Fokus

Ancaman Serius Dunia Adalah Kapitalisme, Bukan Radikalisme Terorisme

Penulis: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS — Narasi radikalisme terorisme kembali bergulir. Presiden Jokowi berpidato dalam Sidang Majelis Umum ke-76 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Kamis pagi (23/9/2021) dengan membawa beberapa masalah dunia, seperti radikalisme, terorisme, dan intoleransi.

Dalam pidatonya, Jokowi mengajak dunia untuk serius menangani intoleransi, terorisme, dan perang. Menurutnya, hal-hal ini adalah ancaman serius yang menghantui seluruh negara, bukan hanya Indonesia. Ia juga memastikan untuk terus menegakkan jaminan terhadap hak-hak perempuan dan kelompok minoritas.

Sejumlah permasalahan ini, kata Presiden, harus menjadi fokus bersama. Perlu untuk terus memperhatikan dan mengedepankan jaminan kenyamanan dan ketenangan suatu bangsa. Di antaranya yaitu potensi praktik kekerasan dan marginalisasi perempuan di Afganistan. (harakatuna[dot]com)

Dari penyampaian Pak Jokowi, tampak bahwa berkuasanya Taliban di Afganistan masih menjadi momen untuk menggulirkan isu panas—radikalisme dan terorisme—untuk memonsterisasi Islam dan syariatnya. Islam teridentikkan dengan intoleran, pemicu konflik dan perang, juga memarginalkan perempuan yang berakibat merendahkannya. Padahal, semua ini adalah framing negatif untuk menjauhkan umat dari kebenaran Islam.

Agar jelas apa sebenarnya ancaman serius dunia, mari kita coba bandingkan, mana yang intoleran, memicu konflik dan perang, serta merendahkan perempuan, Islam ataukah kapitalisme?

Intoleransi Milik Siapa?

Umat diberikan mimpi bahwa kapitalisme akan menyatukan keragaman, menghancurkan intoleransi, menyelesaikan berbagai konflik dan perang, serta menjadi harapan bagi kemuliaan dan kesejahteraan kaum perempuan.

Islam selalu menjadi tertuduh dalam mengajarkan intoleransi. Bahkan, Khilafah—sistem pemerintahan dalam Islam—sering dimonsterisasi sebagai sistem yang tidak toleran terhadap nonmuslim. Benarkah demikian?

Sesungguhnya, hanya orang yang tak mau berpikir benar yang tidak mampu melihat fakta bahwa Islam justru mengajarkan toleransi terbaik yang tak pernah diajarkan sistem mana pun.

Sejarah mencatat, pada masa Daulah Khilafah, toleransi sesuai syariat Islam mampu menjadikan kaum muslim dan pemeluk agama lainnya bisa hidup berdampingan secara damai, selama berabad-abad lamanya. Dunia mengakui hal tersebut.

T.W. Arnold, dalam buku The Preaching of Islam, menyebutkan bahwa nonmuslim yang hidup di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah menerima perlakuan baik dan toleran. Ia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.”

Selanjutnya, Arnold menjelaskan, “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Baca juga:  Terorisme, Proyek Barat untuk Mengadang Perjuangan Islam

Sementara itu, kapitalisme justru sebaliknya. Sekalipun negara-negara kapitalis menyerukan toleransi dan mengklaim sebagai negara paling toleran, faktanya jauh panggang dari api. Mereka justru mencontohkan buruknya praktik toleransi.

Terhadap negara-negara muslim mayoritas seperti Indonesia, mereka (negara-negara kapitalis) berteriak lantang menyeru toleransi. Mereka memaksa umat Islam untuk mengakui kebenaran agama-agama lainnya demi toleransi, padahal hal itu menyalahi akidah mereka.

Sedangkan di negara-negara yang muslim minoritas, mereka memaksa umat Islam keluar dari agamanya (muslim Uighur di Cina); mengusir dari tanah dan rumahnya (muslim Rohingya di Myanmar dan Palestina), meninggalkan keyakinan terhadap syariatnya (larangan memakai cadar di sebagian negara-negara Eropa), penistaan agama (seperti penghinaan kepada Nabi saw. yang sering terjadi dan dibiarkan), dan seterusnya. Inikah yang mereka sebut dengan toleransi?

Teror dan Kekerasan Adalah Milik Kapitalisme, Bukan Islam

Dalam pandangan Islam, tidak semua kekerasan buruk. Jihad fi sabilillah atau berperang di jalan Allah adalah sebuah perbuatan mulia karena Allah Swt memerintahkannya. (lihat QS Al-Baqarah: 216—218, Al-Hajj: 78, At-Taubah: 41, dan lain-lain).

Tentu saja, semua itu dalam batasan-batasan syariat yang tak boleh dilanggar, seperti harusnya diperintahkan penguasa dalam sistem Islam, diawali dengan dakwah Islam, dilakukan di medan peperangan (bukan di area publik seperti mal, jalan-jalan, kantor kepolisian, dan sebagainya); hingga ada larangan untuk membunuh anak, perempuan, orang tua, dan para rahib di tempat ibadahnya; dan lain sebagainya.

Ketika sistem Islam (Khilafah Islamiah) tegak, jihad termasuk bagian penting dari politik luar negeri Khilafah, di samping menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Apakah jihad ini menyebarkan ketakutan dan kebencian? Sama sekali tidak, kecuali bagi para penguasa zalim yang rakus dan tamak.

Mereka memang sangat takut dengan jihad kaum muslimin sepanjang masa. Sementara, penduduk di berbagai negeri taklukan pasukan kaum muslimin, mereka justru menunggu kedatangan pasukan ini. Mereka ingin segera bebas dari para penguasa buruk yang memerintah negeri mereka, agar bisa hidup sejahtera dalam naungan Khilafah.

Bukti lain bahwa umat nonmuslim merasakan keadilan dan kesejahteraan dalam naungan Khilafah adalah adanya surat yang dikirim kaum Nasrani di Syam kepada sahabat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra. pada 13 H.

Wahai kaum muslimin, kalian lebih kami cintai daripada bangsa Romawi meskipun mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji, lebih berbelas kasih terhadap kami, lebih bersikap adil terhadap kami, dan lebih baik dalam memerintah kami.” (al-Baladzuri, Futuh al-Buldan, hlm. 139).

Baca juga:  [Editorial] Rezim Represif Telah Kembali

Kemunculan Neoimperialisme

Lalu bagaimana dengan kapitalisme? Penjajahan (imperialisme) adalah bagian tak terpisahkan dari kapitalisme sekuler buatan akal manusia. Ketika penjajahan fisik terhapus pasca-Perang Dunia II, neoimperialisme pun menjadi jalan keluarnya.

Dalam Kitab Mafaahim Siyasiyah Li Hizbit At-Tahriir, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa negara-negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin, sekalipun mereka secara fisik sudah merdeka, tetapi sebenarnya mereka masih terjajah oleh negara-negara adidaya (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Cina, dsb. -pen). Mereka terjajah dengan penjajahan gaya baru (neoimperialisme) yang tidak lagi bertumpu pada dominasi militer (sebagaimana terjadi pada “penjajahan gaya lama”), melainkan pada berbagai aspek lainnya.

Di antaranya adalah aspek ekonomi melalui jerat utang luar negeri, berbagai perjanjian ekonomi dan perdagangan, dengan “rencana pembangunan”, dan sebagainya, di samping tekanan politik dan embargo-embargo. Negara-negara adidaya melakukannya karena meyakini imperialisme sebagai pemikirannya dan menggunakan kekuatan untuk mewujudkannya. Semuanya berujung pada penderitaan dan penindasan terhadap manusia.

Tidak hanya itu, penjajahan juga menimbulkan bahaya bagi stabilitas regional maupun internasional. Bukti tentang hal ini dapat kita saksikan dan rasakan hingga saat ini. Krisis Kongo, Timur Tengah, dan Myanmar yang menyebabkan jutaan rakyat mengungsi, menderita, dan tanpa harapan hidup, adalah contoh bahaya penjajahan atas stabilitas dan kemanusiaan.

Collin Powel tentang terbunuhnya lebih dari 200 ribu rakyat Irak dalam Perang Teluk pada era Bush Senior, dengan enteng ia menjawab, ”Tidak peduli dengan angka-angka itu.”

Madeline Albright (Menlu AS era Clinton) tentang jumlah korban rakyat Irak yang mencapai 800 ribu lebih akibat embargo PBB, ia hanya menjawab, “We think the price worth it.” (Kami kira itulah harga yang pantas untuk itu). Jadi, mereka menganggap membunuh ratusan ribu nyawa adalah harga yang pantas demi kejayaan kapitalis!

Sungguh menyesakkan. Namun, ketika ada satu atau dua orang teroris melakukan aksinya hingga jatuh beberapa korban, dunia langsung mengutuknya. Pada saat yang sama, perlakuan negara-negara adidaya terhadap negara-negara lemah—yang mayoritasnya adalah negeri muslim—, tak pernah membuat mereka mendapat predikat negara teroris. Padahal, sejatinya merekalah ‘the real terrorist’!

Siapa Merendahkan Perempuan?

Islam mendapat tuduhan telah memarginalkan dan merendahkan perempuan, padahal kapitalismelah yang merendahkan perempuan. Kapitalisme mengharuskan perempuan bersaing dengan kaum laki laki dalam segala bidang.

Baca juga:  [News] COP26 Memberikan Pemulihan Hijau di Seluruh Dunia?

Dalam pandangan kapitalisme, perempuan harus bekerja keras menafkahi dirinya sendiri, bahkan keluarganya. Demi bekerja, perempuan rela keluar malam tanpa siapa pun yang menemani, dan hal yang lumrah bagi perempuan dalam sistem ini. Di daerah miskin, perempuan harus siap menjadi pekerja kasar, seperti pemecah batu, pengangkut beras berkarung-karung, dan sebagainya. Bahkan, demi kebebasan pula, perempuan bebas berpakaian dan bertingkah laku seperti apa pun. Wajar jika mereka mudah menjadi objek kekerasan seksual. Inikah maksud dari memuliakan perempuan?

Sebaliknya, Islam sama sekali tak merendahkan perempuan. Islam sangat memuliakan perempuan. Dalam Islam, perempuan adalah kehormatan yang harus terjaga. Dengan kaidah tersebut, syariat Islam mengatur untuk bisa melindungi dan menjaga kaum perempuan.

Terkait pakaian, syariat Islam mengatur agar muslimah menutup semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Ketika bepergian dengan jarak safar, kaum perempuan wajib bersama mahramnya. Perempuan tidak wajib mencari nafkah, akan tetapi Islam mewajibkan para ayah dan suami untuk menafkahi mereka. Juga terdapat berbagai aturan lainnya. Semua ini adalah ketetapan Allah Swt. untuk memuliakan dan menjaga kehormatan perempuan.

Khatimah

Demikianlah, nyata bahwa ancaman serius negeri ini—juga dunia pada umumnya—bukanlah radikalisme terorisme yang mereka identikkan dengan Islam, melainkan kapitalisme. Agar umat tidak meng-ihsas (merasakan) bahaya kapitalisme ini, Barat meracuni umat dengan sekularisme, liberalisme, pluralisme, juga moderasi beragama, sehingga umat makin jauh dari Islam dan syariatnya.

Umat menjadi muslim moderat yang ‘lemah dan sakit’, sehingga tak mampu melawan, bahkan tak berniat melawan negara-negara adidaya tersebut dengan segala pemikiran kufurnya. Sedangkan bagi mereka yang tampak menggeliat dan mencoba melawan, akan dijegal, di-framing negatif sebagai radikal, hingga diadu domba dengan berbagai kelompok muslim lainnya yang seharusnya menjadi teman dan penjaga mereka.

Akankah kita diam saja? Tentu tidak! Oleh karenanya, kita perlu terus memahamkan umat bahwa kapitalisme adalah ancaman nyata bagi umat Islam, juga umat manusia secara keseluruhan. Hanya dengan tegaknya Khilafah yang akan menerapkan hukum-hukum Allah secara kafah, dunia akan selamat dari segala bentuk keburukan dan penderitaan akibat kapitalisme.

Mahabenar Allah dengan firman-Nya,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al-Maidah [5]: 50). Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

3 komentar pada “Ancaman Serius Dunia Adalah Kapitalisme, Bukan Radikalisme Terorisme

  • Ulasan yg bagus sekali. Mohon opini yg detil seperti ini lebih disederhanakan lagi tapi intinya seperti ulasan tersebut dan lebih banyak dimuat lagi agar bisa dishare ke publik dan media sosial. Jazakumullah pencerahannya.

    Balas
    • Muslimah News

      Terima kasih atas masukannya. Wa jazakumullah khairan.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *