KeluargaRemaja

Menyikapi Fenomena “Self-Diagnosis” pada Remaja Muslim

Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, KELUARGA –Di antara dampak dari lengketnya remaja dengan gadget adalah mereka akan menelan apa adanya informasi yang mereka dapatkan dari internet, termasuk untuk mendiagnosis sendiri kondisi mental mereka.

Self-diagnosis adalah proses mendiagnosis kesehatan oleh diri sendiri berdasarkan informasi yang ia baca, tonton, atau dengar. Akibatnya, dengan mudahnya seorang remaja muslim mengatakan, “Aku depresi,” setelah ia merasa tidak mampu menyelesaikan tugas sekolah yang menumpuk. Atau ketika jatuh terpeleset karena lantai licin, kemudian remaja itu berkomentar, “Aku trauma berat.”

Saat orang tua meminta bantuannya untuk membereskan rumah, mencuci pakaian, dll., dan ia tidak suka karena mengganggu waktu santainya yang sedang asyik chatting dengan teman, muncullah di statusnya, “Keluargaku broken home.”

Pada lain waktu, ketika ia merasa jijik melihat cecak atau kecoak, remaja itu bilang, “Aku fobia,” serta berbagai macam fenomena selfdiagnosis yang melanda remaja muslim saat ini.

Berbahaya

Kita semua harus menyadari bahwa informasi yang beredar melalui berbagai laman internet hadir setiap detik di depan mata anak remaja kita. Bayangkan jika dari pagi sampai malam remaja tersebut memegang gadget, tidak ditangannya hanya ketika salat, tentu berpengaruh besar terhadap isi benak remaja muslim. Persepsi mereka akan terbentuk oleh informasi-informasi tersebut. Terlebih ketika tidak ada panduan bagi remaja untuk memilah informasi yang benar dan salah; hoaks atau bukan; serta perlu pemeriksaan ahli atau bisa langsung dikonsumsi publik.

Baca juga:  Duhai Ayah Bunda, Jangan Sampai Menjadi "Toxic Parents"

Jelas akan berbahaya bagi remaja jika hal ini terus terjadi, bahkan dapat makin memperparah kondisi mental mereka. Remaja menjadi mudah memvonis diri jatuh dalam kondisi buruk dan kekhawatiran yang berlebihan. Bisa jadi mereka akan melakukan pengobatan yang salah.

Sayangnya, remaja tidak merasa bahwa ini masalah buat mereka juga orang lain. Memosisikan diri sebagai orang yang sakit mental akan menjadi sesuatu yang biasa bagi remaja.

Sungguh ini tidak boleh kita biarkan. Apa jadinya generasi masa depan dari remaja yang memvonis diri tidak sehat mental? Bisa jadi memang mereka sedang butuh perhatian lebih dari orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar. Akan tetapi, tetap harus ada persepsi yang benar tentang kondisi mereka saat ini.

Tidak mudah untuk mendiagnosis masalah kejiwaan diri karena ini membutuhkan pemeriksaan dari ahli yang berkompeten menegakkan diagnosis tersebut. Apalagi ternyata diagnosis remaja cenderung “alay”, lebih mendramatisasi, atau bahkan salah diagnosis.

Harus Terbina dengan Islam

Berdasarkan hal itu, menjadi kebutuhan mendesak hari ini untuk membina remaja muslim. Yakni pembinaan yang akan membentuk pola pikir dan sikap yang benar sesuai ajaran Islam.

Kita harus terus memahamkan akidah dan syariat Islam kepada remaja muslim agar mereka memiliki panduan jelas dan benar terkait persepsi-persepsi yang ada di dalam benak mereka. Pembinaan ini harus berlangsung kontinu dan mencerdaskan akal mereka, bukan pembinaan transfer ilmu atau tsaqafah belaka.

Baca juga:  Duhai Ayah Bunda, Jangan Sampai Menjadi "Toxic Parents"

Pembinaan tersebut harus berupa transfer pemikiran dengan mengajak remaja melihat realitas pada diri dan lingkungan sekitarnya, kemudian memahamkannya akan pandangan Islam terhadap fakta tersebut.

Remaja juga harus mendapat pemahaman akan solusi Islam atas berbagai problematik yang remaja hadapi hari ini. Dengan demikian, bagi remaja, Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah tatanan sempurna yang hadir memberikan kemaslahatan bagi seluruh makhluk di dunia.

Dengan pembinaan Islam seperti ini, remaja akan cerdas setiap kali menerima informasi. Ia akan paham mana informasi yang benar dan berterima, serta mana informasi yang harus memastikan kepada ahlinya, sehingga ia tidak menelannya mentah-mentah.

Optimis dan Berhusnuzan kepada Allah

Lebih dari itu, remaja yang terbina akan optimis memandang kehidupan ini. Ia senantiasa berhusnuzan kepada Allah. Ia tidak dengan gampang memvonis diri bermental sakit, karena ia paham bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

Dalam sebuah hadis qudsi dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman sebagai berikut, ‘Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik, ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku, ia akan mendapatkan keburukan.'” (HR Tabrani dan Ibnu Hibban)

Baca juga:  Duhai Ayah Bunda, Jangan Sampai Menjadi "Toxic Parents"

Remaja muslim yang terbina akan menyadari bahwa Allah Swt. memberikan kesempatan emas pada masa mudanya. Dengan begitu, masa remajanya akan ia isi untuk memberi manfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsanya, dengan berasaskan akidah Islam dan sesuai tuntunan syariat.

Dengan demikian, akan terwujud remaja saleh yang semangat mengkaji Islam dan mendakwahkannya kepada sesama remaja. Harapannya, mereka akan bersama-sama membangun persepsi yang benar sesuai Islam di kalangan remaja muslim. Dari kaum remaja seperti inilah akan terwujud generasi emas yang akan menegakkan peradaban Islam yang gemilang untuk kedua kalinya. Insyaallah.[MNews/Juan]

5 komentar pada “Menyikapi Fenomena “Self-Diagnosis” pada Remaja Muslim

  • Remaja krisis aqidah

    Balas
  • Remaja Islam harus memiliki Aqidah Islam, taat pada syariat Islam dan ikut mendakwahkan serta membela agamanya.

    Balas
  • Hanya Islam yang menyelesaikan masalah

    Balas
  • Mila Erna

    Hanya dengan islamlah generasi penerus akan menjadi Khoiru ummah

    Balas
  • Ria cahaya Iman

    Semoga remaja saat ini bisa tercerahkan pemahamannya d3ngn Islam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *