[Nafsiyah] Meyakini Adanya Allah Swt. Sang Khalik

Penulis: Adi Victoria

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Jalan menuju iman atau thoriqul iman adalah bab awal di dalam kitab Nidzamul Islam yang ditulis oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah.

Pembahasan di dalam bab ini berkaitan dengan pembentukan akidah secara aqliyah. Karena menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani bahwa Islam mewajibkan umatnya untuk menggunakan akal dalam beriman kepada Allah Swt., serta melarang bertaklid dalam masalah akidah. Untuk itulah, Islam telah menjadikan akal sebagai timbangan dalam beriman kepada Allah Swt., sebagaimana firman-Nya,

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (TQS Ali Imran: 190)

Dengan memperhatikan keteraturan silih bergantinya malam dan siang, maka itu sudah cukup membuktikan secara akal bahwa keteraturan itu bukan ada dengan sendirinya, melainkan diatur oleh Sang Khalik yakni Sang Pencipta, yang menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan.

Memang benar bahwa akal manusia bersifat terbatas, tidak bisa menjangkau Zat Allah Swt.. Sehingga mungkin timbul pertanyaan, “Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah Swt, sedangkan akalnya sendiri tidak mampu memahami Zat Allah?”

Tentu kita tidak mengatakan demikian, karena pada hakikatnya bahwa iman adalah percaya terhadap wujud Allah Swt. sedangkan wujudnya dapat diketahui melalui makhluk-makhluk-Nya, yaitu alam semesta, manusia, dan kehidupan. 

Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan,

تفكروا فى الحلق ولا تفكروا فى الخالق فإنكم لا تقدرون قدره

“Berpikirlah kalian tentang makhluk Allah, tetapi jangan kalian berpikir tentang Zat Allah. Sebab, kalian tidak akan sanggup mengira-ngira hakikat-Nya yang sebenarnya.” (HR Abu Nu’aim)

Dan seharusnya keterbatasan tersebut justru menjadi faktor penguat iman. Karena merasa dirinya lemah, terbatas, dan kurang. Sehingga ia membutuhkan sesuatu yang lain, yang tidak bersifat lemah, terbatas, atau pun kurang, Dialah Allah Swt., yang bersifat azali dan wajibul wujud. Wallahu a’lam. [MNews/Nsy]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *