BeritaInternasional

[News] Invasi AS Setelah Peristiwa 11 September, Pengamat: Strategi Baru Pasca-Perang Dingin

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Menanggapi  invasi AS ke negeri-negeri kaum muslimin setelah peristiwa 9/11, 20 tahun lalu, pengamat politik Islam, Ustaz Farid Wadjdi mengungkapkan bahwa peristiwa 9/11 dijadikan pintu legitimasi AS menginvasi negeri muslim dengan alasan perang melawan terorisme (War on Terrorism/WoT).

Menurutnya, inilah strategi baru keamanan AS pasca-Perang Dingin. AS tidak akan membiarkan kekuatan negara lain menyainginya. “Untuk itu WoT dijadikan legitimasi kepentingan Barat untuk mempertahankan dominasinya, termasuk menjadi legitimasi para “boneka” Barat—penguasa negeri-negeri muslim yang diktator dan represif—untuk “menghabisi” lawan-lawan politiknya, khususnya gerakan-gerakan Islam yang ingin menerapkan syariat Islam,” ulasnya dalam kanal KC News, Kamis (16/9/2021).

Didesain untuk Menjadikan Islam sebagai Musuh

Ia menguraikan, dalam rangka menguatkan legitimasi tersebut, AS kemudian membangun common enemy (musuh bersama –terj.) yang bisa dijadikan “monster” bagi dunia, yang memiliki kekuatan yang luar biasa baik sisi ideologi maupun politik.

“Maka, yang paling memungkinkan dijadikan common enemy adalah Islam dan kaum muslimin. Sehingga tidak mengherankan jika perang ini menyasar umat Islam. Tampak dari wilayah yang diinvasi adalah wilayah Islam, seperti Afganistan, Irak, Yaman, Suriah, dan lainnya. Jumlah korbannya juga umat Islam di wilayah itu  yang jauh lebih besar dari jumlah korban 9/11 saat ledakan WTC,” jelasnya.

Baca juga:  [News] UIY: Moderasi Beragama Memerangi Islam yang Kental dan Tebal

Jadi, imbuhnya, tidak mengherankan pula ketika dalam perang ini George W. Bush menggunakan kata yang khas, yaitu this crusade (perang salib ini) yang musuhnya adalah Islam. “Artinya sejak awal, perang ini didesain untuk menjadikan Islam sebagai musuh,” cetusnya.

Ditambah lagi, paparnya, AS mengklaim dirinya sebagai polisi dunia. “Tampak dari penyataan George W. Bush yang hanya memberi dua pilihan bagi dunia, you are with us or you are with the terrorists (anda bersama kami, atau bersama para teroris—terj.),” tukasnya.

WoT Dikentalkan dengan Isu Radikalisme

Sementara itu, Ustaz Farid menuturkan, WoT pun digunakan untuk mengalihkan kegagalan para penguasa represif mengurus negerinya, seperti kegagalan ekonomi, politik, dan lainnya. “Jadi, narasi WoT dan isu radikalisme ini sering digunakan untuk mempertahankan kekuasaan rezim represif dan gagal,” kritiknya.

Oleh sebab itu, ia menjabarkan, WoT ini akan terus ada karena menjadi legitimasi yang kuat bagi AS mengintervensi negara lain, dan akan makin mengental dengan perang melawan radikalisme.

“Mengapa? Karena WoT sasarannya hanya kelompok-kelompok yang mengangkat senjata, sedangkan perang melawan radikalisme sasarannya kelompok yang lebih besar lagi, yaitu yang menjadi musuh ideologi kapitalisme Barat. Mencakup pemikiran dan ajaran, seperti khilafah dan jihad,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *