Narasi Sesat, Jadikan Bahasa Arab Indikator Teroris

Penulis: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews.com, FOKUS — Pernyataan lancang mengaitkan bahasa Arab dengan terorisme benar-benar membuat berang kaum muslimin. Pada saat dunia dan masyarakat Indonesia mengikuti perkembangan berkuasanya Taliban di Afganistan, tetiba Susaningtyas Nefo Kertopati—pengamat intelijen—menyeret gambaran Taliban dengan sudut pandang negatif ke ranah pendidikan di Indonesia.

Susan membeberkan ciri-ciri sekolah dan guru yang mulai berkiblat ke Taliban atau terpapar radikalisme. Ciri yang mengarah ke radikalisme tersebut adalah tidak mau menghafal nama-nama menteri dan parpol, juga yang memperbanyak belajar bahasa Arab.

Menurutnya, penyebaran terorisme dengan memperbanyak bahasa Arab sangat mengkhawatirkan generasi penerus bangsa. Anak muda yang sudah tergerus bahasa Arab melupakan bahasa Indonesia, bahkan tidak mau hormat kepada bendera Indonesia. Paparan Susan tersebut disampaikan pada diskusi virtual bertajuk “Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?”.[i]

Ujaran Kebencian Bentuk Islamofobia

Pernyataan Susaningtyas tersebut, jelas-jelas merupakan ujaran provokatif dan tendensius. Pernyataan tersebut sontak mengundang respons keras dari sejumlah ulama dan tokoh. Ketua Majelis Ulama (MUI) Pusat, Kiai Muhammad Cholil Nafis menyebut Susaningtyas lebih tepat disebut sebagai penyesat daripada pengamat. Patut diduga, pengamat ini tidak memahami bahasa Arab dan boleh jadi tidak pernah belajar bahasa Arab, sehingga mengaitkannya dengan teroris.

Imam Besar Islamic Center of New York Muhammad, Shamsi Ali, justru mempertanyakan kualitas Susaningtyas sebagai seorang pengamat intelijen. Bagaimana bisa seorang pengamat intelijen tidak bisa melihat masalah secara luas dan menanggapi permasalahan dengan cara yang bermutu?[ii]

Sementara itu, Ketua PP Muhammdiyah Dadang Kahmad juga menyatakan bahwa pernyataan Susaningtyas merupakan bagian dari islamofobia dan dapat memicu gerakan pendiskreditan simbol-simbol agama yang lainnya. Pernyataannya pun sangat tidak logis dan cenderung menebar ujaran kebencian (hate speech) terhadap umat Islam, khususnya para santri, siswa, mahasiswa, guru, kiai, dan dosen bahasa Arab se-Indonesia.[iii]

Mendapat sorotan dan respons keras dari para tokoh dan ulama, Susan berdalih tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio terorisme. Namun, dalih tersebut tidak sejalan dengan sikapnya yang tetap bersikukuh bahwa apa yang dia sampaikan didasarkan pada banyak riset, bahwa banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang berkiblat ke Taliban.[iv]

Pernyataan Susan tersebut jelas terkategori sebagai ujaran kebencian terhadap Islam dan umat Islam, khususnya para santri, siswa, mahasiswa, guru, kiai, dan dosen bahasa Arab se-Indonesia. Namun nyatanya, pelaku ujaran kebencian ini masih bisa melenggang bebas hingga saat ini.

Baca juga:  Terorisme dan Perempuan

Sekjen Komisi Dakwah MUI, Fahmi Salim, menilai penegakan hukum terhadap UU ITE dan aturan Kapolri tentang ujaran kebencian, seperti tebang pilih. Menurut Fahmi, jika kasus tersebut pelakunya berafiliasi dengan umat Islam atau ormas Islam, akan segera ditindak. Akan tetapi, jika pelakunya tidak ada hubungannya dengan umat atau ormas Islam, polisi seolah-olah lamban dalam menindak pelaku.[v]

Menebar Kebencian terhadap Islam

Kebencian terhadap (islamofobia) tak lepas dari sejarah panjang kebencian yang telah tumbuh berkembang dengan berbagai ragam bentuk dan fungsi. Menurut Mastnak dalam artikelnya yang berjudul Western hostility toward Muslims: A history of the present (2010), permulaan sikap antipati yang dikenal sebagai antimuslim di dunia Kristen dimulai pada pertengahan abad ke-9, yaitu ketika terjadi ketakutan dialami oleh masyarakat Kristen yang hidup di bawah pemerintahan muslim pada masa lalu terhadap asimilasi budaya Islam. Dan, pertama kali terjadi ketika Islam menjadi normative, fundamental, quintessential, universal enemy, ketika Paus Urban menyerukan Perang Salib pada 1095.[vi]

Hari ini, islamofobia tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja, tetapi secara sengaja dijadikan sebagai agenda global oleh negara adidaya dan sekutunya. Hingga negeri-negeri muslim sekalipun turut meratifikasi kebijakan global dalam bentuk perundang-undangan. Mereka mengikuti genderang perang yang dimainkan oleh negara adidaya untuk turut serta memerangi teroris-radikalisme, yang menunjuk pada Islam dan kaum muslimin.

Stereotip tentang Islam sebagai terorisme dan radikalisme dibangun melalui pesan-pesan yang dibawa oleh media massa maupun para tokoh di tengah masyarakat. Media massa, baik melalui koran ataukah film, sangat efektif untuk membangun stereotip Islam sebagai agama teroris di tengah masyarakat. Begitu pula pernyataan para tokoh yang seolah didukung dengan data, riset dan penelitian, menjadi pembenar atas stereotip yang sedang dibangun.

Masyarakat pun tidak diberi informasi yang cukup atau kesempatan melihat secara utuh siapa pelaku tindak teroris yang terjadi. Mereka keburu ditembak mati. Framing jahat pun disusun dengan menyuguhkan bukti di tengah masyarakat, semuanya mengarah pada sosok muslim. Rajin ke masjid, memakai celana cingkrang, istri bergamis, serta di rumahnya ditemukan Al-Qur’an dan buku berbahasa Arab.

Baca juga:  FI’L AL-AMR (KATA PERINTAH)

Jika dulu masih sebatas menjadikan Al-Qur’an yang berbahasa Arab sebagai salah satu bukti yang ditemukan di rumah tersangka teroris, kini kebencian itu makin tampak dengan pernyataan belajar bahasa Arab berpotensi menjadi teroris.

Menguatnya Islamofobia di Indonesia

Isu terorisme radikalisme ditabuh kembali seiring dengan munculnya kepemimpinan Taliban di Afganistan. Selalu ada upaya mengaitkan pergerakan Islam di berbagai belahan dunia, menjadi celah untuk menyerang Islam, termasuk di Indonesia. Bahkan saat ini, isu radikalisme makin nyaring dikumandangkan berbagai pihak di Indonesia.

Saat ini, di berbagai belahan dunia, Barat dan Eropa menahan diri dalam memberikan pernyataan bahwa apa yang terjadi di Taliban akan berimbas pada gerakan Islam di wilayah mereka. Uniknya, di Indonesia, intelijen dan pejabat publik begitu kencang bersuara menunjukkan kekhawatiran pengaruh Taliban di Indonesia.

Ada dua hal yang menjadi alasan maraknya narasi “Taliban akan masuk ke Indonesia.” Alasan pertama, pernyataan kekuatiran tersebut justru menunjukkan pengakuan akan sikap lemahnya kepemimpinan rezim. Rezim seolah mengumumkan akan ketakmampuannya menjaga ketahanan dan keamanan wilayah negerinya dengan setiap perubahan yang terjadi di dunia.

Adapun alasan kedua, sebagai upaya pembuktian bahwa Indonesia sebagai negara ketiga adalah negara pembebek. Setiap resolusi atau kebijakan negara adidaya, akan digaungkan di negerinya. Setelah Peristiwa 9/11 di AS, Bush menetapkan empat kebijakan abadi dalam counterterrorism: (1) tidak ada konsesi untuk teroris dan tidak masalah untuk menyerang; (2) membawa teroris ke pengadilan atas kejahatan mereka; (3) mengisolasi dan menerapkan tekanan pada negara-negara yang mensponsori terorisme untuk memaksa mereka untuk mengubah perilaku mereka; (4) meningkatkan kemampuan kontra teroris dari negara-negara yang bekerja sama dengan AS dan yang memerlukan bantuan (U.S Department of State, 2004:ix). Maka, tak lama pascaperistiwa 9/11, terjadilah peristiwa Bom Bali, yang menjadi alasan keterlibatan Indonesia agenda global tersebut.

Kini, tidak ada satu pun agenda counterterrorism dilewatkan oleh Indonesia, baik kerja sama dengan negara-negara di ASEAN maupun Barat dan Eropa. Apalagi dana yang diguyurkan untuk proyek global ini sangat besar. Implementasi kerja sama dalam menangani aksi terorisme diterapkan dalam melaksanakan job desk pada program-program yang sudah dibentuk, yaitu Anti-Terrorism Assistance (ATA) Program melalui Bureau of Diplomatic Security AS untuk Densus 88 Antiteror Polri, dan Regional Defense Combating Terrorism Fellowship Program (CTFP) melalui Department of Defense (DoD) untuk TNI.

Baca juga:  Masifitas GWoT (Global War on Terrorism) di Indonesia

Bahasa Arab Bukan Bahasa Teroris

Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an, bukan bahasa teroris. Al-Qur’an sendiri berkedudukan sebagai kitab suci ‘guidance’ bagi kaum muslimin. Sebagaimana Allah firmankan dalam QS Al-Baqarah ayat 2,

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Siapa pun yang mengaku dirinya muslim, wajib bagi mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidupnya. Terlepas apakah dia berada di Indonesia, Arab, Turki, Cina, dan negara mana pun, wajib memahami apa yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Persoalannya, Al-Qur’an itu satu dan diturunkan ke dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab—minimal untuk membantunya untuk menjalankan kewajiban individual seperti salat, membaca Al-Qur’an, atau berzikir. Sebab, amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab.

Belajar tajwid dan tahsin termasuk bagian dari belajar bahasa Arab. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ

“Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”

Jika bahasa Arab sedemikian pentingnya bagi kehidupan seorang muslim, wajarlah bila ada kebutuhan bahkan wajib dipelajari di sekolah-sekolah. Bahasa ini sebenarnya juga merupakan karakter yang melekat pada sosok muslim. Hanya saja, dengan dihancurkannya Daulah Khilafah Islamiah, justru bahasa inilah yang pertama kali disingkirkan dari peradaban Islam oleh Mustafa Kemal—antek Inggris penghancur Khilafah. Bahasa Arab dihapuskan menjadi bahasa negara,dan diiganti dengan bahaa Turki, bahkan azan pun berbahasakan Turki.

Sejatinya, Islam memiliki kekuatan yang sangat besar. Terbukti, baru bahasanya saja yang dipelajari di lingkup pendidikan, telah menggetarkan musuh-musuh Islam dan para anteknya. Maka, tegaknya Daulah Khilafah Islamiah akan memberikan kekuatan Islam yang utuh, yang mampu membungkam mulut-mulut jahat dan setiap makar yang menyerang Islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lamu. [MNews/Gz]

Referensi:

[i]https://news.detik.com/berita/d-5717608/susaningtyas-kertopati-klarifikasi-soal-viral-bahasa-arab-dan-terorisme

[ii]https://depok.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-092558496/pengamat-intelijen-sebut-bahasa-arab-ciri-teroris-shamsi-ali-cara-pandang-sempit-tak-bermutu-dan-memalukan?page=2

[iii] https://www.republika.co.id/berita/qz617f282/stigma-tak-logis-di-pernyataan-bahasa-arab-ciriciri-teroris

[iv]https://news.detik.com/berita/d-5717608/susaningtyas-kertopati-klarifikasi-soal-viral-bahasa-arab-dan-terorisme

[v] https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/05/03/opc6hv354-mui-penegakan-undangundang-ite-tebang-pilih

[vi] https://www.kompas.id/baca/opini/2021/06/11/memahami-katalisator-kebencian-dalam-islamofobia/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.