Opini

Lara Muslim India di Tengah Lemahnya Muslim Sedunia

Penulis: Nida Alkhair

MuslimahNews.com, OPINI — Muslim India terus mengalami kezaliman dan kekerasan. Mirisnya, pelaku tindakan tersebut adalah aparat negara yang seharusnya menjaga keamanan warga negara, tanpa melihat agamanya. Nyatanya, kekerasan antimuslim kembali terjadi di Assam, India baru-baru ini.

Dua orang meninggal dunia dan 11 luka-luka pada peristiwa Kamis (23/9/2021) lalu. Sebuah video viral di media sosial menunjukkan polisi India melakukan kekerasan terhadap muslim di Assam, dalam upaya mengusir mereka dari dugaan perambahan di tanah pemerintah. (republika.co.id, 25/9/2021).

Tampak dalam video tersebut, seorang pria muslim jatuh ke tanah setelah ditembak polisi India. Hampir selusin polisi India terus menyerangnya dengan tongkat. Seorang jurnalis foto ikut bersama polisi menyerang pria muslim tersebut, bahkan menginjak-injaknya meski sudah terkapar. Pria muslim yang diidentifikasi oleh polisi sebagai Moinul Haque tersebut terus dipukuli dan diinjak-injak hingga tewas. (arrahmah.id, 25/9/2021).

Kekerasan tersebut terjadi ketika kaum muslim asal Bengali melakukan aksi protes terhadap pengusiran yang diperintahkan oleh Pemerintah Assam—yang dipimpin oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) yang merupakan partai nasionalis Hindu. Pada Senin (20/9/2021), sekitar 800 keluarga muslim dipindahkan secara paksa dari tanah mereka. Rumah mereka pun dihancurkan. Pemerintah Sipajhar menuduh warga muslim merambah tanah Pemerintah, tetapi warga muslim mengatakan bahwa mereka telah membeli tanah itu bertahun-tahun yang lalu.

Keterlibatan Negara

Insiden kekerasan ini merupakan kelanjutan dari serentetan aksi kekerasan antimuslim yang terus terjadi di India yang dilakukan oleh aparat dan dilindungi negara. Pasukan keamanan terlibat dalam kebrutalan terhadap muslim. Mereka memberikan perlindungan kepada ekstremis ‘Hindutva’ untuk secara terus-menerus melakukan penyiksaan terhadap muslim.

Isu sektarian terus dipelihara oleh Pemerintah India dengan pengesahan Undang-Undang (UU) Antimuslim atau UU Amandemen Warga Negara (UU CAB). Salah satu poin isi UU tersebut adalah memberi kesempatan bagi imigran ilegal dari Afganistan, Bangladesh, dan Pakistan untuk pindah ke India dengan sebuah syarat: asalkan tidak beragama Islam.

Dengan UU itu pula, warga negara India yang muslim juga terancam kewarganegaraannya. Pengesahan UU ini merupakan bagian dari strategi politik BJP untuk memolarisasi India.

Baca juga:  Islamofobia di Kanada, Umat Butuh Khilafah Penjaga Jiwa

BJP memiliki ideologi partai yang disebut Hindutva. Berawal dari Vinayak Damodar Savarkar yang menulis tentang Hindutva: Who is Hindu (1923), kini paham tersebut menjadi pemicu pembantaian muslim di India. Hindutva melihat Hindu adalah jalan hidup satu-satunya bagi India. Dengan prinsip itu, kaum muslim dianggap tidak sepatutnya berada di India.

Ideologi Hindutva juga dianut oleh Modi. Kebijakannya selama ini telah merugikan umat muslim India. Profesor ilmu Politik dari Universitas Indiana, Sumit Ganguly, dalam tulisannya di The Conversation mencatat selama lima tahun pemerintahan periode sebelumnya, Modi memang sudah terlihat tak adil pada orang muslim. Sampai 2019, sebanyak 36 orang muslim tewas dibunuh sampai digantung. (tirto.id, 16/3/2020).

BJP menyerukan nasionalisme Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci, sehingga berujung penghakiman sewenang-wenang dari masyarakat India—yang mayoritas beragama Hindu—kepada orang Islam. Umat Islam dilarang mengonsumsi sapi. Ketika sudah mengikuti aturan ini, kaum muslim masih saja dicurigai dan dihakimi secara sepihak.

Narasi Bohong Toleransi

India, sebagaimana mayoritas negara di dunia, menerapkan sistem demokrasi. Salah satu hal yang digembar-gemborkan dalam demokrasi adalah toleransi. Namun nyatanya, toleransi hanya menjadi jargon kosong. Pemerintah India telah bertindak tidak toleran terhadap muslim di sana. Bukan hanya tidak toleran, Pemerintah India bahkan menciptakan kondisi melalui UU dan aksi-aksi politik agar terjadi pembantaian terhadap muslim di sana.

Mirisnya, pada saat muslim India mengalami perlakuan tak manusiawi, muslim sedunia tak mampu berbuat apa-apa. Padahal, India merupakan negeri muslim dengan populasi muslim yang besar, yakni mencapai 180 juta jiwa. Jumlah ini menjadikan populasi muslim India sebagai yang terbesar ketiga di dunia setelah Indonesia dan Pakistan.

Kondisi ini persis yang digambarkan dalam sabda Rasulullah saw.,

“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Dulu, Malik Ibnu Dinar bersama 20 sahabatlah yang pertama kali menyebarkan ajaran Islam di India. Kedatangan Islam di sana disambut penduduk India dengan sukacita. Salah satu motif warga India masuk Islam adalah agar terbebas dari sistem kasta yang mengungkungnya.

Baca juga:  Antara Azan dan Cadar: Sinyal Kental Islamofobia

Peninggalan peradaban Islam hingga kini masih berdiri kukuh di seantero India. Taj Mahal, Redford, Fateh Puri, Benteng Agra, dan bangunan megah lainnya menjadi saksi betapa peradaban Islam pernah berkuasa dan berjaya di wilayah itu. Namun sayang, kini muslim India lemah secara politik.

Muslim sedunia juga lemah untuk menolong dan melindungi muslim India. Meski India bertetangga dengan Pakistan, tetapi batas nasionalisme telah membutakan mata penguasa Pakistan sehingga tidak mengirimkan militernya untuk menghentikan kekerasan terhadap muslimnya di India. 

Inilah nasib muslim ketika berada di sistem sekuler. Saat menjadi mayoritas, mereka tak boleh menerapkan syariat agamanya, karena akan dituduh tidak toleran. Sebaliknya, ketika menjadi minoritas, mereka harus tunduk pada aturan agama dan sistem lain, sekaligus menerima perlakuan yang buruk. Jargon toleransi seolah tak berlaku jika muslim menjadi minoritas.

Khilafah sang Penolong

Penindasan terhadap muslim tak hanya terjadi di India. Muslim Uighur di Cina, Rohingya di Myanmar, muslim Palestina, dan lainnya juga mengalami kekerasan yang sama. Mereka disiksa, dilecehkan, dibunuh, dan diusir dari rumah-rumahnya. Penindasan ini terjadi bertahun-tahun, sementara dunia bungkam.

Kaum muslim yang berjumlah hampir dua miliar jiwa menjadi lemah karena tidak bersatu dalam kesatuan politik. Liga Arab, Organisasi Konferensi Islam, dan kelompok negeri muslim lainnya tak memiliki kekuatan politik untuk menyatukan, bahkan justru menjadi alat Barat untuk mencampuri urusan negeri-negeri muslim.

Kesatuan politik umat Islam hanya bisa terwujud dalam satu institusi yaitu Khilafah Islam. Selama 13 abad berkuasa, Khilafah sukses melindungi umat Islam dari segala serangan yang dilancarkan negara-negara kafir. Ketika Khilafah menguasai India, muslim di sana hidup aman. Darah, jiwa, dan harta mereka terlindungi.

Baca juga:  Ironi Negeri Muslim Alergi Syariah

Di bawah Khilafah, warga Hindu juga tidak dipaksa masuk Islam. Inilah satu alasan penyebab agama Hindu tidak punah di India, yaitu karena Khilafah melindungi nonmuslim. Namun, balasan mereka terhadap Islam amatlah buruk.

Ketika Khilafah runtuh, “payung” yang selama ini melindungi umat Islam pun koyak dan sirna. Tak ada lagi institusi politik yang menolong dan melindungi umat Islam ketika mereka diserang musuh. Akibatnya, kaum muslim di seluruh dunia mengalami lara dan nestapa yang tak kunjung usai.

Inilah kondisi ketika sang pelindung umat Islam, yakni Khilafah, tidak ada. Tegaknya Khilafah kini menjadi kebutuhan mendesak, agar berbagai kezaliman yang dialami umat Islam sedunia segera berakhir.

Ketika tegak, Khilafah akan segera menggelorakan jihad untuk membebaskan negeri-negeri muslim yang terjajah. Semua tentara muslim akan dikerahkan, para lelaki dewasa juga akan menjadi tentara cadangan, sehingga jumlah militer akan sangat besar.

Negara Khilafah juga akan membangun industri militer yang memproduksi alutsista tercanggih, sebagai bekal para mujahid dalam berjihad, melakukan pembebasan (futuhat). Khilafah juga akan melakukan diplomasi luar negeri dengan memberikan tekanan pada rezim tiran yang menindas kaum muslim agar mereka menghentikan aksinya. Jika mereka menolak, jihad akan segera dilancarkan.

Sikap ini persis yang dilakukan Khalifah Al-Mu’tashimbillah dari Bani Abbasiyah, ketika menyelamatkan nyawa satu orang muslimah yang dilecehkan oleh orang Romawi di Ammuria, Turki. Beliau mengirim ekspedisi militer yang amat besar.

Panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana Khalifah di Baghdad hingga Ammuria. Ribuan tentara Muslim bergerak di bulan April tahun 833 Masehi. Kota Ammuria dikepung oleh tentara muslim hingga akhirnya takluk.

Demikianlah perlindungan Khilafah terhadap nyawa satu orang muslim, apalagi jika yang dianiaya adalah banyak orang muslim. Khilafah akan mengirimkan militer dengan kekuatan penuh untuk menolong mereka. Sungguh berbeda dengan penguasa muslim saat ini yang hanya bisa menyampaikan basa-basi tanpa aksi. Wallahu a’lam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *