Opini

Nasib “Ngenes” Nakes, dari Korban Wabah Covid hingga Teror KKB

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI — KKB (Kelompok Separatis Teroris OPM) di Papua kembali berulah. Kali ini sasarannya adalah puskesmas dan tenaga kesehatan (nakes) di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (tempo.co, 17/9/2021)

Para anggota OPM tersebut merusak dan membakar Puskesmas serta barak-barak tempat tinggal para nakes hingga ada korban jiwa. Mereka juga menari-nari usai merusak dan membakar fasilitas kesehatan. Bahkan, mereka melakukan tindakan keji dan tidak berperikemanusiaan (pelecehan) terhadap tiga tenaga kesehatan perempuan. (sindonews.com, 18/9/2021)

Nakes Ngenes

Sungguh ngenes saudara-saudara kita para nakes. Kita tentu masih ingat bagaimana angka kematian nakes akibat pandemi Covid-19. Betapa angka kematian nakes di Indonesia pernah mencapai yang tertinggi di dunia.

Dikutip dari nakes.laporcovid19.org, per 28/9/2021, jumlah nakes yang wafat di Indonesia akibat terjangkit Covid-19 telah mencapai angka 2.032 jiwa. Dari angka tersebut, jumlah kematian tertinggi terjadi pada profesi dokter (730 orang). Posisi tertinggi kedua adalah kematian perawat (670 orang).

Selama September 2021 ini, jumlah nakes yang wafat akibat Covid-19 mencapai 6 orang. Namun, lihat ketika ada varian Delta pada Juli lalu, angka kematian nakes melejit mencapai angka 499 orang.

Angka kematian nakes tersebut bukanlah angka yang kemudian akan terganti secara instan. Mengingat, menjadi seorang nakes juga butuh keahlian dan pengalaman.

Maka, bayangkan yang terjadi dengan para nakes di Puskesmas Kiwirok Papua tadi. Betapa lancang para anggota kelompok separatis semacam OPM menyerang objek-objek vital publik hingga mengancam jiwa nakes, bahkan melebar mengancam keselamatan masyarakat umum.

Tidakkah mereka paham arti penting nakes saat ini? Terlebih di daerah yang masih minim fasilitas dan tenaga kesehatan seperti di Papua. Pun apakah kita semua masih ingat beberapa tahun lalu? Ada seorang dokter dari Jawa yang bertugas di Papua, beliau sakit keras hingga akhirnya wafat melalui sakitnya tersebut akibat minimnya pertolongan medis.

Lantas, apakah dengan sikapnya itu OPM berhak mengklaim kelompoknya layak memisahkan diri dari negeri ini kemudian menjalankan pemerintahan mandiri? Pandangannya pada fasilitas publik saja terbukti sesat logika.

Berantas Kelompok Separatis

Tak berlebihan kiranya ketika pemerintah diseru untuk memberantas OPM. Serangan terhadap nakes di Papua ini semestinya menampar pemerintah agar berani bertindak tegas. OPM adalah teroris sesungguhnya di negeri ini.

Penggantian istilah bagi OPM dari “kelompok separatis” menjadi KKB (kelompok kriminal bersenjata) hendaklah jangan sampai mematikan alarm kita akan adanya para pemberontak yang mengancam kedaulatan negara. Demikian halnya, Indonesia semestinya bisa mandiri, lepas dari intervensi internasional dalam membuat kebijakan terkait OPM.

Jangan pula pemerintah terpengaruh oleh adanya dugaan jejaring oligarki yang tengah coba mengepakkan sayap ekonomi di Papua. Yang bukan hanya di tambang Grasberg “bekas” milik Freeport, tetapi juga Blok Wabu yang diduga sudah dikaveling oleh Cina. Pun jangan pedulikan seruan internasional yang konon menagih janji Indonesia terkait penegakan hak asasi manusia di Papua.

Bagaimanapun, sudah selayaknya Indonesia mandiri memutuskan kebijakan politik di Papua. Tanpa intervensi dan provokasi pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan kapitalistik. Namun, mampukah saat ini?

Islam Mengatasi Kelompok Separatis

Andai penumpasan kelompok separatis semacam OPM berdasarkan sistem Islam, niscaya permasalahan ini akan tuntas dan tersolusi dengan baik. Karena Islam adalah aturan yang berasal dari Sang Khalik.

Sungguh aktivitas KKB OPM sudah terkategori bugat (pemberontak). Mereka telah mengangkat senjata dan bertahan di suatu tempat tertentu, serta memiliki kekuatan militer tertentu yang melawan negara.

Dalam Islam, penanggulangan OPM tidak sebatas oleh kepolisian selaku penanggung jawab Departemen Keamanan Dalam Negeri, tetapi sudah harus dengan tindakan militer yang sepadan.

OPM telah berkeras menentang dan memerangi negara. Mereka juga menyerang masyarakat dan menghilangkan nyawa. Sanksi tepat bagi mereka hanyalah hukuman mati dan penyaliban, atau hukuman mati, atau tangan dan memotong kaki mereka secara bersilangan, atau mengasingkan mereka ke tempat lain.

Hal ini sesuai firman Allah Swt., “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (TQS Al-Maidah [5]: 33).

Khatimah

Peran Islam sebagai sistem yang menjaga jiwa dan memberi kemaslahatan luas bagi masyarakat, tak perlu diragukan lagi. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya?” (QS Al-An’am [6]: 157).

Maksud dari “petunjuk” dan “rahmat” pada ayat di atas adalah membawa manfaat bagi umat manusia, serta menjauhkan kemudaratan dari diri mereka. Inilah makna “maslahat”, yakni membawa manfaat dan mencegah mudarat. Kemaslahatan selalu menyertai syarak. Di mana ada syarak, pasti ada maslahat. Sebab syaraklah yang menentukan kemaslahatan bagi manusia selaku hamba Allah Swt.. Adakah kita masih ragu untuk diatur oleh Islam? [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *