BeritaInternasional

[News] Hari Aborsi Aman Internasional, Pengamat: Rekayasa Barat agar Perempuan Bebas dari Aturan Agama

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Pengamat Masalah Perempuan, Keluarga, dan Generasi dr. Arum Harjanti menyatakan Hari Aborsi Aman Internasional setiap 28 September, sesungguhnya rekayasa Barat agar perempuan bebas dari aturan agama.

Safe abortion sesungguhnya rekayasa Barat untuk mewujudkan hak reproduksi dan seksual perempuan sesuai target dari International Conference for Population & Development (ICPD) dan Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) beserta seluruh produk turunannya. Barat menginginkan agar perempuan bebas dan tidak terikat aturan bahkan aturan agama, khususnya Islam,” ungkapnya kepada MNews beberapa waktu lalu.

Ia menyatakan upaya mewujudkan layanan aborsi aman ini pun makin gencar sebagai upaya terwujudnya SDGs pada tahun 2030. Ia menyebut Hari Kampanye Aborsi Aman Internasional ditetapkan untuk memperingati aksi kelompok-kelompok perempuan di Amerika Latin dan Karibia yang menuntut pemerintah mereka untuk menyediakan akses ke aborsi yang aman.

Ia mengatakan, mereka menuntut secara gencar legalisasi aborsi aman ini seolah menjadi solusi mengurangi kematian ibu, yang terdengar masuk akal dengan kaidah kesehatan. “Selain itu aborsi aman dianggap dapat menghilangkan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) akibat pergaulan bebas maupun tindak perkosaan. Sekaligus membebaskan beban ekonomi bagi pasangan yang sudah menikah,” jelasnya.

Baca juga:  [News] Tingginya Angka Aborsi, Kejahatan Besar!

Ia mengutip dari Asian-Pacific Resource and Research Centre for Women (ARROW) dalam ICPD+15, Indonesia termasuk negara Asia yang belum menunjukkan kemajuan dalam perihal indeks SRHR.

“Indeks SRHR di Indonesia menunjukkan rata-rata rendah sehingga harus “diperjuangkan” di Indonesia demi tercapai target ICPD dan semua agenda turunannya,” kritiknya.

Menyerang Islam

Hanya saja, ia menegaskan, kaum muslimin di Indonesia jelas menolak aborsi aman, meski dengan pengkhususan pada korban perkosaan dan KTD.

“Terlebih kampanye aborsi aman ini menyerang Islam. Untuk membuat sebagian muslim berpaling dari Islam demi menguatkan jargon my body my authority. Tentu saja ini bertentangan dengan Islam, yang mewajibkan setiap pemeluknya untuk terikat dengan aturan Allah, termasuk dalam mengelola tubuhnya,” cetusnya.

Ia berpendapat, legalisasi aborsi aman adalah jalan menuju liberalisasi perilaku seksual. “Dalam sudut pandang Barat, liberalisasi adalah hal yang wajar, karena mereka mendewa-dewakan hak asasi manusia. Mereka menganggap aturan Islam yang mengharamkan aborsi sebagai penghalang dalam mewujudkan SRHR dalam kehidupan,” terangnya.

Peran Negara

Ia memaparkan, secara fikih, Islam memperbolehkan aborsi jika kehamilan belum berusia 40 hari, demikian juga jika untuk menyelamatkan nyawa ibu. “Namun negara akan memberikan kontrol yang ketat dalam menetapkan aborsi pada kasus tersebut,” tukasnya.

Baca juga:  Aborsi, Ladang Bisnis Pelaku Bengis

Ia menguraikan, Islam mewajibkan negara untuk mengurusi rakyatnya termasuk persoalan kesehatan ibu. “Negara wajib menyediakan layanan dan sarana kesehatan berkualitas yang terjangkau. Negara menjamin kesejahteraan setiap rakyat, sehingga tidak ada aborsi karena alasan ekonomi. Juga menjamin keamanan sehingga tidak ada tindak kejahatan termasuk pemerkosaan,” tuturnya.

“Apabila terjadi pemerkosaan, negara akan menjamin kehidupan perempuan korban termasuk bila ia hamil. Juga menghukum pelaku pemerkosaan dengan hukum pelaku zina,” tambahnya.

Ia mengingatkan perzinaan merupakan dosa besar dalam Islam, pelakunya akan mendapatkan hukum rajam atau cambuk, sesuai status pernikahan pelaku zina. “Islam memiliki serangkaian aturan untuk mencegah hal itu. Islam mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan seperti melarang mendekati zina, larangan khalwat (berdua-duaan tanpa mahram) dan ikhtilat (campur baur),” tuturnya.

Lebih utama lagi, tegasnya, keimanan yang menjadi asas negara akan mencegah setiap individu sengaja melakukan aborsi, apalagi menjadikan aborsi sebagai solusi. “Islam mengharamkan aborsi karena sama dengan pembunuhan. Bahkan pembunuhan janin dikenakan diyat 10 ekor unta, yaitu 1/10 diyat pembunuhan orang dewasa,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *