Tapak Tilas

[Tapak Tilas] Saat Islam Menembus Kaukasus Utara

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Kaukasus adalah sebutan untuk daerah antara Laut Kaspia dan Laut Hitam, termasuk kawasan pegunungan Kaspia. Daerah ini terbagi antara Kaukasus Selatan dan Kaukasus Utara.

Kaukasus Selatan disebut juga sebagai Transkaukasia. Daerah ini merupakan perbatasan antara wilayah Eropa Timur (Rusia) dan Asia Barat Daya (Turki dan Iran). Terdiri dari Armenia, sebagian besar Georgia dan Azerbaijan.

Adapun Kaukasus Utara ada di daerah pegunungan Kaukasus. Daerahnya meliputi Ossetia Utara, Ossetia Selatan, Kabardino-Balkari, Abkhazia, Chechnya, Ingushetia dan Dagestan. Semuanya kini termasuk dalam Federasi Rusia.

Pada masa lalu, kedua wilayah ini sempat berada dalam kekuasaan Imperium Sassanid dan kristen Romawi. Lalu bersamaan dengan futuhat yang dilakukan pasukan Islam ke wilayah Asia Tengah, dakwah Islam pun masuk ke Kaukasus.

Sekira 640 M Armenia yang Kristen tunduk pada kekuasaan Islam tanpa perang. Meski begitu, mayoritas penduduknya tetap dalam agamanya. Selanjutnya terbukalah pintu dakwah ke wilayah Kaukasus lainnya, baik di bagian selatan maupun di kawasan utara.

Kawasan Asia Tengah. Foto: Wikipedia.

Kaukasus Utara Masuk Khilafah Islam

Kawasan yang pertama menerima sentuhan Islam adalah Kota Derbent di Dagestan. Konon, di tempat ini terdapat makam 40 sahabat Nabi, seperti sahabat Abdurahman bin Rabi` dan Salman bin Rabi` ra..

Tak seperti Armenia, penduduk wilayah Darbent dengan mudah memeluk Islam. Di kota ini, penguasa Islam dari Kekhalifahan Umayyah mendirikan masjid pertama sebagai pusat dakwah Islam. Masjid ini bernama Masjid Juma.

Dari kota inilah dakwah tersebar ke wilayah Kaukasus Utara dan yang lainnya. Wajar jika kota Derbent ini dikenal sebagai Gerbang Kaspia atau Pintu dari Segala Pintu (Baab al-Bwaab).

Pada 743 M, seluruh wilayah Kaukasus Utara tunduk di bawah panji kekuasaan Kekhalifahan Umayyah tanpa peperangan. Kawasan Dagestan, Chechnya, dan Ossetia bahkan menjadi basis Islam yang sangat kuat di Rusia.

Pada abad ke-10 M, Kerajaan Bulgaria yang berpusat di Volga pun menerima Islam. Dalam tulisan-tulisan sejarah disebutkan bahwa Kerajaan Bulgaria menjadi kerajaan Islam pertama di Rusia. Padahal, bisa jadi yang dimaksud adalah kerajaan ini menjadi wilayah (setingkat kegubernuran) bagi kekhalifahan.

Sepanjang ada di bawah kekuasaan Islam, wilayah Kaukasus Utara tumbuh sebagai salah satu pusat kebaikan. Terlebih pada masa Abbasiyah, Khalifah Harun al-Rasyid tercatat beberapa kali pernah tinggal di Kota Derbent. Kehadiran beliau berhasil meningkatkan reputasi kota ini sebagai pusat seni dan perdagangan.

Dari tempat ini lahirlah para pejuang Islam yang siap mempertahankan kebenaran. Bahkan hingga saat ini, penduduk daerah Dagestan dikenal sebagai pegulat-pegulat tangguh dan tetap memegang teguh ajaran Islam. Salah satu yang fenomenal adalah Khabib Nurmagomedov.

Menjadi Wilayah Rebutan Bangsa-Bangsa

Geopolitik wilayah Kaukasus Utara dikenal sangat strategis. Masuk dalam jalur sutra yang menghubungkan Timur Tengah dan Eropa, menjadikan kawasan ini sebagai wilayah rebutan bangsa-bangsa besar di sekelilingnya.

Wilayah Kaukasus. Foto: Wikipedia.

Pada masa pra Islam, wilayah Kaukasus Utara pernah dikuasai Sassanid dan Romawi. Lalu pada masa Islam, kekuasaan berganti-ganti dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Timur Lenk, dan Utsmaniyah. Hanya saja, pada masa Abbasiyah, wilayah ini sempat dianeksasi oleh pasukan Mongolia yang sudah menguasai Cina.

Kekuasaan Utsmani sempat menjadi kekuatan adidaya pada abad ke-15 M hingga 17 M. Pada masa ini, wilayah Kaukasus menjadi wilayah yang sangat stabil dan sejahtera. Namun, saat kekuasaan Utsmaniyah melemah, kekaisaran Rusia mulai mencari celah untuk merebut Kaukasus Utara. Sejalan dengan upayanya merebut Kekhanan Krimea di perbatasan Eropa, pasukan Rusia pun mulai menganeksasi Kaukasus Utara.

Antara tahun 1768—1774 M, perang antara Khilafah Utsmani dan Rusia terjadi. Pada perang ini, pihak Khilafah kalah, maka sebagian wilayahnya berhasil direbut oleh Rusia, termasuk wilayah di Kaukasus Utara.

Hal ini tentu saja memunculkan semangat jihad dari kalangan kaum muslim di sana. Apalagi saat mengolonisasi wilayah itu ke dalam kekaisarannya, Rusia melakukan berbagai kekerasan terhadap penduduknya.

Pada 1785 M, muncullah perlawanan di Chechnya, dipimpin oleh Syekh Mansyur yang penuh karisma. Ia bercita-cita mengusir Rusia dan menyatukan kembali Kaukasus dalam pemerintahan Islam. Namun, sebelum cita-cita itu terwujud, beliau syahid di jalan Islam.

Di Dagestan juga muncul tokoh perlawanan bernama Syekh Syamil. Juga muncul nama-nama lain, seperti Imam Gazhi-Magomed, Gamzat-Bek, dan Tashov-Khadzi yang memimpin perlawanan melalui jihad fi sabilillah.

Perjuangan mereka ini tak sia-sia. Pada 1834 M Imam Syamil berhasil mewujudkan impian Syekh Mansyur menyatukan seluruh pejuang di Kaukasus Utara dalam satu perlawanan melawan Rusia. Hingga pada akhirnya beliau berhasil mengembalikan kawasan ini ke pangkuan Islam selama 27 tahunan.

Jejak Islam di Rusia. Foto: Detikcom.

Kejamnya Kekuasaan Soviet

Sayangnya, pada masa selanjutnya, konflik internal melemahkan kekuatan umat Islam. Wilayah Kaukasus pun berhasil direbut kembali oleh kekaisaran Rusia. Pada periode kedua penjajahan ini, Rusia mulai menerapkan politik lunak pada wilayah jajahannya.

Rusia pun mulai membangun pendidikan, ekonomi, perdagangan, dan infrastruktur. Tentu saja semua ini dilakukan hanya demi kepentingan penjajah. Namun, taktik ini membuat perlawanan agak mereda. Hingga pada 1917 M di Rusia terjadi Revolusi Bolsevik yang mengubah wajah ideologi politiknya.

Lalu pada 1924, payung politik umat Islam—Khilafah Utsmani—di Turki runtuh. Peluang merebut kembali Kaukasus Utara ke pangkuan Islam hanya bertumpu pada perjuangan sporadis umat Islam.

Dua tahun sebelum itu, tepatnya pada 1922, Lenin yang memenangi Revolusi Bolsevik mengubah Rusia menjadi negara Republik Sosialis Soviet (USSR). Dengan demikian, seluruh koloninya—termasuk wilayah-wilayah di Kaukasus Utara—menjadi bagian dari negara berideologi sosialisme komunisme ini.

Di bawah Uni Soviet, kehidupan umat Islam di Kaukasus Utara sangat tertekan. Sosialisme komunisme tak bisa bersisian dengan Islam. Ibadah, simbol-simbol Islam, dan segala bentuk pergerakan diberangus dengan kejam.

Hingga tibalah saat Uni Soviet bubar pada 1991. Beberapa negara bagian di Asia Tengah dan Balkan satu per satu memerdekakan dirinya. Sementara wilayah di Kaukasus Utara berhasil dipertahankan Rusia yang mengklaim diri sebagai pewaris Soviet satu-satunya.

Kaukasus Utara pun masuk dalam federasi Rusia. Keberadaan penguasa antek membuat Kaukasus Utara kehilangan peluang menjadi negara merdeka.

Meneteskan Air Liur Amerika

Selain membangkitkan kerakusan negara Rusia, runtuhnya Uni Soviet pun membangkitkan kerakusan Amerika Serikat. Ia ingin agar wilayah bekas jajahan Soviet masuk dalam cengkeramannya. Terlebih Amerika tahu, kawasan Kaukasus ternyata menyimpan kekayaan luar biasa. Potensi minyak, gas alam, batu bara, mangan, tembaga, dan lainnya, tersimpan dengan jumlah sangat besar di sana.

Secara geopolitik, wilayah ini pun sangat vital untuk dikuasainya. Maklum, kawasan ini adalah paru-paru bagi Rusia sekaligus gerbang belakang bagi Cina. Keduanya adalah ancaman besar bagi hegemoninya.

Realitas penjajahan politik dan ekonomi inilah yang memicu kembali perlawanan umat Islam. Pergerakan Islam dimulai dari hadirnya kelompok Islam ideologis yang mendakwahkan kewajiban mengembalikan kekhalifahan.

Di Dagestan, kelompok Hizb ut-Tahrir yang mengusung ide Khilafah mendapat sambutan luar biasa. Pada saat yang sama, di Chechnya, muncul kelompok-kelompok militan yang melakukan perjuangan bersenjata melawan penjajahan Rusia dan Amerika.

Pengaruh pergerakan pemikiran dan perjuangan bersenjata ini lalu menular dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Hingga semangat perlawanan menyebar di seantero Asia Tengah, Balkan dan Kaukasus Utara. Bahkan, Dagestan distigma sebagai wilayah paling berbahaya di Eropa. Padahal, gerakan Hizb ut-Tahrir yang berkembang di sana bukanlah gerakan bersenjata sebagaimana yang bergerak di Chechnya.

Di Bawah Panji GWOT ala Amerika

Pada masa itu, seruan penegakan Islam dan Khilafah tak hanya menggema di Kaukasus Utara, Asia Tengah, dan Balkan saja. Ide penegakan Khilafah benar-benar menjadi fenomena di seluruh dunia.

Itulah sebab penguasa tunggal Amerika merasa perlu menggagas strategi perang global melawan teror di bawah komandonya. Kaukasus Utara khususnya masalah Chechnya dan Dagestan pun menjadi isu internasional yang dikontrol Amerika.

Monsterisasi dan kriminalisasi Khilafah dilakukan secara masif melalui media massa. Muncullah nama Al-Qaeda, Jamaah Islam, Osamah bin Laden, 1S1S, dan sejenisnya. Semua itu ditampilkan sebagai musuh bersama.

Sebagai negara yang paling berkepentingan, Amerika menggunakan kekuatan politik dan ekonominya untuk menekan para penguasa muslim agar berjalan bersamanya. Amerika tak ingin membiarkan potensi Islam menjadi alarm kematian bagi hegemoninya.

Di luar itu, Amerika dan anteknya masif melakukan politik adu domba. Moderasi Islam dan sekularisasi masif diaruskan melalui kebijakan pendidikan dan media massa. Targetnya mendangkalkan akidah dan pemahaman tentang syariat Islam sebagai rahasia kebangkitannya.

Sejauh ini, Amerika memang telah berhasil mencapai tujuan perjuangannya. Ide Khilafah seakan teralienasi dari mayoritas kaum muslimin di dunia. Penduduk Kaukasus Utara kini sibuk dengan agenda kesukuan yang dikukuhkan oleh para penguasa antek Amerika dan Rusia.

Akankah Amerika benar-benar mencapai ambisinya?

Agenda Bersama Umat

Semestinya, umat Islam di seluruh dunia, termasuk muslim di Kaukasus Utara, menyadari akan situasi buruk yang dihadapinya. Bahwa akar problem kondisi mereka adalah akibat ketiadaan Khilafah Islam dan tak diterapkannya Islam dalam kehidupan.

Mereka harus menjadikan Khilafah Islam ini sebagai visi perubahan. Khilafahlah yang akan menyatukan kembali kekuatan mereka dan menyolusi seluruh problem akibat penjajahan sistem sekuler ala Rusia dan Amerika.

Hanya saja, mengembalikan Khilafah tentu butuh aktivitas dakwah yang masif, terorganisir, dan berskala global. Dakwah seperti ini hanya bisa dilakukan oleh jemaah yang terbukti konsisten menapaki jalan perjuangan Rasulullah ﷺ. [MNews/Gz]

2 komentar pada “[Tapak Tilas] Saat Islam Menembus Kaukasus Utara

  • Sekalian dibuat film Jejak Khilafah di Kaukasus Utara ?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *