam Islam, ULN ini adalah riba dan itu haram. Apalagi sampai mengancam kedaulatan negara. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mengingatkan dalam rangka amar makruf nahi munkar,” pungkasnya.[MNews/Ruh]

2 komentar pada “[News] Utang Tersembunyi Cina, Ketua HILMI: Merusak Eksistensi Negara

  • Bagaimana China bisa begitu yakin dengan negara2 yg di berikan hutang, dapat menguasai negara tsb. Padahal ada banyak pinjaman yang tidak terdata di Aiddata?

    Balas
  • Sungguh mengerikan dampak dari utang, manusia bisa kehilangan tempat tinggal. Apalagi utang negara, kedaulatannya akan terancam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *