[News] Cendekiawan Muslim: Perubahan Standar Pendidikan Tidak Masalah, Selagi Mampu Menyiapkan Manusia Segala Zaman

MuslimahNews.com, NASIONAL—Pembubaran Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menjadi Dewan Pakar Standar Nasional Pendidikan (DPSNP) untuk memastikan keberlanjutan keterlibatan publik dalam perumusan kebijakan terkait standar nasional pendidikan, dinilai cendekiawan muslim Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar tidak menjadi masalah, selagi standar pendidikan yang dirubah atau dirumuskan mampu menyiapkan manusia segala zaman untuk mengemban misi di muka bumi.

“Ijtihad harus terus ada karena banyak standar yang diciptakan dari masa lalu, belum mengantisipasi perubahan di masa depan. Ini tantangan dan lebih penting dibahas,” urainya dalam Focus Group Discussion: Kontroversi Pembubaran BSNP & Masa Depan Pendidikan, Sabtu (18/9/2021) di kanal YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Ia mencontohkan perkembangan data yang sangat pesat saat ini. “Punya data yang akurat, mutakhir, dan mudah diakses itu penting, tetapi membangun peradaban yang bijak di tempat dan saat yang tepat, jauh lebih penting. Tanpa arah yang benar, data dapat disalahgunakan untuk menipu, bahkan membantu penjajahan,” jelasnya.

Ia menggambarkan di dalam Islam yang terejawantah pada peradaban Islam, penting ditanamkan identitas diri kepada para pelajar. Terdiri dari, pertama, hidup di dunia untuk taat kepada Allah.

Baca juga:  [Editorial] Ketika Pendidikan Kian Sesat Arah

“Melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya,” ujarnya.

Kedua, ditanamkan seperti apa tugas manusia, khususnya bagi umat Islam, yaitu menjadi khairu ummah atau manusia terbaik. “Mengemban misi menyeru kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah,” tuturnya.

“Sehingga jika ada standar pendidikan yang di dalamnya tidak untuk membentuk misi sebagai generasi terbaik tersebut, maka standar pendidikan ini sudah gagal sejak awal,” kritiknya.

Ketiga, Allah memerintahkan misi mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Bukan hanya dirasakan muslim, tetapi juga nonmuslim. “Maknanya, untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kemafsadatan. Namun, ini bisa terwujud jika muslimnya sudah menjadi khairu ummah,” tegasnya. 

Keempat, manusia diturunkan Allah ke dunia sebagai khalifah (pengganti) di muka bumi. Sehingga, katanya, jika ada sesuatu di muka bumi, Allah tidak turun langsung menyelesaikan. “Melainkan mengilhamkan kepada manusia melalui jalan takwa. Jika manusia bertakwa maka ia akan memancarkan rahmatan lil ‘alamin,” cetusnya.

Prof. Fahmi mengemukakan, sebagai agen Allah, manusia akan teguh berpegang dengan tali Allah, taat kepada-Nya, sekaligus cerdas mengelola bumi ini.

“Manusia ini akan menjadikan ayat-ayat Allah tentang bagaimana memperhatikan alam sebagai sebuah perintah. Sayangnya pada umumnya saat ini, yang belajar agama dijauhkan dari saintifik, yang saintifik dijauhkan dari agama. Sementara dalam Islam, manusia diajak untuk berpikir,” paparnya.

Baca juga:  Putus Kuliah “Mewabah”, Mahasiswa Tak Berdaya, Apa Solusi Negara?

Ia menyayangkan apabila banyak yang hafal Al-Qur’an, tetapi mengira ilmu Allah itu sebesar Al-Qur’an saja. “Padahal ilmu Allah jauh lebih luas dari Al-Qur’an sebagaimana tertera dalam surat Lukman ayat 27. Sehingga standar Islam menginginkan manusia yang komplet, menyatu antara keimanan dan keilmuannya,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *