Klaim Kebenaran dalam Konsep Islam Rahmatan lil ’Alamin

Penulis: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS — Pernyataan seorang pejabat tinggi bahwa semua agama benar dalam pandangan Tuhan, menuai kontroversi di kalangan umat. Banyak ulama yang menanggapi masalah ini, termasuk MUI. Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar, dengan tegas menyatakan di akun Facebook resminya, @Buya Gusrizal, “Bila ada seseorang berkomentar (bahwa) semua agama sama di mata Tuhan, perlu dipertanyakan Tuhannya siapa? Pasti bukan Tuhan kaum muslimin!”

Persoalan kebenaran agama-agama dianggap sebagai persoalan yang kritis dalam hubungan antarumat beragama. Keyakinan bahwa agamanya saja yang benar sedang agama yang lain salah, dipandang sebagai salah satu pemicu radikalisme. Konsep moderasi Islam yang dilancarkan negara, dengan Kemenag sebagai leading sector-nya, berusaha untuk melumerkan gagasan kebenaran mutlak agama dengan ide pluralisme. Usaha ini lantas diikuti oleh para pejabat dan aparat pemerintah lainnya, sehingga terasa sekali ide ini tengah digaungkan.

Pernyataan semua agama benar adalah salah satu buktinya, setelah berbagai pernyataan dan tindakan kontroversial para pejabat negara seperti ucapan selamat pada hari raya kelompok yang jelas telah menyimpang, atau doa lintas agama, ralat buku pendidikan agama Islam yang memuat kesalahan akidah agama lain, dan kriminalisasi para ulama yang menyampaikan dakwah tentangnya.

Senada dengan pengarusan pluralisme, satu tulisan yang dimuat di harakatuna[dot]com dari Ahmad Miftahudin Thahari, mencoba untuk merelatifkan kebenaran agama, dan sebaliknya, menjadikan kebaikan sebagai standar dalam beragama. Hal ini menurutnya adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan dalam rangka meneguhkan eksistensi Islam sebagai rahmatan lil ’alamin.

Kebenaran Islam

Kebenaran Islam adalah hal yang mutlak dan tidak bisa direlatifkan. Ini karena Islam adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah, Sang Pencipta manusia yang memiliki sifat Al-Haq. Menolak kebenaran Islam, sama saja dengan menolak kebenaran Sang Khalik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami turunkan Al-Qur-an kepadamu dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai batu ujian terhadap Kitab-kitab yang lain…” (QS Al-Maa-idah: 48)

Kebenaran agama Islam menjadikannya sebagai agama yang harus dipeluk oleh penduduk bumi. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.“ (QS Ali Imran 85)

Allah Ta’ala juga berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ

Sesungguhnya agama [yang diridai] di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran 19-20).

Lebih tegas lagi Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda,

لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار

Baca juga:  Mewaspadai Tirani Minoritas dalam Aturan Seragam Sekolah

Tidaklah seseorang dari umat ini baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang mendengar ajaranku kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)

Berdasarkan nah-nas ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata bahwa telah diketahui dengan pasti dalam agama dan disepakati oleh kaum muslimin bahwa barang siapa menyatakan seseorang boleh memilih selain Islam atau boleh mengikuti selain syariat Nabi Muhammad saw., dia kafir seperti kafirnya orang yang beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagiannya. (Majmu’ Fatawa).

Inilah kebenaran mutlak dari agama Islam, yang sekaligus menolak kebenaran dari agama lainnya. Hanya saja perlu dipahami bahwa kebenaran mutlak Islam ini adalah dalam akidahnya. Sedangkan dalam masalah syariat yang berkaitan dengan fikihnya, perbedaan pendapat adalah hal yang diterima, selama pendapat tersebut berdasarkan pada sumber yang benar yaitu Al-Qur’an dan Hadis yang sahih, serta apa yang bersumber dari keduanya, seperti ijmak para sahabat dan qiyas.

Standar Kebaikan

Menjadikan kebaikan sebagai standar beragama dengan dalil perintah Allah untuk berlomba dalam kebaikan dan bukan berlomba dalam kebenaran adalah pernyataan yang tidak cermat. Dalil yang digunakan dalam hal ini QS Al-Baqarah 148:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 148).

Syekh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam tafsirnya menyatakan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa setiap umat memiliki kiblatnya masing-masing dalam salat. Maka tinggalkanlah agama-agama yang sesat itu wahai kaum muslimin, dan berlomba-lombalah berbuat kebaikan, berpaculah dalam amalan saleh sebagai bentuk syukur kepada Rabb kalian karena telah memberikan arah kiblat yang merupakan kiblat bapak kalian Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Dialah Allah yang akan mengumpulkan kalian pada hari kiamat, menanyai apa yang kalian lakukan, dan akan membalas amalan-amalan kalian. Dia Mahamampu atas segala sesuatu.”[1]

Dengan demikian ayat ini tidak menyerukan untuk berlomba dalam kebaikan antarumat beragama, melainkan seruan kepada kaum muslimin untuk tidak lagi mempersoalkan pemindahan kiblat dan menfokuskan diri untuk menjalankan amal-amal kebaikan yang menyempurnakan iman mereka.

Menjadikan kebaikan sebagai standar beragama juga salah, bila yang menjadi ukuran kebaikan adalah pandangan manusia terhadapnya. Kebaikan bagi satu orang, boleh jadi keburukan bagi yang lain. Maka kebaikan dan keburukan, khayr dan syarr tetap harus ada standardisasinya, standar yang pasti dalam kebenarannya, yaitu standar menurut sang pencipta manusia, Allah Swt..

Baca juga:  [Persepsi Berbahaya] Dialog Antaragama (Bagian 1/3)

Dalam hal ini, Allah Swt. menyatakan,

]كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ[

Diwajibkan atas kalian berperang, sementara berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Padahal boleh jadi kalian membenci sesuatu, sementara ia amat baik bagi kalian; boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Pada ayat di atas, Allah Swt. menggunakan istilah khayr dan syarr dalam konteks like and dislike (suka dan tidak suka)— ketika suka, orang akan melakukan, ketika tidak suka, dia pun akan meninggalkan; atau suka karena manfaat dan tidak suka karena membawa mudarat.

Jadi, penggunaan khayr dan syarr dalam konteks seperti ini dikoreksi oleh Allah, seraya menyatakan, “Padahal boleh jadi kalian membenci sesuatu, sementara ia amat baik bagi kalian; boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [02]: 216).

Orang tidak suka berperang karena bisa membawa kematian dan menurut akal itu merupakan keburukan. Demikian sebaliknya. Inilah yang dikoreksi oleh Allah. Allah menegaskan bahwa, “Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”

Oleh karena itu, penilaian tentang khayr dan syarr tidak boleh diserahkan kepada manusia; di samping karena kadang kala manusia membenci sesuatu yang sejatinya khayr dan menyukai sesuatu yang sejatinya syarr. Walhasil, penilaian terhadap khayr dan syarr jelas tidak bisa diserahkan kepada akal manusia, dengan pertimbangan like and dislike manusiatetapi harus diserahkan pada like and dislike (rida dan murka) Allah.

Dari sinilah kemudian Imam Taqiyuddin an-Nabhani merumuskan kaidah:

اَلْخَيْرُ مَا أَرْضَاهُ اللهُ وَالشَّرُّ مَا أَسْخَطَهُ اللهُ

“Kebaikan adalah apa saja yang diridai oleh Allah, sedangkan keburukan adalah apa saja yang dimurkai (dibenci) oleh Allah..”[2]

Dari sini kita bisa lihat bahwa kebaikan yang hakiki adalah kebaikan yang lahir dari kebenaran. Maka, dalam beragama, tetap yang harus kita cari adalah kebenaran, setelah itu barulah kita mengerjakan kebaikan berdasarkan tuntunan agama yang kita yakin kebenarannya.

Meluruskan Makna Rahmatan lil ’Alamin

Klaim kebenaran yang direlatifkan, kemudian dialihkan pada seruan kebaikan, direkayasa untuk mengarahkan Islam pada konsep rahmatan lil ’alamin. Hal ini karena mereka memberikan makna rahmatan lil ’alamin sesuai dengan syahwat moderasi mereka, yakni sebagai menebarkan kebaikan dan perdamaian.

Rahmatan lil ’alamin sebagai satu frasa yang berasal dari Al-Qur’an, tentu maknanya harus diambil dari tafsir secara benar, bukan tafsir yang semata berdasarkan akal. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

Baca juga:  [News] Penerapan Al-Qur’an (Justru) Solusi Keragaman

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

”Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad saw) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Kata kerja arsalna ‘Kami mengutus engkau (Muhammad saw.’, menunjukkan bahwa sifat rahmat dalam ayat ini berkaitan erat dengan risalah Islam yang diemban oleh Rasulullah saw., mencakup akidah dan syariat Islam.

Poin ini meniscayakan pemahaman baku bahwa rahmat bagi alam semesta terwujud dengan menegakkan apa yang diemban oleh Rasulullah saw., yakni akidah dan syariat Islam dalam kehidupan.

Para ulama muktabar pun menjelaskan rahmat dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syariat Islam kafah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban Rasulullah saw.. Di antaranya ulama nusantara yang mendunia, Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H), ”Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”[3]

Hal senada terdapat dalam tafsir Fathul Qadiir menjelaskan maksud firman Allah Swt. tersebut adalah ‘tidaklah Kami mengutus engkau, wahai Muhammad, dengan syariat dan hukum kecuali menjadi rahmat bagi seluruh manusia.’ Dengan demikian, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terwujud dengan penerapan syariat Islam, bukan yang lain.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah jilid III (halaman 365), menjelaskan bahwa seluruh syariat Islam yang datang merupakan rahmat bagi hamba-Nya. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa rahmat tersebut merupakan natiijah (hasil) dari penerapan syariat Islam.

Dengan demikian, konsep rahmatan lil ’alamin bukan semata mengambil makna bahasa bahwa rahmat adalah kasih sayang, sehingga menjadi rahmatan lil ’alamin berarti menebarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia tanpa melihat agamanya, lantas meniscayakan pluralisme; menganggap bahwa rahmat hanya terwujud jika semua agama dianggap benar dan menolak kebenaran mutlak bagi Islam.

Sejarah mencatat bahwa dalam penerapan syariat Islam secara utuh di bawah institusi Daulah Islam, Islam mampu membuktikan diri sebagai agama rahmat. Islam menjamin kebebasan beragama bagi umat agama lain dan melindungi mereka selama berabad-abad, hingga datang kelemahan dan kemunduran Daulah akibat memudarnya pemahaman terhadap syariat.

Karena itu, menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ’alamin adalah dengan menerapkan syariat Islam secara utuh, syariat Islam yang diistinbat dengan metode yang benar, sehingga menghasilkan pemahaman dan penerapan yang sama dengan yang dijalankan Rasulullah saw.. [MNews/Gz]

Referensi:

[1] https://tafsirweb.com/610-quran-surat-al-baqarah-ayat-148.html

[2] Taqiyuddin an-Nabhani, Mafâhîm Hizb at-Tahrîr, hlm. 26.

[3] Muhammad bin ‘Umar Nawawi, Murâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1417 H, (II/62)

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *