BeritaNasional

[News] Arah Output Sistem Pendidikan Saat Ini, Ahmad Sastra: Tidak Jelas, Sempit, dan Gelap

MuslimahNews.com, NASIONAL—Arah output karakter generasi oleh sistem pendidikan saat ini, dinilai Ketua Forum Doktor Peduli Bangsa Dr. Ahmad Sastra, M.M. sedang menuju kepada ketidakjelasan, sempit, dan gelap. “Tidak semuanya salah, tetapi untuk menuju peradaban yang ideal, Indonesia masih jauh,” ungkapnya dalam Focus Group Discussion: Kontroversi Pembubaran BSNP & Masa Depan Pendidikan, Sabtu (18/9/2021) di kanal YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

“Ini bisa ditinjau dengan membandingkan antara standar Islam dengan standar yang ada di negeri ini, yaitu pertama, universalitas. Sifat pendidikan pada peradaban Islam adalah universal, memberikan rahmat bagi seluruh alam. Lalu bagaimana dengan produk-produk pendidikan negeri ini? Sudah bisakah dirasakan kebaikannya oleh seluruh masyarakat dunia? Jawabannya belum,” ulasnya.

Kedua, pendidikan Islam berbasis iman atau tauhid. Ia amenuturkan, sebenarnya ini sejalan dengan visi pendidikan di Indonesia untuk melahirkan manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak, dan kreatif.

“Memang secara konsep ada. Namun pertanyaannya, apakah setiap kebijakan pemerintah yang ada sejak presiden pertama hingga sekarang, mengacu kepada normatif yang sudah ideal itu? Ternyata tidak, justru makin sempit. Makin tidak berbasis iman, ilmu, dan amal. Hanya diarahkan pada target pragmatisme yang dikaitkan dengan industrialisasi,” cetusnya.

Baca juga:  #TokohBicaraHijrah—Hijrah di Mata Praktisi Pendidikan (3)

Ketiga, adil. Islam mengajarkan untuk menebarkan keadilan, yang sebenarnya juga ada pada Pancasila. Hanya saja, urainya, pendidikan di dalam Islam adalah untuk semua. “Semua orang punya hak dan dibiayai oleh negara,” ujarnya.

Selanjutnya ia mempertanyakan kondisi di negeri ini. “Apakah pendidikan sudah untuk semua? Apakah semua anak mendapatkan hak pendidikan tanpa biaya? Atau sebaliknya? Ada sekolah yang sudah berorientasi bisnis sehingga tidak semua orang bisa masuk, bahkan juga ada orang miskin yang putus sekolah. Padahal di Pancasila disebutkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Apakah bisa bersekolah secara cuma-cuma karena sudah ditarik pajak? Ternyata tidak. Semua ditarik pajak, tetapi sekolah juga susah. Tidak semua orang bisa merasakan sekolah,” cecarnya.

Keempat, adab yang melahirkan peradaban.  “Peradaban di negeri ini, apakah sudah berbasis nilai-nilai yang baik berbasis agama, khususnya Islam, atau malah dihegemoni oleh nilai-nilai Barat?” tanyanya retorik.

Menurutnya ini bisa dilihat ketika ada suara-suara kebangkitan Islam, justru dianggap sebagai buah radikalisme. “Dianggap berbahaya, mengancam, dan seterusnya. Di sisi lain ketika peradaban Barat yang hadir, seperti seks bebas, ataupun homoseksual malah dianggap ekspresi hak asasi manusia,” kritiknya.

Ia menegaskan, dari pahamnya sudah jelas sekali bahwa pandangan Barat itu yang sedang menghegemoni negeri ini, yaitu sekularisme dan liberalisme. “Tentu sangat jauh dari Islam,” tukasnya.

Baca juga:  HTI Dituding Penyebab Pendidikan Mandek, Begini Jawaban Telak dari Akademisi

Jika demikian, imbuhnya, maka negeri ini sedang menuju kerusakan bukan kebaikan. “Karena keempat standar tadi tidak terpenuhi. Justru sebaliknya ada ketidakadilan dan amoralitas. Pendidikan pun makin sempit dan dangkal,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *