Analisis

Generasi Muda Dituduh Terjangkit Radikalisme, Mampukah Islam Moderat Menjadi Solusi?

Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, ANALISIS — Isu radikalisme terus dinarasikan sebagai bahaya yang mengancam generasi muda, terutama para pelajar. Bahkan, ada upaya untuk mengopinikan ke publik dengan mengangkat sebuah riset yang tidak terlalu terperinci pula pembahasannya.

Adalah Harakatuna[dot]com yang dalam beritanya menyuguhkan sebuah riset terbaru yang menyebutkan 44 dari 100 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di Kota Bandung terindikasi berpaham radikal. Riset dilakukan terhadap para siswa di 33 sekolah setingkat SMA, termasuk SMK dan Madrasah Aliyah (MA) dan dilakukan selama tiga bulan dari Juni—Agustus 2021.

Riset berjudul “Radikalisme di Sekolah Menengah Atas Kota Bandung” itu digarap oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan melibatkan mahasiswa lintas program studi sebagai peneliti.

Lewat keterangan tertulisnya, tim riset menyampaikan temuannya bahwa sebanyak 35% siswa diduga terindikasi tipe radikal secara agama. Pembagiannya yaitu 16% berkarakteristik radikal 1S1S dan Al-Qaeda, dan 15% berkarakteristik gerakan Islam garis keras secara fisik.

Pada lain sisi, sejumlah anak muda mengikuti Sekolah Moderasi Beragama (SMB) via daring (5/9/2021). Kegiatan ini digelar Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Perempuan Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Cirebon dan Fahmina Institute. SMB diharapkan menjadi jalan bagi anak muda dalam merawat kebinekaan, khususnya di Cirebon dan Indonesia pada umumnya.

“Seperti diungkapkan Buya Husein bahwa menjadi Indonesia adalah menjadi bineka. Sekolah ini untuk menguatkan cara pandang yang moderat dan menanamkan nilai-nilai toleransi beragama,” kata Ketua PC IPPNU Cirebon, Devi Farida. (kompas.id)

Ada Apa di Balik Program Ini?

Sepintas, program itu seolah penuh kebaikan, mengarahkan para pemuda untuk bersikap moderat, merawat kebinekaan, dan menanamkan toleransi. Namun, jika kita cermati, banyak hal yang harus kita kritisi bahkan harus diwaspadai.

Sejatinya, program tersebut mengarahkan kepada moderasi beragama yang merupakan jalan sesat menuju Indonesia bineka, karena justru akan makin jauh dari din Islam. Berdasar dalil dan fakta, hanya dengan Islamlah Indonesia mampu menciptakan keharmonisan dan kedamaian antarpemeluk agama yang bineka, karena hanya Islam yang memiliki aturan lengkap tentang segala hal.

Jika kita cermati lebih dalam, sesungguhnya program ini merupakan upaya justifikasi agar lebih masif lagi mengaruskan moderasi beragama di sekolah-sekolah. Survei yang dilakukan kepada pelajar SMA dengan hasil 35% berpaham agama yang radikal, akan menjadi pintu masuk yang terbuka sangat lebar bagi penderasan arus moderasi di kalangan pemuda. Mereka akan dicekoki dengan ide-ide yang menyimpang, yakni pandangan bahwa semua agama adalah benar dan wajib menjalin kerja sama sebagaimana diajarkan dalam sekolah moderasi yang menjadikan pemuda sebagai target sasarannya. Di sinilah pentingnya untuk terus mewaspadai sekolah moderasi beragama yang sangat berbahaya karena menanamkan nilai nilai toleransi beragama yang salah dan mengancam akidah umat.

Benarkah Terjangkit Radikalisme?

Tebersit dalam benak, apa benar anak-anak setingkat SMA ini terpapar paham radikal? Radikal seperti apa yang dimaksud? Bila yang dimaksud radikal melakukan ancaman terorisme, kita semua sepakat itu adalah berbahaya. Namun, bila yang dimaksud radikalisme adalah semangat para pelajar muslim untuk mengamalkan agamanya, apakah itu berbahaya? Bukankah agama kita—Islam—memerintahkan kita untuk menjalankan aturan Islam secara keseluruhan dalam seluruh aspek kehidupan?

Jika kita mau jujur, makna radikal yang berkembang saat ini dan dituduhkan oleh sebagian kalangan—terlebih diarahkan kepada anak-anak SMA—merupakan tuduhan yang tidak berdasar. Di sinilah seharusnya umat Islam jeli dan tidak mudah terpengaruh berbagai informasi yang justru menyudutkan umat Islam sendiri. Ditambah gencarnya opini moderasi Islam melalui rumah moderasi dan sekolah moderasi beragama, tampak jelas bahwa inilah target utamanya.

Ini semua tidak lepas dari upaya musuh-musuh Islam untuk memecah belah umat Islam dengan melakukan pengotakan umat Islam sesuai dengan rancangan mereka. Pada akhirnya, sebagian umat Islam menuduh umat Islam lainnya dengan kedok toleransi atau kerukunan, padahal yang terjadi justru mengadu domba umat Islam itu sendiri.

Target Utama: Mengukuhkan Islam Moderat

Telah makin jelas sesungguhnya, target para musuh Islam dan agen mereka adalah menyebarkan dan mengukuhkan Islam moderat, terutama di kalangan para pelajar. Mereka memberikan “cap” radikal kepada para pelajar yang berusaha menjalankan syariat Islam, kemudian seolah-olah memberikan solusi dengan sekolah moderasi beragama.

Tanpa disadari sesungguhnya yang dipelajari itu—Islam moderat—tidak akan memberikan solusi apa pun melainkan justru makin menjauhkan dari pemahaman Islam yang benar. Mengapa?

Sesungguhnya ide Islam Moderat ini pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah-tengah umat, yang diberi warna baru. Ide ini menyerukan semua agama sama dan menyerukan untuk membangun Islam inklusif—bersifat terbuka—, toleran terhadap ajaran agama lain, menyusupkan paham bahwa semua agama benar. Padahal, sudah sangat jelas bahwa Allah Swt. telah menegaskan,

إِنَّالدِّينَعِنْدَاللَّهِالْإِسْلامُ 

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

وَمَنْيَبْتَغِغَيْرَالْإِسْلامِديناًفَلَنْيُقْبَلَمِنْهُوَهُوَفِيالْآخِرَةِمِنَالْخاسِرينَ 

 “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran: 85)

Allah Swt. dengan sangat tegas menyatakan bahwa agama yang benar dan mulia di sisi Allah hanyalah Islam, terlebih lagi adanya celaan yang pasti bahwa tidak akan diterima agama selain Islam, dan mereka tidak akan selamat di akhirat kelak. Dari sinilah kita mendapati penganut Islam moderat memberlakukan toleransi melampaui batas yang telah digariskan oleh Islam. Bahkan, murtadnya seseorang ataupun menjadi ateis dianggap sebagai hak seseorang, maka tampak jelas ide ini bertentangan dengan akidah Islam.

Bisa kita bayangkan jika hal ini mereka ajarkan kepada generasi kaum muslimin, maka kerusakanlah yang akan terjadi. Generasi muslim Ideologis akan teracuni pemikirannya dengan pemikiran yang bertentangan dengan Islam, dan tentu saja hal ini sangat berbahaya bagi umat di saat ini maupun di masa datang.

Islam Moderat dengan Segala Bentuknya Berbahaya bagi Generasi, Waspadalah!

Telah nyata betapa bahayanya moderasi Islam ini, dengan pemikiran dasarnya menyamakan semua agama, artinya menjadikan semua agama benar. Berikutnya menjadikan nilai-nilai Islam yang datang dari Al-Khaliq Al-Mudabbir disepadankan dengan agama dan aturan buatan manusia. Selanjutnya, pelan tapi pasti gagasan ini tidak hanya mengebiri Islam yang sejatinya merupakan ideologi —yakni agama yang memiliki pemikiran dan bagaimana cara mewujudkan pemikiran-pemikirannya, menjadi sekadar kumpulan pemikiran saja sehingga Islam pun berubah menjadi sekedar agama ruhiyah, yang dihilangkan sisi politisnya sebagai solusi seluruh aspek kehidupan.

Karenanya, mereka berupaya keras agar umat Islam dijauhkan dari aturan Islam dengan menerapkan sistem sekular kapitalis, sistem yang diterapkan hari ini yang jelas-jelas telah membawa umat Islam pada kehancuran, keterjajahan, dan kehinaan. Sekaligus menjauhkan kaum muslimin dari karakternya sebagai sebaik-baik umat (khairu ummah) dan pionir peradaban, sebagaimana pernah tersemat di pundak mereka selama belasan abad.

Beberapa waktu belakangan ini, mereka tengah gencar-gencarnya menyasar kalangan generasi muda muslim, dengan melakukan pendekatan kepada kurikulum, menyelenggarakan sekolah moderasi bahkan menuduh pelajar yang berusaha menjalankan Islam dengan tuduhan radikal, belum lagi pelatihan untuk guru-guru agama atau asatidz dan para ustazahnya untuk mengegolkan tujuan mereka. Tentu saja hal ini tidak boleh kita biarkan!

Betapa miris membayangkan kualitas masa depan generasi umat jika kita biarkan berada dalam cengkeraman program Islam moderat. Mereka akan terus dikepung dengan ide ini melalui guru di sekolah atau madrasah maupun lewat organisasi kepemudaan, yang akan menjauhkan identitas utamanya sebagai khairu ummah, pelanjut peradaban mulia.

Alih-alih mendapatkan pengukuhan kepribadian Islam, mereka yang ingin konsisten menerapkan agamanya dengan benar akan dituduh radikal dan intoleran. Karena produk pendidikan moderasi agama adalah generasi yang tidak mempertentangkan antara agama yang ada di negeri ini yang menjunjung tinggi toleransi kebablasan. Ini adalah pemahaman beragama yang tidak hanya harus diluruskan tapi juga harus kita hancurkan hingga ke akar-akarnya.

Telah sangat jelas bagi kita bahwa untuk menyelamatkan generasi muslim sehingga menjadi generasi yang berkualitas—generasi pelanjut estafet perjuangan tegaknya Islam—bukanlah dengan mencekoki mereka dengan pemikiran Islam Moderat. Tetapi dengan menanamkan akidah dan syariah Islam, sehingga mereka menjadikan akidah Islam sebagai pijakan dalan berpikir dan bertingkah laku.Dan hal ini akan bisa terwujud jika genarasi muslim ini belajar Islam kaaffah.

Di tangan generasi muda inilah tergenggam tanggung jawab untuk mengantarkan umat Islam kelak kepada kebangkitan yang hakiki, yaitu tegaknya hukum-hukum Islam di muka bumi ini dalam naungan Khilafah. Apa jadinya nasib umat Islam di masa datang, jika kaum mudanya telah teracuni pemikiran-pemikiran yang seolah-olah bijaksana, padahal sesungguhnya merupakan racun yang membinasakan. Saatnya kembali kepada Islam kafah, yang akan membawa umat Islam kepada keberkahan. Wallahu a’lam bishawwab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *