Fokus

Benarkah Praktik Feminisme Sudah Ada Sejak Masa Rasulullah ﷺ?

Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS — Dalam bedah buku Feminisme Islam: Genealogi, Tantangan, dan Prospek, guru besar Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Nina Nurmila, menjelaskan bahwa praktik penegakan keadilan terhadap wanita sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw..

Menurut Nina, Islam yang dibawa oleh Rasulullah mengajarkan pentingnya keadilan, termasuk keadilan antara pria dan wanita. “Konsekuensi nilai keadilan itu tecermin dalam penolakan Islam terhadap tradisi bangsa Arab dahulu yang mengubur hidup-hidup anak wanita ketika baru lahir,” ujarnya. (nu.or.id)

Menurutnya, hal ini disinggung dalam QS An-Nahl: 59. “Ini merupakan praktik feminisme, hanya saja belum diistilahkan saat itu,” imbuhnya. Ia juga mengungkapkan, “Praktik feminisme zaman Nabi Muhammad juga tampak dalam masalah waris. Dulu pada masa Arab Jahiliah, wanita dianggap sebagai sesuatu yang bisa diwariskan, tetapi begitu Islam datang, wanita tidak hanya bisa menerima waris, juga bisa memberi harta waris. Ini merupakan reformasi yang sangat progresif pada masanya.”

Praktik feminisme pada zaman Nabi berikutnya, kata Nina, adalah monogami. Dulu, pada masa Arab jahiliah juga belum ada pembatasan memperistri. Ketika Islam datang, terjadi pembatasan dengan maksimal empat istri.

“Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah An-Nisa: 3, yaitu fangkiḫûmâthâbalakum minannisâ ’imatsnâ watsulâtsa warubâ’ ‘(maka nikahilah wanita-wanita yang kalian sukai, dua, tiga, atau empat). Ayat ini pun masih dibaca setengah-setengah oleh beberapa kalangan. Mereka mengabaikan fawâḫidatan (satu wanita),” ungkapnya.

Masih menurutnya, definisi feminisme sebagaimana tertulis dalam bukunya adalah kesadaran terhadap penindasan dan perendahan terhadap wanita karena jenis kelamin mereka, upaya untuk mengeliminasi penindasan atau subordinasi, serta untuk mencapai kesetaraan gender antara pria dan wanita. (nu.or.id)

“Spirit” Feminisme Telah Ada Sejak Masa Rasulullah?

Memang benar bahwa ketika Islam datang, Islam menghapuskan praktik penindasan terhadap wanita yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliah, yaitu mengubur bayi wanita hidup-hidup. Islam dengan segala aturannya menjunjung tinggi keadilan, hal ini pun benar.

Demikian halnya bahwa Islam memberikan hak waris kepada wanita walaupun dengan bagian yang berbeda, ini pun benar dan Rasulullah saw. telah mengajarkan hal ini kepada kita. Hanya saja, apakah tepat jika kita menyimpulkan bahwa ini semua adalah praktik feminisme yang dilakukan oleh Rasulullah saw.?

Sesungguhnya, apa yang diajarkan Rasulullah saw. tentang memuliakan wanita, sama sekali bukanlah feminisme, melainkan demikianlah Islam telah mengaturnya. Hukum-hukum syarak yang datang dari Allah Swt. telah menempatkan pria dan wanita dalam kedudukan yang sama dari sisi insaniyah, dan membedakan keduanya dalam kaitan dengan fitrah feminitas dan maskulinitasnya.

Baca juga:  Perempuan Mesin Ekonomi, Ekses “Point of View” Kapitalisme

Satu hal lagi yang perlu kita kritisi adalah berkaitan dengan definisi feminisme yang Dr. Nina sampaikan, yaitu kesadaran terhadap penindasan dan perendahan terhadap wanita karena jenis kelamin mereka, upaya untuk mengeliminasi penindasan atau subordinasi, serta untuk mencapai kesetaraan gender antara pria dan wanita.

Jika mencermati definisi ini dan kita kaitkan dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw., tidak ada satu pun aturan Islam yang menindas ataupun merendahkan wanita, apalagi ada subordinasi peran wanita sehingga dibutuhkan adanya kesetaraan gender antara pria dan wanita.

Bahkan, ketika pun seorang wanita menjadi ibu rumah tangga saja, Islam tidak menilainya rendah. Karena memang tugas utama wanita adalah sebagai ummun wa rabbatul bait. Islam telah dengan sempurna menetapkan tugas wanita sebagai ibu karena di pundaknya terletak kewajiban pengasuhan anak yang akan membawa anak-anaknya menjadi generasi berkualitas prima. Bukankah ini merupakan tugas mulia?

Terlebih lagi, Rasulullah saw. menjelaskan tugas mulia ini dalam sebuah hadis. Suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang kukatakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi seluruh pria dan wanita, kemudian kami beriman kepada Anda dan membaiat Anda. Adapun kami para wanita, terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum pria dan kami adalah tempat menyalurkan syahwatnya. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum pria mendapat keutamaan melebihi kami dengan salat Jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka, apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Kembalilah, wahai Asma’! Dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu, bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridaan suaminya, dan ketundukannya untuk senantiasa menaati suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum pria.”

Dari hadis Rasulullah saw. ini, sangat jelas bahwa Islam memberikan posisi yang sangat mulia kepada kaum wanita dan juga kepada pria. Hanya saja pada faktanya, fungsi dan kedudukan keduanya memang berbeda di tengah-tengah masyarakat, sehingga wajar jika Allah memberikan aturan yang berbeda kepada keduanya.

Feminisme Bukan dari Islam

Jika kita kembali menapaki sejarah, diakui atau tidak, sesungguhnya ide feminisme lahir akibat rasa frustrasi dan dendam terhadap sejarah (Barat) yang dianggap tidak memihak wanita. Perubahan sosial yang terjadi di Eropa pada abad ke-18, ketika sistem feodalisme digantikan oleh sistem kapitalisme, ternyata tidak serta-merta mengubah kondisi kaum wanita yang sejak semula memang tertindas dan tidak lebih dari warga negara kelas dua. Sehingga akhirnya memunculkan gerakan wanita pada abad ke-20.

Baca juga:  Kesetaraan Gender Menambah Derita Perempuan

Salah satu yang menonjol adalah Women’s Lib yang berpusat di Amerika yang orientasi gerakannya bersifat sosial politik dan perjuangannya dilakukan melalui parlemen atau dengan cara turun ke jalan (demonstrasi) maupun aksi pemboikotan. Pada tahap awal, isu perjuangan yang diangkat adalah persamaan hak untuk memilih, karena saat itu kaum wanita tidak boleh ikut pemilu. Pada 1948, sejumlah wanita berkumpul di Seneca Falls, New York, untuk menuntut hak-hak mereka dan sebagai reaksi atas pelarangan terhadap para wanita untuk berbicara di depan umum.

Setelah hak untuk memilih dipenuhi, gerakan ini agak tenggelam sehingga berkembang kembali pada tahun 60-an, terutama diilhami buku The Feminine Mystique, yang penulisnya menyatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai rumah tangga adalah faktor utama penyebab kepribadian kaum wanita tidak berkembang. Oleh karena itu, kaum wanita tidak harus menikah dan memiliki anak dan mereka dapat mengembangkan diri menjadi apa saja sebagaimana dilakukan oleh pria.

Inilah sebenarnya latar belakang kemunculan ide dan gerakan feminisme di Eropa dan Amerika. Meskipun kemudian lahir dalam berbagai ragam dan bentuk, sesungguhnya inti dari gerakan feminisme adalah pemberontakan terhadap tatanan masyarakat yang ada yang mereka anggap bersifat patriarki, termasuk terhadap ide-ide teologis (agama) dan institusi sosial kultural yang sering dituduh sebagai pangkal dari ketakadilan sistemis terhadap wanita. Gerakan feminisme diakui telah membawa banyak perubahan.

Akan tetapi, jika kita menelaah perkembangan ide ini di mana pun, kita akan mendapati kenyataan bahwa feminisme tidak akan membawa kebaikan apa pun. Bahkan, yang terjadi adalah makin rusaknya tatanan masyarakat akibat rancunya relasi dan pembagian peran di antara mereka. Feminismelah yang bertanggung jawab atas guncangnya struktur keluarga.

Masalahnya, ide ini telah meracuni para wanita untuk melepaskan diri dari ikatan dan tanggung jawab kekeluargaan, yang pada akhirnya menghilangkan peran lembaga keluarga itu sendiri. Padahal kita tahu, lembaga keluarga adalah tonggak dan asas pokok bagi sebuah masyarakat.

Selain itu, faktor-faktor buruk yang mewarnai masyarakat Barat dan Amerika, seperti merebaknya kasus perceraian, generasi ekstasi dan sabu-sabu, fenomena single parent, hingga seks bebas dan pelecehan seksual, sesungguhnya menjadi bukti kuat bagi kerusakan ide feminisme.

Baca juga:  Bagaimana Feminisme Mengembangkan Penghinaan-nya terhadap Pernikahan, Peran Keibuan, dan Keluarga Tradisional

Dari fakta sejarah dan sebagian pemerincian ide feminisme ini, tampak bahwa sesungguhnya ide feminisme ini tidak datang dari Islam dan bertentangan dengan ajaran Islam. Karenanya, pendapat yang menyatakan bahwa ide feminisme ini juga diemban oleh Rasulullah saw., merupakan pendapat yang tidak tepat. Jika demikian, sebagai seorang muslim, tentu kita tidak boleh mengemban ide feminisme ini, apalagi mempropagandakannya.

Islam Memuliakan Wanita, Tidak Butuh Feminisme

Telah sangat jelas bahwa aturan Islam memiliki pandangan unik tentang keberadaan dan hubungan pria dan wanita, serta bentuk kehidupan masyarakat yang hendak dibangun di atas landasan akidah Islam. Allah Swt. menyatakan bahwa tugas manusia, baik pria dan wanita, adalah menghambakan diri kepada-Nya. Keduanya adalah mitra satu sama lain dalam menjalankan tugas tersebut. Inilah sesungguhnya konsepsi Islam tentang kesetaraan antara pria dan wanita—dilihat dari konteks kemanusiaannya, yakni sebagai makhluk yang sama-sama berakal dan berpotensi untuk memilih kebaikan atau keburukan.

Dalam mengukur prestasi keduanya, Islam pun tidak membedakan dari sisi jenis keduanya—sebagai pria atau wanita—melainkan dari tingkat ketakwaannya, yang terwujud dari ketaatan pada semua aturan Allah dan Rasul-Nya, sebagai bukti penghambaan tadi.

Firman Allah Swt., “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13)

Khatimah

Jelaslah bahwa ide-ide feminisme dan turunannya harus diwaspadai, bahkan ditolak. Masalahnya, di balik mulut manisnya dan jargon-jargonnya yang menggiurkan, terselip racun-racun ideologis yang sangat mematikan. Terlebih ketika mereka mengaitkannya dengan Islam, bahkan menilai bahwa ide ini pun diemban oleh Rasulullah saw., justru hal ini makin menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam yang benar.

Sudah saatnya kita sadar, tidak ada satu alasan pun yang membuat kaum muslim harus ikut-ikutan mengadopsi, mempropagandakan, atau memperjuangkan ide feminisme yang telah sangat jelas menyimpang dari Islam. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *