Kisah InspiratifSahabat Nabi

[Kisah Inspiratif] Usaid bin Hudhair, Salah Satu dari Sebaik-baik Lelaki

Penulis: Ruruh Anjar

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abu Bakar. Sebaik-baik lelaki adalah Umar. Sebaik-baik lelaki adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Sebaik-baik lelaki adalah Usaid bin Hudhair. Sebaik-baik lelaki adalah Tsabit bin Qais bin Syammas. Sebaik-baik lelaki adalah Muadz bin Jabal. Sebaik-baik lelaki adalah Muadz bin Amr bin al-Jamuh.” (Sunan at-Turmudzi)

Usaid bin Hudhair bin Abdul Asyhal al-Anshari رضي الله عنه adalah sahabat dari kalangan Anshar, tepatnya dari suku Aus. Ia termasuk yang pertama memeluk Islam. Ia merupakan sosok ksatria dan terpelajar, mampu menulis, berenang, dan piawai dalam memanah.

Mengenal Islam

Awal mula mengenal Islam justru didapatnya ketika ingin melabrak Mush’ab bin Umair yang datang ke Madinah untuk memahamkan masyarakat Madinah dengan Islam.  

Mush’ab menyiapkan kesadaran masyarakat Madinah untuk tegaknya hukum-hukum Allah secara kafah. Saat itu, pasca-Baiat Aqabah I, kaum Anshar kembali ke Madinah bersama Mush’ab yang diutus oleh Rasulullah.

Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. Di Madinah ini, Mush’ab begitu gencar mendakwahkan Islam dan menarik banyak penduduk Madinah untuk berislam.  

Tokoh mereka, Sa’ad bin Muadz, tidak tinggal diam. Ia mengutus Usaid bin Hudhair untuk menemui Mush’ab bin Umair dan As’ad bin Zurarah. “Pergilah! Temui dua orang itu. Keduanya datang untuk menipu orang-orang lemah di tengah kita. Cegahlah mereka! As’ad bin Zurarah itu anak dari bibiku, kalau bukan karena itu, aku sendiri yang akan mengurusnya,” kata Sa’ad kepada Usaid. Sa’ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair adalah dua pemuka Bani Asyhal.

Usaid bin Hudhair segera mengambil tombaknya. Lalu berangkat menemui Mush’ab dan As’ad. Saat As’ad melihat kedatangan Usaid, ia berkata kepada Mush’ab, “Ini adalah pemuka kaumnya. Ia telah datang menemuimu. Ikhlaslah kepada Allah dalam menghadapinya.”

As’ad berharap kalau pemuka bani Abdul Asyhal ini akan menerima dakwah Mush’ab. “Kalau dia mau duduk, aku akan bicara dengannya,” kata Mush’ab.

Bertemu Mush’ab bin Umair

Usaid bertemu dan tiba di hadapan keduanya. Ia mulai melabrak mereka berdua dan berkata, “Apa yang kalian berdua ajarkan! Kalian mau membodohi orang lemah di tengah kami?! Pergi! Tinggalkan kami kalau kalian masih mau hidup!”

Mush’ab menjawab dengan lembut, “Bagaimana kalau engkau duduk dulu dan mau mendengarkan? Kalau yang kau dengar kau ridhai, terimalah. Namun, kalau yang kau dengar adalah sesuatu yang kau benci, aku tak akan melanjutkan apa yang tak kau sukai.”

Usaid setuju. Ia menancapkan tombaknya serta duduk bersama keduanya. Mush’ab mulai berbicara tentang Islam dan membacakannya Al-Qur’an.

Setelah itu, Mush’ab dan As’ad berkata, “Demi Allah, sebelum berbicara dengannya (lebih jauh) kami tahu dari wajahnya yang berseri dan teduh kalau ia telah menerima Islam.”

Usaid berkata, “Alangkah bagus dan indahnya ucapan itu (Al-Qur’an). Apa yang kalian lakukan kalau ingin memeluk agama ini?” Keduanya menjawab, “Mandi dan bersucilah. Bersihkan pakaianmu, lalu bersyahadatlah dan kerjakan salat.”

Usaid pun berdiri. Ia mandi dan bersuci, lalu membersihkan pakaiannya. Setelah itu ia bersyahadat dengan syahadat yang tulus, lalu salat dua rakaat.

Setelah itu, Usaid berkata kepada Mush’ab, “Sesungguhnya di belakangku terdapat seseorang (yaitu Sa’ad bin Muadz), kalau dia sampai mengikuti kalian berdua, pasti tak seorang pun dari kaumnya yang ketinggalan mengikutinya. Aku akan datangkan dia kepada kalian berdua sekarang.”

Kemudian ia meminta Sa’ad bin Muadz menemui Mush’ab. Sa’ad bin Muadz pun memeluk Islam dan menjadi wasilah berbondong-bondongnya suku Aus, masuk Islam.

Bersama Rasulullah

Pernah saat Rasulullah telah bersama mereka di Madinah, Usaid bin Hudhair رضي الله عنه mencandai Rasulullah ﷺ dengan menuntut qishash pada beliau.

Usaid bin Hudhair berkata, “Saat ia sedang bercanda dan membuat orang-orang tertawa, Rasulullah ﷺ mencolok pinggangnya dengan kayu. Usaid berkata, ‘Aku meminta balas atas apa yang Anda lakukan.’

Beliau berkata, ‘Balaslah.’ Usaid berkata lagi, ‘Anda memakai baju, sedangkan aku tadi tidak.’ Lalu Rasulullah ﷺ melepas bajunya. Serta-merta Usaid mendekap beliau dan menciumi tubuh beliau, antara pinggang dan rusuk. ‘Yang kuinginkan itu hanya ini, wahai Rasulullah ﷺ (bukan membalas).’”

Dalam Perang Badar, Usaid bin Hudhair tidak turut serta dalam perang pertama umat Islam dengan orang-orang musyrikin Makkah itu. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah memberimu kemenangan dan membuatmu bahagia. Demi Allah wahai Rasulullah, aku tak turut serta di Badar karena aku tak menyangka Anda bertemu dengan musuh. Aku mengira Anda hanya mencegat kafilah Quraisy. Kalau aku tahu Anda akan berperang, pasti aku tak akan ketinggalan.” Rasulullah ﷺ berkata, “Iya, engkau berkata jujur.”

Meriwayatkan Hadis

Di antara para sahabat yang meriwayatkan hadis Rasulullah ﷺ dari Usaid bin Hudhair adalah Ummul Mukminin Aisyah, Anas bin Malik, Abdurrahman bin Abi Laila, Ikrimah bin Khalid bin al-Ash radhiallahu ‘anhu jami’an.

Aisyah رضي الله عنه  berkata, “Ada tiga orang dari Anshar yang keutamaannya tidak tertandingi oleh orang-orang Anshar lainnya. Mereka semua dari Bani Abdul Asyhal: Sa’ad bin Muadz, Usaid bin Hudhair, Ibbad bin Bisyr.”

Usaid bin Hudhair wafat pada 20 H dan dimakamkan di Baqi’. Kisahnya selalu membekas dengan beragam keutamaan, sosok yang senantiasa membela Islam hingga ajal menjelang. Wallahu a’lam. [MNews/Juan]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *