[Fikrul Islam] Makna Lailahaillallah (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM — Fitrah manusia telah memastikan adanya Al-Khaliq. Tetapi manifestasi takdis yang harus dilakukan tatkala muncul sesuatu yang menggerakkan rasa keberagamaannya akan menyebabkan takdis terhadap apa saja yang dianggapnya layak untuk disembah. Mungkin sesuatu itu dianggap sebagai Al-Khaliq, atau yang disangkanya sebagai Al-Khaliq akan rida dengan tindakannya itu, atau dianggap Al-Khaliq menitis/menjelma pada benda yang ia sembah, di samping Al-Khaliq Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, adanya persangkaan banyaknya tuhan yang disembah dialihkan kepada zat yang disembah, bukan terhadap ada atau tidaknya Al-Khaliq. Maka penolakan terhadap adanya banyak tuhan yang disembah harus dijadikan sebagai penolakan zat yang disembah (selain Allah), mengharuskan dan menjadikan ibadah semata-mata kepada Al-Khaliq yang azali dan wajibul wujud.

Berdasarkan hal ini Islam datang sebagai landasan (hidup) bagi seluruh manusia. Islam menyatakan bahwa ibadah hanyalah dilakukan terhadap zat yang wajibul wujud. Dialah Allah Swt. Islam telah menjelaskan secara rinci tentang semua itu melalui dorongan akal secara jelas. Islam melontarkan pertanyaan tentang sesuatu yang wajib disembah. Mereka pun menjawab, bahwa Dia adalah Allah. Mereka sendiri yang menetapkan buktinya. Allah Swt. berfirman,

“Katakanlah, kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Maka apakah kamu tidak ingat? Katakanlah, “Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai Arsy yang agung?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang ditanga-n-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Maka dari jalan manakah kamu ditipu? Sebenarnya kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan lain beserta-Nya. Kalau ada tuhan lain beserta-Nya masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakan-Nya, dan sebagian tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lainnya.” (QS Al Mu’minun: 84-91)

Baca juga:  [Fikrul Islam] Makna Lailahaillallah (Bagian 1/2)

Dengan pengakuan bahwasanya Allah pencipta segala sesuatu, di tangan-Nyalah terletak kekuasaan atas segala sesuatu, maka mereka pun telah mengharuskan diri mereka sendiri untuk beribadah kepada Allah semata. Sebab sesuai dengan pengakuan mereka ini, hanya Dialah (Allah) yang berhak disembah. Dalam banyak ayat lainnya dijelaskan, bahwa selain Allah, tidak dapat berbuat apapun yang dapat menjadikannya layak disembah sebagaimana ayat-ayat yang dibawah ini,

“Katakanlah, tunjukkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup mata hatimu. Siapakah tuhan selain Allah yang mampu mengembalikan kepadamu?” (QS Al An’aam: 46)

“Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah?” (QS Ath-Thuur: 43)

“(Dan) Tuhanmu adalah yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah: 163)

“Tidak ada Tuhan selain Dia (Allah).” (QS Al-Baqarah: 255)

“(Dan) sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah, yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.” (QS Shaad: 65)

“Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Maha Esa (Allah).” (QS Al Maidah: 73)

Semua ayat di atas menunjukkan tidak ada yang berhak disembah, kecuali Zat yang wajibul wujud. Dialah Allah yang Maha Esa.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Makna Lailahaillallah (Bagian 1/2)

Islam datang dengan ajaran “Tauhidul ibadah” terhadap Zat yang wajibul wujud, yang secara aqliyah maupun fitri, telah ditetapkan keberadaan-Nya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an memberi petunjuk yang gamblang, yang menolak adanya banyak sesembahan. “Ilaah”, menurut arti bahasa, tidak memiliki arti lain, kecuali “Yang disembah” (Al-Ma’buud). Dan secara syar’i tidak ditemukan adanya arti lain, selain arti itu. Maka arti “laa ilaaha”, baik secara lughawi atau syar’iy, adalah “laa ma’buuda“. Dan “illallah“, secara lughawi ataupun syar’iy, artinya adalah Zat yang wajibul wujud, yaitu Allah Swt.

Berdasarkan hal ini, makna dari syahadat pertama dalam Islam, bukanlah kesaksian atas ke-Esaan Al-Khaliq semata, sebagaimana anggapan kebanyakan orang. Tetapi arti yang dimaksud dalam syahadat tersebut adalah adanya kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang memiliki sifat wajibul wujud, sehingga peribadahan dan takdis semata-mata hanya untuk-Nya. Dan secara pasti menolak serta menyingkirkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah Swt.

Jadi, pengakuan terhadap adanya Allah, tidaklah cukup sekadar pengakuan tentang ke-Esaan Al-Khaliq, tetapi harus disertai adanya pengakuan terhadap ke-Esaan. Sebab, arti “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda illallaahu“. Oleh karena itu, syahadat seorang muslim, yaitu bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, mewajibkan kepada dirinya untuk melakukan ibadah hanya kepada Allah, dan membatasi ibadahnya semata-mata kepada Allah saja, sehingga arti tauhid di sini adalah “Tauhidut taqdis” terhadap Al-Khaliq, yakni “Tauhidul ibadah” kepada Allah Yang Maha Esa. [MNews/Rgl]

Baca juga:  [Fikrul Islam] Makna Lailahaillallah (Bagian 1/2)

Sumber: Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *