BeritaNasional

[News] Pengamat: Berkomitmen terhadap Ajaran Agama, Merusak Dunia Pendidikan?

MuslimahNews.com, NASIONAL—Terkait intoleransi yang dimasukkan dalam tiga dosa besar pendidikan, Pengamat Pendidikan Yusriana mempertanyakan benarkah intoleransi merupakan permasalahan utama yang merusak di dunia pendidikan? Benarkah keberadaan para guru dan siswa yang berkomitmen terhadap ajaran agamanya, akan merusak dunia pendidikan?

“Selama ini isu intoleransi selalu mengarah pada sikap kaum muslimin yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang paripurna dalam segala aspek kehidupan. Yang perlu menjadi pertanyaan besarnya adalah, benarkah intoleransi merupakan permasalahan utama yang merusak di dunia pendidikan? Benarkah keberadaan para guru dan siswa yang berkomitmen terhadap ajaran agamanya, akan merusak dunia pendidikan?” tanyanya retorik kepada MNews, Senin (27/9/2021).

Menurutnya, pernyataan Mendikbudristek Nadiem Makarim tentang tiga dosa besar pendidikan yang terdiri dari intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual, bukanlah hal yang baru. Sejak awal tahun ini Nadiem sudah menyampaikan statement yang sama. “Hal ini menunjukkan komitmennya untuk membasmi apa yang dianggap sebagai keburukan dalam sistem pendidikan yang ada negeri ini,” ujarnya.

Ia menyatakan isu perundungan dan kekerasan seksual sebagai kerusakan yang harus dibasmi di dunia pendidikan tentu hal yang patut didukung. “Namun terkait intoleransi, yang bisa dimaknai dengan komitmen pada identitas Islam, sikap yakin dan berpegang teguh pada akidah Islam, serta konsisten dalam menjalankan seluruh aturan yang lahir dari akidah Islam, tentu ini adalah hal yang patut dikritisi,” cetusnya.

Baca juga:  [News] Arah Output Sistem Pendidikan Saat Ini, Ahmad Sastra: Tidak Jelas, Sempit, dan Gelap

Terlebih, lanjutnya, intoleransi dijadikan dosa nomor wahid seolah momok paling menakutkan yang paling merusak di dunia pendidikan. Sikap kaum muslimin yang teguh berislam paripurna dalam segala aspek kehidupan, seringkali dilabeli dengan fundamental, radikal, tidak menerima kebinekaan, dan yang semisalnya.

“Hampir tidak pernah kita dengar isu intoleransi ini ditudingkan kepada pemeluk agama lain. Artinya, yang dibidik adalah kaum muslimin yang berkomitmen menjalankan Islamnya secara kafah,” paparnya.

Merdeka Belajar

Ia mengemukakan bahwa upaya Nadiem menghapus intoleransi, akan dilakukan melalui program Merdeka Belajar, salah satunya dengan mengarusutamakan pendidikan karakter.

“Kemendikbudristek bahkan sampai mengubah sistem pemetaan mutu pendidikan nasional untuk bisa mengukur nilai-nilai Pancasila melalui survei karakter dan survei lingkungan belajar dalam paket Asesmen Nasional. Hal ini diperkuat dengan beberapa informasi seputar proses survei yang sudah berjalan di beberapa sekolah penggerak, di mana isu yang ditanyakan sejalan dengan muatan moderasi Islam,” terangnya.

Ia menegaskan, tentu ini semua mengonfirmasi bahwa program Merdeka Belajar dengan Asesmen Nasional sebagai indikator mutu pendidikan di negeri ini menjadi langkah strategis untuk menjauhkan—kalau tidak disebut—memberangus upaya kaum muslimin untuk berislam secara kafah.

“Bukan tidak mungkin bahwa nantinya sekolah yang dikatakan bermutu itu jika warga sekolah sudah tidak lagi memiliki komitmen yang tinggi terhadap penerapan ajaran agama (Islam)-nya, dan sudah menerima keberagaman dalam bingkai pluralisme,” sindirnya.

Baca juga:  Menyetop Tunjangan Guru, Kesejahteraan Kian Jauh

Ditambah lagi, paparnya, untuk menghapus intoleransi di dunia pendidikan ini juga, Nadiem menyebut pihaknya sedang menyiapkan materi kurikulum moderasi beragama bersama Kementerian Agama, untuk disisipkan dalam kurikulum Program Sekolah Penggerak.

“Maka semakin jelaslah, bahwa upaya penghapusan intoleransi ini memang sejalan dengan upaya memoderatkan dunia pendidikan kita.  Karena sebelumnya, Kementerian Agama merilis buku pedoman penguatan moderasi beragama yang akan jadi panduan di lembaga pendidikan, baik madrasah, sekolah, maupun perguruan tinggi,” tukasnya.

Ia menjelaskan ada empat pedoman yang dirilis, yakni buku saku moderasi beragama bagi guru, buku modul pelatihan penguatan wawasan moderasi bagi guru, pedoman mengintegrasikan moderasi pada mata pelajaran agama, dan buku pegangan siswa.

“Seandainya kita mau jujur, banyak hal yang harus dibenahi dalam dunia pendidikan kita saat ini. Bagaimana dengan liberalisasi pergaulan yang nyata-nyata telah menjerumuskan para siswa bahkan guru pada kemaksiatan? Mengapa kasus-kasus seks bebas, aborsi, perselingkuhan dan lainnya di dunia pendidikan tidak dianggap sebagai dosa yang harus dibasmi?” tanyanya lugas.

Arah Pendidikan

Ia mengingatkan yang paling fundamental adalah mau dibawa ke mana arah pendidikan kita ini. “Sudah berpuluh tahun kita bergelut dengan sistem pendidikan sekuler kapitalisme yang tidak pernah berhenti melahirkan masalah dan kerusakan. Sekarang ditambah lagi dengan upaya semakin menjauhkan Islam dari dunia pendidikan,” ungkapnya miris.

Baca juga:  Sekularisasi Pendidikan dan Invasi Pemikiran Korosif

Ia menekankan, Indonesia sebagai negeri yang mayoritas penduduknya muslim, sudah sewajarnya jika menghendaki syariat Islam yang diyakininya dapat dijalankan.

“Menjauhkan umat dari Islam kafah sama saja menjauhkan mereka dari keridaan Ilahi, dan ini tidak akan membawa pada kebahagiaan. Justru akan berdampak pada kerusakan dan kemurkaan Ilahi,” tandasnya seraya mengutip firman Allah Swt,

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.[QS. Thaha: 124] [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *