Resensi Buku

[Resensi Buku] Mitos Geopolitik, Kunci Imperialisasi Global Barat

Judul buku: Mitos-Mitos Palsu Ciptaan Barat
Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

MuslimahNews.com, RESENSI BUKU — Geopolitik adalah bidang kajian hubungan antara kekuatan politik dengan ruang geografis. Jika politik berkaitan dengan penerapan kekuasaan, geopolitik melihat kekuasaan berdasarkan posisi geografis dan sumber daya alam yang ada di suatu wilayah/kawasan.

Bagi Barat, hal ini sangat penting karena ternyata geopolitik memiliki peran kunci bagi Barat dalam rangka menancapkan hegemoni serta menyebarkan ideologi kapitalisme. Terkhusus pada aspek maritim, Barat yang dalam hal ini pernah terwakili oleh Imperium Inggris, menggunakan laut sebagai jalur perdagangan sekaligus penguasaan kawasan di seberang negerinya.

Kita tentu tahu bahwa mayoritas lokasi negara-negara persemakmuran Inggris ada di seluruh dunia. Dengan kata lain, bukan negeri-negeri yang lokasi geografisnya berdekatan dengan Inggris itu sendiri. Karena itu, hal ini berkelindan bahwa tidak kalah urgen bagi kaum muslimin dan dunia Islam untuk memahami geopolitik. Geopolitik justru memainkan peran sentral bagi kaum muslimin untuk mengenal situasi dan konstelasi politik global.

Dalam kacamata ideologi Islam, proporsi geopolitik tak hanya demi perjuangan Islam sebagai capaian politik luar negeri, tetapi juga guna mengekspos keroposnya kapitalisme Barat.

Baca juga:  Presiden Suriah Bashar al-Assad akan Berkunjung ke Korea Utara

Asal tahu saja, Barat menanam sebagian besar benih perang pada masa modern demi persaingan industri dan perdagangan. Profit dan harta kekayaan memang sasaran imperialisasi ideologi kapitalisme Barat pada saat menghisap daerah-daerah jajahannya.

Oleh karenanya, dengan mengetahui letak kelemahan Barat—khususnya dari aspek geopolitiknya yang tak lain adalah bekal utama imperialisasinya—tentu dunia Islam harus termotivasi untuk mendesain kekuatan yang mampu menghancurkan Barat selaku institusi kufur di muka bumi.

Mitos ala Barat

Selama ini, Barat berhasil menutupi segala kelemahan itu. Mereka mampu menyembunyikan krisis sosial dan ekonomi di balik supremasi dan mitos-mitos yang mereka ciptakan melalui liciknya penjajahan.

Setidaknya terdapat 24 mitos yang Barat ciptakan demi menjaga supremasi mereka selama ini. Terlebih dengan adanya dukungan Revolusi Industri, Barat ibarat menapaki langkah yang kian mantap mengibarkan supremasi itu secara global.

Pada sisi lain, kemunduran berpikir telah melanda dunia Islam. Keruntuhan Khilafah pada 1924 menyebabkan dunia Islam benar-benar lemah. Kaum muslimin terpasung dalam sekularisasi yang tidak lain adalah bagian penjajahan pemikiran—produk Barat sebagai upaya memperluas hegemoni politik internasionalnya.

Tak pelak, kelemahan ini memudahkan Barat menguasai dunia Islam hingga memecah belahnya menjadi lebih dari 50 negara. Barat telah menyekat negeri-negeri muslim dengan ide sesat nasionalisme. Pada saat yang sama, mereka—kaum muslimin—telah meninggalkan ideologi Islam dan menganggapnya ketinggalan zaman. Dampaknya, kaum muslimin sibuk memikirkan nasibnya sendiri, alih-alih peduli dengan peran penting geopolitik sebagai kunci visualisasi terhadap dunia internasional.

Baca juga:  Anak-Anak Palestina Jadi Sasaran Teror Israel

Tak hanya itu, Barat bahkan dengan keji melakukan stigmatisasi terhadap Islam melalui ide terorisme dan islamofobia yang mereka lancarkan melalui propaganda media. Akibatnya, bukannya makin bangkit, dunia Islam malah makin terpuruk. Kaum muslimin krisis jati diri, identitas keislamannya tergerus oleh pemikiran Barat.

Di setiap negeri muslim, Barat dan para penguasa bonekanya juga menanamkan sistem demokrasi yang menambah kuat jerat penjajahan Barat. Penjajahan itu pun sempat berjaya, bahkan mampu memalingkan benak kaum muslimin hingga mereka silau akan kehebatan Barat, kendati semua itu semu belaka.

Peralihan Bandul Geopolitik Global

Namun, kini telah tiba masanya. Berbagai analisis kebangkitan dunia Islam bermunculan, bahkan oleh para pakar dari Barat sendiri. Prediksi National Intelligence Council (NIC)—selaku penyedia informasi terbaik dan penting yang melandasi kebijakan presiden AS—akan tegaknya kekhalifahan global, pernah mereka rilis dalam Mapping The Global Future pada 2004. Kaum muslimin dan dunia Islam harus menyadari penuh bahwa Barat sejatinya telah memprediksi kehancuran dirinya sendiri.

Sungguh, kesempatan beralihnya bandul geopolitik global menuju kebangkitan Islam akan selalu ada asalkan kaum muslimin mengambil kembali ideologi Islam sebagai identitas mereka, dalam format institusi Khilafah Islamiah. Wajib untuk memosisikan aturan Allah Swt. sebagai pengatur kehidupan agar kehidupan ini kembali kepada fitrah penciptaan. Karena keberadaan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah bentuk supremasi yang mendunia.

Baca juga:  Pengibaran Bendera Israel dan Tradisi Terorisme Kaum Zionis

Rasulullah saw. bersabda, “ … Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).

Hanya orang-orang mukmin yang bisa meyakini janji Allah dan bisyarah Rasul-Nya. Kemenangan akan Dienullah itu hanya bisa terwujud oleh orang-orang yang memperjuangkannya. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *