BeritaInternasional

[News] Kerja Sama Pertahanan AUKUS, Pengamat: Ada Dua Tujuan

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Menanggapi munculnya kerja sama pertahanan Australia, UK, and US (AUKUS) yang memungkinkan Australia membangun kapal selam bertenaga nuklir, Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana, S.I.P., M.Si. menilai ada dua tujuan riil.

Pemimpin Australia Scott Morrison menggambarkan AUKUS sebagai “kemitraan selamanya” dengan AS dan Inggris. (sumber: bbc.com, 22/9/2021)

Pertama, ujarnya, ini warning dan sinyal terhadap menguatnya eksistensi Cina. “Kita tahu AS mengalihkan perhatian dari kawasan Timur Tengah ke Pasifik, ditandai dengan penarikan mundur pasukan AS di Afganistan. Jadi ini warning dan sinyal, jangan main-main di kawasan ini karena kawasan ini juga merupakan kawasan di bawah pengaruh  AS,” ulasnya dalam Kabar Petang: China VS AUKUS di kanal YouTube KC News, Kamis (23/9/2021).

Kedua, lanjutnya, secara politis AUKUS menguatkan hubungan atau relasi antara Amerika dan Inggris. Ia menyampaikan, ini pun berimplikasi terhadap konteks percaturan politik Eropa dengan menguatnya persaingan antara Inggris dan Perancis karena yang merespons cukup negatif terhadap kemunculan AUKUS ini adalah Perancis.

“Saya melihat walaupun  peristiwanya terjadi di Pasifik, namun persaingan Inggris dan Perancis juga muncul,” katanya.

Hanya saja, ia menyatakan, aliansi ini tidak mengagetkan karena aliansi militer antara Amerika Serikat dan Australia sebenarnya bukanlah aliansi baru.

“Meski AUKUS adalah istilah yang baru dimunculkan, tetapi kerja sama militer di antara ketiga negara ini secara historis saling terkait. Australia masih menjadi negara dominionnya Inggris. Selain itu, kita tahu Inggris dan Amerika adalah sekutu yang kuat pasca-Perang Dunia II dan bersama dalam NATO,” paparnya.

Baca juga:  Cina Vs. AUKUS

Namun, menurutnya, pengadaan kapal selam bertenaga nuklir yang dikembangkan Australia akan meningkatkan eskalasi ketegangan militer di kawasan Pasifik. “Terlebih kalau kemudian dikaitkan dengan menguatnya eksistensi Cina di kawasan ini,” ucapnya.

Arah Politik Luar Negeri AS di Pasifik

Selain itu, ia mengungkapkan, ini menunjukkan arah kebijakan politik luar negeri Presiden AS Joe Biden, yaitu menguatkan kepemimpinan AS di Pasifik dengan mengonsentrasikan hubungan politik luar negeri dari Timur Tengah ke Pasifik. Ia menjelaskan, penyebabnya tampak dari salah satu statement Biden untuk mewaspadai manuver-manuver yang dilakukan emerging power Cina.

“Maka, Pasifik menjadi prioritas perhatian bagi AS. Kita tahu secara historis, AS memang belum memiliki jaminan yang kuat di kawasan Pasifik. Sedangkan di Atlantik, sudah ada NATO yang sudah teruji puluhan tahun di masa perang dingin. Tetapi di Pasifik ini kan Amerika memang tidak memberikan perhatian khusus. Maka ketika  meningkat emerging power-nya Cina, perhatian mulai diberikan Amerika di kawasan ini,” terangnya.

“Amerika juga menjalin hubungan yang lebih erat lagi dengan sekutu-sekutu kuatnya, yaitu dengan Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Dan kita lihat sekarang, Australia diharapkan bisa naik menjadi salah satu pemain yang digunakan Amerika untuk penguatan di Pasifik,” ungkapnya.

Baca juga:  Cina Vs. AUKUS
Agresi China membuat AUKUS tak terhindarkan. (sumber: foreignpolicy.com, 24/9/2021)

Reaksi Cina

Ia memaparkan, reaksi Cina pastinya tidak senang dengan penguatan hubungan antara Amerika, Inggris, dan Australia ini. “Walaupun saya yakin Cina juga paham bahwa Inggris dan Amerika ini sekutu kuat,” ujarnya.

Memang, ujarnya, Cina mencoba menaikkan level interaksi internasionalnya menuju level global setelah kekuatan ekonominya meningkat. “Yang senantiasa Cina gunakan menjadi test case dalam konteks percaturan kancah global ini adalah di kawasan Pasifik,” cetusnya.

“Kita ingat bagaimana Cina mengeluarkan Nine-Dash Line dan mengklaim wilayah laut dari Laut Cina Timur sampai Laut Cina Selatan yang itu menabrak kesepakatan UNCLOS. Itu menjadi pemicu konflik. Apalagi klaim Nine-Dash Line ini tidak sekadar klaim. Cina juga memprovokasinya dengan pengiriman kapal-kapal laut bahkan drone laut untuk pemetaan di kawasan tersebut. Dan itu terus dilakukan Cina,” tambahnya.

Oleh sebab itu, ia berpendapat, AUKUS merupakan respons terhadap manuver-manuver Cina, termasuk beberapa kegiatan lain yang dilakukan Amerika dan sekutunya di kawasan Pasifik ini.

Sementara itu, ungkapnya, dengan posisi Amerika dan Inggris yang sangat jauh dari kawasan ini, maka Australia dijadikan sebaga base atau titik tolak karena Australia betul-betul eksis di Pasifik, walaupun Amerika punya sekutu-sekutu lain di  kawasan Pasifik.  “Jadi, pasti Beijing tidak senang dan akan merespon negatif terhadap keberadaan aliansi ini,” tukasnya.

Baca juga:  Cina Vs. AUKUS

Hanya saja, imbuhnya, kalau bicara tentang kekuatan militer memang sisi level kekuatan militer Cina kalau dihadap-hadapkan dengan Amerika belum sepadan. “Global Firepower memberikan peringkat Cina di level ke-3 setelah Amerika Serikat dan Rusia. Walaupun Cina dari sisi jumlah personil pasukan punya man power yang banyak, tetapi dari sisi kekuatan alutsista masih di bawah Amerika dan sekutu-sekutunya. Apalagi dalam pengalaman peperangan, Cina dalam sejarah adalah negara yang belum pernah terlibat dalam perang besar dunia walaupun dalam PD II menjadi sekutu Amerika melawan Jepang dan Nazi Jerman. Jadi memang masih belum sepadan,” urainya.

Meski begitu, ia menegaskan, Cina adalah emerging power, negara yang terus meningkat kekuatannya. “Bagi Amerika sebagai negara hegemonik, tentu tidak nyaman ketika muncul kekuatan baru yang akan mengancam posisinya sebagai negara adidaya. Sehingga potensi apapun, tentu Amerika coba redam. Ketika Cina melakukan manuver-manuver di Pasifik ini, ya Amerika coba redam dengan berbagai langkah. Salah satunya dengan pembentukan AUKUS ini,” tandasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *