Fikrul Islam

[Fikrul Islam] Ukuran Perbuatan

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM — Sebagian besar manusia menjalani kehidupannya tanpa berlandaskan pegangan (petunjuk). Mereka melakukan berbagai perbuatan dengan tidak berdasarkan pada tolok ukur tertentu, sehingga mereka dapat memberikan penilaian terhadapnya. Oleh karena itu, sering kita jumpai mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka sangka sebagai perbuatan terpuji, atau sebaliknya, mereka meninggalkan perbuatan-perbuatan baik karena menyangkanya sebagai perbuatan tercela.

Misal, seorang muslimah yang keluar rumah dan berkeliaran di kota-kota metropolitan negeri-negeri Islam, seperti Beirut, Damaskus, Kairo, atau Baghdad, dengan enaknya berjalan sambil menampakkan “keindahan” dan kecantikannya. Wanita ini menyangka bahwa tindakannya itu sebagai sesuatu yang baik, sesuai dengan zaman.

Demikian pula seorang tokoh Islam yang alim, warak, dan rajin sekali mendatangi masjid-masjid, tetapi dia menolak membicarakan hal-hal yang menyangkut tingkah laku penguasa yang rusak (tidak islami) dengan alasan bahwa hal itu termasuk urusan politik. Sedangkan terlibat dalam urusan politik, menurutnya, adalah termasuk dalam perbuatan yang buruk.

Sesungguhnya, wanita tadi juga “tokoh kita” ini, dua-duanya telah terjerumus dalam perbuatan dosa. Mengapa? Karena wanita itu telah mempertontonkan auratnya, dan “tokoh kita” ini tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin. Keadaan ini terjadi karena kedua-duanya tidak memiliki tolok ukur bagi amal perbuatan mereka. Padahal, jika mereka memilikinya, tentu tidak akan dijumpai perbuatan yang bertentangan dengan mabda (ideologi) Islam yang secara nyata telah mereka ikrarkan.

Oleh karena itu, adanya tolok ukur yang berfungsi menilai setiap perbuatan adalah suatu keharusan bagi setiap manusia, sehingga ia akan mengetahui hakikat suatu perbuatan sebelum mengerjakannya.

Islam telah menetapkan bagi manusia suatu tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, sehingga dapat diketahui mana perbuatan yang terpuji yang harus segera dilakukan dan mana perbuatan tercela yang harus segera ditinggalkan. Tolok ukur itu tidak lain adalah syarak.

Sehingga, apabila syarak menilai perbuatan itu terpuji, itulah yang terpuji; dan apabila syarak menilainya tercela, itulah yang tercela. Tolok ukur ini bersifat abadi. Karenanya, perbuatan yang terpuji seperti jujur, menepati janji, berbakti pada orang tua, tidak akan berubah menjadi perbuatan tercela, dan sebaliknya, sesuatu yang tercela tidak akan berubah menjadi sesuatu yang terpuji.

Bahkan, apa yang dinyatakan terpuji oleh syarak, akan terpuji selamanya. Begitu pula apa yang dicela oleh syarak, selamanya akan tetap tercela. Dengan demikian, manusia akan dapat berjalan (di muka bumi ini) di atas jalan yang lurus. Setiap perbuatan yang dilakukannya, senantiasa berdasarkan petunjuk, sehingga ia mengetahui hakikat segala sesuatu (perbuatan).

Berbeda halnya bila syarak tidak menetapkan ukuran baik dan buruk untuk tiap-tiap perkara, kemudian akal dijadikan sebagai tolok ukur, akan terjadi kekacauan dan ketakpastian. Sebab, suatu perkara bisa saja dianggap terpuji pada suatu keadaan, tetapi tercela pada keadaan yang lain.

Akal manusia kadang kala memuji suatu perbuatan pada masa sekarang, tetapi esok hari dicelanya. Atau suatu perbuatan dipandang terpuji di satu negeri, tetapi tercela di negeri lain. Maka, hukum atas segala sesuatu menjadi tidak jelas dan berubah-ubah seperti tiupan angin, sehingga pujian dan celaan adalah sesuatu yang nisbi, bukan lagi hakiki.

Pada saat seperti ini, seseorang dapat terjerumus dalam perbuatan tercela, tetapi menyangkanya sebagai perbuatan yang terpuji. Atau ia akan menjauhkan diri dari perbuatan terpuji karena menyangkanya sebagai perbuatan yang tercela.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang untuk menjadikan hukum syarak sebagai tolok ukur semua perbuatannya dengan memuji atau mencela sesuatu hanya berdasarkan syarak semata. [MNews/Rgl]

Sumber: Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *