[Fikrul Islam] Kemaksuman Rasul

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM — Kemaksuman para Nabi dan Rasul ditetapkan kepastiannya berdasarkan akal. Sebab keberadaannya sebagai Nabi atau Rasul telah memastikan bahwa dia maksum dalam hal penyampaian risalah (tablig) yang datang dari Allah. Apabila terjadi suatu cacat yang memungkinkan hilangnya sifat kemaksuman, meskipun dalam satu masalah saja, berarti ada kemungkinan terjadinya cacat pada seluruh masalah. Jika itu terjadi, maka akan rusaklah nilai kenabian dan kerasulan secara keseluruhan. Kepastian bahwa seseorang adalah nabi atau rasul yang diutus Allah, berarti pula bahwa ia bersifat maksum dalam masalah penyampaian risalah yang datang dari Allah.

Kemaksuman dalam hal tablig bersifat pasti, sehingga ingkar/kufur terhadap sifat ini berarti kufur terhadap risalah yang dibawa oleh Rasul tersebut, atau kufur terhadap kenabiannya yang telah ditetapkan oleh Allah.

Adapun kemaksuman dalam perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan perintah dan larangan Allah, maka yang menjadi suatu kepastian bahwa Rasul/Nabi maksum dalam perbuatan yang termasuk kategori dosa-dosa besar (Al kabaair) sehingga seorang Nabi atau Rasul tidak mungkin melakukan suatu perbuatan yang termasuk dosa besar secara mutlak.

Sebab, mengerjakan suatu dosa besar berarti telah terjerumus dalam “kemaksiatan”. Padahal ketaatan itu tidak dapat dipisah (harus utuh), begitu juga kemaksiatan tidak bersifat parsial. Jika kemaksiatan telah mewarnai suatu perbuatan, maka ia akan merambat pada masalah tablig (penyampaian risalah). Hal ini jelas bertentangan dengan (hakikat) risalah dan kenabian. Oleh karena itu para Nabi dan Rasul bersifat maksum terhadap dosa-dosa besar, sebagaimana maksumnya mereka dalam penyampaian risalah (tablig).

Adapun terhadap dosa-dosa kecil (Ash shaghaair) para ulama berbeda pendapat, apakah para Nabi dan Rasul maksum dari perbuatan dosa-dosa kecil. Sebagian mengatakan para Nabi/Rasul tidak maksum dari mengerjakan dosa-dosa kecil, sebab hal itu tidak termasuk kategori “maksiat”. Sedangkan sebagian lainnya mengatakan, para Nabi/Rasul maksum dari mengerjakan dosa-dosa kecil, sebab hal itu sudah termasuk kategori “maksiat”.

Yang benar adalah bahwa semua yang haram untuk dikerjakan dan yang wajib dilakukan, yaitu berupa seluruh jenis fardu dan seluruh bentuk yang haram, maka dalam hal ini para Nabi dan Rasul bersifat maksum. Dengan demikian mereka maksum dari mengerjakan sesuatu yang diharamkan atau meninggalkan suatu kewajiban. Baik hal itu termasuk dosa-dosa besar atau dosa-dosa kecil. Ini berarti mereka maksum dari mengerjakan setiap sesuatu yang termasuk perbuatan masiyat.

Selain itu dalam tindakan yang termasuk khilaful aula (tidak mengerjakan yang terbaik/paling layak), maka mereka tidaklah maksum. Dibolehkan mereka mengerjakan tindakan khilaful aula secara mutlak. Sebab, ditinjau dari berbagai sudut mana pun, hal itu tidak termasuk dalam jenis maksiat.

Demikianlah, dapat dipastikan secara aqliy, adanya sifat maksum pada Nabi dan Rasul yang ditentukan oleh keberadaan mereka sebagai Nabi dan Rasul. Sayyidina Muhammad saw adalah seorang Nabi dan Rasul. Beliau, sebagaimana Nabi dan Rasul lainnya maksum dari kesalahan dalam menyampaikan sesuatu yang berasal dari Allah Swt.. Hal ini bersifat pasti sebagaimana yang telah ditunjukkan dengan dalil-dalil akal maupun syarak.

Rasulullah saw tidak pernah menyampaikan satu hukum pun, kecuali dari wahyu. Allah berfirman,

“Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah memberi peringatan kepadamu dengan al-wahyu.” (QS. Al Anbiyaa: 45)

Maksud ayat itu adalah: katakanlah kepada mereka wahai Muhammad, bahwasanya aku hanyalah memberi peringatan kepadamu dengan al-wahyu yang diturunkan kepadaku. Dengan kata lain, peringatan-peringatan kepadamu hanya terbatas pada yang di wahyukan saja. Dan Allah Swt. pun berfirman,

“(Dan) Dia (Muhammad) tidaklah mengucapkan sesuatu dari hawa nafsunya. Apa yang diucapkannya itu hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS An Najm: 3-4)

Lafadz “wahyu” dalam bentuk umum, mencakup Al-Qur’an dan selain Al-Qur’an. Tidak ditemukan satu nas pun, baik dari Al-Qur’an maupun Sunah yang mengkhususkan (men-takhshish) wahyu tersebut hanya dengan Al-Qur’an saja. Maka ia tetap dalam bentuk umum. Artinya, seluruh ucapan Rasulullah saw. dalam masalah tasyri‘, hanya berupa wahyu yang diwahyukan kepadanya. Tidak dibenarkan melakukan pengkhususan arti lafaz tersebut, bahwa apa yang diucapkan Rasul saw. hanyalah Al-Qur’an saja, tetapi lafaz itu tetap dalam bentuk umum yang mencakup Al-Qur’an dan Hadis.

Adapun pengkhususan ayat ini dengan hanya apa yang disampaikan Allah berupa tasyri‘, hukum-hukum, aqaaid, pemikiran-pemikiran, dan kisah-kisah, serta tidak tercakup di dalamnya persoalan uslub (cara) dan sarana-sarana dalam membuat strategi peperangan, misalnya, teknik penyerbukan tanaman kurma, dan lain sebagainya. Maka hal itu disebabkan beliau memiliki kedudukan sebagai Rasul. Dan pembahasan di sini berkenaan dengan keberadaan beliau sebagai Rasul dan apa yang dibawa oleh beliau tidak mencakup hal lain. Maka yang dikhususkan di sini adalah topik pembicaraan dalam ayat tersebut di atas. Lafaz yang berbentuk umum, tetap dalam bentuk keumumamnya, dalam batas cakupan topik pembahasan.

Maka apa yang dibahas di atas tidak termasuk kategori pengkhususan, berdasarkan firman Allah Swt., “Katakan Muhammad, aku hanyalah memberi peringatan kepadamu dengan al-wahyu.” (QS Al Anbiya’: 45)

“Yang diwahyukan kepadaku, adalah “Aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.” (QS Shaad: 70)

Ayat tersebut menjelaskan, bahwasanya yang termasuk dalam pembahasan ini adalah yang berkenaan dengan masalah aqaaid, hukum, dan setiap masalah yang diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan dan memberi peringatan kepada manusia. Oleh karena itu, tidak tercakup penggunaan cara/taktik atau perbuatan jibiliyah, yakni perbuatan alamiyah manusia yang telah menjadi tabiat penciptaannya, seperti makan, cara berjalan, berbicara, dan lain sebagainya. Jadi, dalam hal ini kekhususan adalah dalam perbuatan dan pemikiran manusia, bukan masalah cara dan sarana, atau yang semisal dengan itu.

Maka setiap perkara yang dibawa oleh Rasulullah, yang berkaitan dengan perbuatan manusia (af’aalul ‘ibaad) dan pemikiran-pemikirannya adalah berasal dari wahyu Allah. Wahyu mencakup perkataan, perbuatan, dan diamnya Rasul saw. atas sesuatu. Sebab, kita diperintahkan mengikuti beliau dan menjadikannya suri tauladan. Sebagaimana firman Allah,

“Apa yang dibawa oleh Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS Al Hasyr: 7)

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (QS Al Ahzaab: 21)

Berdasarkan dua ayat tersebut maka ucapan, perbuatan, dan diamnya Rasulullah, merupakan dalil syar’iy. Semua itu adalah wahyu dari Allah. Rasulullah saw. telah menerima al-wahyu dan menyampaikan segala sesuatu yang diterimanya dari Allah Swt. kepada manusia. Beliau memberikan alternatif tata cara pemecahan problematika kehidupan sesuai dengan wahyu, tanpa menyimpang sedikit pun. Allah Swt. berfirman,

“Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al Ahqaaf 9)

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku.” (QS Al A’raaf: 203)

Pengertian ayat ini bahwa, “Aku hanya mengikuti wahyu yang diturunkan kepadaku oleh Allah Swt..” Hal ini berarti membatasi meneladani Rasulullah dengan apa yang telah diterima dari Allah Swt.. Semua itu teramat jelas dan gamblang, bahwa apa yang diperintahkan kepada Rasulullah saw. untuk menyampaikannya kepada manusia adalah wahyu semata.

Kehidupan Rasulullah saw., yang berkaitan dengan masalah tasyri‘, dalam menjelaskan hukum-hukum kepada manusia/masyarakat sesuai dengan wahyu. Beliau saw, dalam banyak persoalan hukum, seperti zhihar, li’aan, dan lain sebagainya, menanti turunnya al-wahyu. Beliau tidak mengucapkan sesuatu hukum/ketetapan, atau mengerjakan dan mendiamkan sesuatu yang berkaitan dengan tasyri‘, kecuali semua itu berdasarkan wahyu dari Allah Swt..

Di kalangan sahabat, kadang-kadang terjadi kerancuan antara hukum-hukum yang termasuk dalam perbutan manusia dan pemikiran (ide) atas sesuatu, dengan masalah sarana atau cara. Mereka pun bertanya kepada Rasulullah saw. apakah hal itu berupa wahyu, atau suatu pendapat pribadi (Rasul) dan suatu kesepakatan (sesuai yang dimusyawarahkan).

Jika Rasulullah saw mengatakan bahwa itu adalah wahyu, mereka semuanya diam. Mereka mengetahui bahwa hal itu bukan berasal dari diri Rasulullah saw..

Akan tetapi jika Rasulullah saw mengatakan bahwa itu adalah suatu pendapat pribadi (Rasul) atau sesuatu yang dimusyawarahkan, merekapun melakukan dialog dengan Rasulullah saw.. Dan terkadang, Rasul saw. mengikuti pendapat mereka, sebagaimana yang terjadi dalam peristiwa perang Badar, Khandaq, dan Uhud.

Dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan apa yang disampaikan oleh Allah, beliau katakan kepada mereka, “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.” Sebagaimana yang terjadi pada peristiwa penyerbukan tanaman kurma.

Jika Rasulullah saw. diperbolehkan mengucapkan sesuatu yang berkaitan dengan masalah tasyri‘, tanpa disandarkan pada al-wahyu, lalu untuk apa beliau menunggu-nunggu turunnya al-wahyu, sebelum beliau menetapkan suatu hukum, begitu juga mengapa para sahabat bertanya pada beliau, apakah sesuatu itu berasal dari al-wahyu atau pendapat pribadi Rasulullah.

Jika tidak demikian tentu Rasul akan menjawab secara langsung pertanyaan mereka atau mereka akan mengajukan pendapat tanpa meminta penjelasan. Oleh karena itu, Rasulullah saw. tidak pernah berkata, bertindak, atau berdiam diri atas sesuatu, kecuali semua itu berasal dari wahyu Allah, bukan dari pendapatnya sendiri. Dan tidak perlu diragukan lagi bahwa beliau saw. bersifat maksum dalam menyampaikan segala sesuatu yang datang dari sisi Allah Swt.. [MNews/Rgl]

Sumber: Al-Fikru Al-Islamu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *