Abu Muslim al-Khaulani, Teladan dalam Menyuarakan Kebenaran

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Tersebar berita di seluruh penjuru Jazirah Arab bahwa Rasulullah saw. sakit sepulang beliau dari Haji Wada. Setan pun memprovokasi Aswad al-Ansi agar kembali kepada kekafiran setelah keimanannya, dan agar dia berkata tentang Allah dengan dusta.

Dia pun mengaku kepada kaumnya sebagai nabi yang diutus oleh Allah Swt.. Dia mengaku bahwa malaikat turun dari langit untuk membawakan wahyu dan memberitahukan hal-hal gaib kepadanya, lalu dia membuat berbagai rekayasa agar orang-orang percaya dengan pengakuannya.

Dalam waktu singkat, namanya menjadi besar, kehebatannya kian tersohor, pengikutnya makin banyak. Shan’a kini berada di bawah kendalinya, dari sini terus menyebar ke tempat lain sampai meliputi seluruh Yaman, antara Hadramaut, Tha’if, Bahrain, serta Aden.

Ketika telah merasa besar kekuatannya dan banyak pula negeri maupun kekuasaannya, dia beraksi memburu orang-orang yang menentangnya, orang-orang yang dikaruniai iman kepada Allah secara tulus dan beragama yang lurus.

Terhadap orang-orang tersebut, Aswad al-Ansi berlaku bengis, bahkan tak segan-segan melakukan penyiksaan secara sadis. Di antara para penentang tersebut terdapat seorang tokoh bernama Abdullah bin Tsuwab yang dikenal dengan julukan Abu Muslim al-Khaulani.

Berbekal Iman, Nabi Palsu Gagal Membakarnya

Abu Muslim al-Khaulani adalah seorang yang kukuh imannya, pantang kompromi dengan kebatilan, dan senantiasa menyerukan kebenaran. Dia mengikhlaskan hidupnya untuk Allah Swt. semata. Dia menjauhi kesenangan dunia dan perhiasannya, bernazar bahwa hidupnya akan digunakan untuk menaati Allah Swt. serta mendakwahkan agamanya.

Dijualnya murah-murah kenikmatan sementara di dunia, untuk ditukar dengan kenikmatan abadi. Tak heran bila orang-orang menyambutnya dengan baik, memandangnya sebagai orang yang suci jiwanya, dan doanya mustajab di sisi Rabb-nya.

Aswad al-Ansi sudah gatal untuk menangkap Abu Muslim lalu menghukumnya sekeras mungkin agar orang lain yang akan menentangnya gentar dan dapat ditundukkan. Maka, dia perintahkan prajuritnya mengumpulkan kayu bakar di lapangan Shan’a, lalu disulut dengan api. Orang-orang dipanggil untuk menyaksikan bagaimana seorang ahli fikih di Yaman dan ahli ibadahnya—Abu Muslim al-Khaulani—hendak “bertobat” kepada Aswad dan mengimani kenabiannya.

Sejurus kemudian, Abu Muslim al-Khaulani diseret ke tengah arena. Pendusta yang kejam itu memandang Abu Muslim dengan congkak, lalu berpaling ke arah api yang berkobar dan menjilat-jilat seraya bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?”

“Benar, Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan penutup para Nabi,” jawab Abu Muslim tegas.

Dahi Aswad al-Ansi menggerutu. Kedua alisnya bertaut pertanda marah sambil berkata, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah rasul Allah?” Abu Muslim menjawab, “Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu.” Aswad berkata, “Kalau begitu, aku akan mencampakkanmu ke dalam api itu.”

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Amirulmukminin yang Memiliki Istana di Surga

Dengan tenang, Abu Muslim berkata, “Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, di bawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah Swt. dan senantiasa mematuhi perintah yang diberikan kepada mereka.”

“Aku tidak tergesa-gesa, aku beri engkau kesempatan untuk menggunakan otakmu. Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?” tanya Aswad.

“Benar. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad,” ujar Abu Muslim.

Aswad al-Ansi meninggikan nada suaranya. Ia bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama dan Abu Muslim pun menjawab dengan jawaban yang sama.

Makin naik pitamlah Aswad al-Ansi mendengar ketegasan jawaban, ketenangan, serta ketegarannya. Dia hendak memerintahkan agar Abu Muslim al-Khaulani dicampakkan ke dalam api, tetapi tangan kanannya berusaha mencegahnya seraya berbisik di telinganya, “Anda tahu bahwa orang ini berjiwa suci, doanya mustajab, sementara Allah tak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman di saat-saat kritis. Bila Anda lemparkan dia ke dalam api, lalu ternyata Allah menyelamatkannya, semua yang kau bina dengan susah payah ini akan hancur dalam sekejap karena orang-orang akan mengingkari kenabianmu saat itu juga. Bila engkau membakarnya dan dia mati, orang-orang akan mengaguminya, bahkan menyanjungnya sebagai syuhada. Oleh karena itu, lebih baik Anda melepaskan dia, asingkan saja dia dari negeri ini. Hindarilah dia, engkau akan menjadi lebih tenang dan bisa santai.”

Nabi palsu itu pun menerima saran tersebut. Dia membebaskan Abu Muslim, lalu mengusirnya keluar dari Yaman.

Bertemu Khulafaurasyidin

Abu Muslim bertolak menuju Madinah dengan harapan berjumpa dengan Rasulullah saw. yang dirindunya. Saat ia datang, kesedihan menyelimutinya lantaran tidak pernah bisa berjumpa dengan Rasulullah karena beliau lebih dulu wafat. Kala itu, Abu Bakar dibaiat menjadi Khalifah pertama kaum muslimin.

Setibanya di Madinah, Abu Muslim memasuki Masjid Nabawi dan mengucapkan selawat dan salam atas Nabi saw.. Setelah ia salat, Umar bin Khaththab menghampirinya dan bertanya, “Dari manakah Anda berasal?” Abu Muslim menjawab, “Saya dari Yaman.”

Umar kemudian bertanya mengenai kabar saudara seakidah yang hendak dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah Swt.. Abu Muslim mengatakan kondisinya baik-baik saja. Umar mengetahui bahwa orang yang dia tanyakan ada di hadapannya sendiri.

Setelah itu Umar bin Khaththab mengajak Abu Muslim menghadap Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Kemudian beliau berbaiat kepada Khalifah muslimin itu.

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Umar bin Khaththab ra., Khalifah yang Sangat Paham Ajaran Islam

Setibanya di sana, Abu Bakar mempersilakan beliau duduk di antara dirinya dan Umar. Setelah kedua sahabat utama tersebut berbincang-bincang dan mendengarkan kisah Abu Muslim mengenai Aswad al-Ansi.

Cukup lama Abu Muslim al-Khaulani tinggal di Madinah. Dengan tekun dia datang ke Masjid Nabawi, salat di Raudhah suci dan belajar kepada para tokoh sahabat seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Dzar al-Ghifari, Ubaidah bin Shamit, Muadz bin Jabal, dan Auf bin Malik al-Asyja. Sesudah itu beliau menuju ke Syam dan menetap di sana. Beliau memilih tinggal di perbatasan agar bisa bergabung dengan kaum muslimin memerangi Romawi dan meraih pahala mujahid fi sabilillah.

Untaian Nasihat Abu Muslim untuk Penguasa

Tatkala kekhalifahan dipegang oleh Amirulmukminin Muawiyah bin Abi Sufyan, Abu Muslim sering menghadiri majelisnya. Banyak peristiwa masyhur yang menunjukkan keagungan kedua orang ini beserta derajat serta adab yang diterapkan oleh mereka.

Abu Muslim pernah mendatangi Muawiyah yang sedang duduk di tengah pertemuan. Beliau dikelilingi oleh para pejabat, panglima perang, dan tokoh-tokoh kaum. Beliau melihat betapa orang-orang menghormati dan menyanjung Muawiyah secara berlebihan. Beliau khawatir hal itu akan merusak keimanan Amirulmukminin, sehingga didahuluinya memberi salam, “Assalamu’alaika ya, Ajiral (pelayan) Mukminin.” Spontan orang-orang menegurnya, “Katakanlah Amirul (pemimpin) Mukminin.”

Beliau tak memedulikan tanggapan mereka dan bahkan mengulangi salamnya, “Assalamu’alaika ya, Ajiral Mukminin.” Orang-orang berkata, “Amirulmukminin, wahai Abu Muslim.” Beliau tetap pada pendiriannya berkata, “Assalamu’alaika ya, Ajiral Mukminin.”

Tatkala orang-orang mulai mengecamnya, beliau berkata, “Anda adalah orang yang diangkat Allah Swt. sebagai pejabat bagi umat, seumpama orang yang disewa untuk mengurus ternak-ternaknya. Dia akan diberi upah besar jika mengurus peternakan itu dengan baik dan rajin merawat, sehingga yang kecil menjadi besar, yang kurus menjadi gemuk, dan yang sakit menjadi sehat. Tetapi jika teledor, tidak mengurusnya dengan baik, sehingga ternak-ternak itu kurus kering lalu mati, susut hasil bulu dan susunya, maka dia tak akan diberi upah, bahkan akan menerima murka dan hukuman. Oleh karena itu Anda, wahai Muawiyah, boleh memilih mana yang baik bagi Anda dan balasan apa yang Anda kehendaki?”

Khalifah duduk mendengarkan kemudian mengangkat kepala seraya berkata, “Semoga Allah membalas engkau dengan yang lebih baik atas perhatianmu kepada kami dan rakyat kami dengan sebaik-baik balasan. Kami menyadari engkau memberikan nasihat karena Allah dan Rasul-Nya dan bagi kebaikan kaum muslimin.”

Kasus lain, ketika Abu Muslim al-Khaulani menghadiri salat Jumat di Damaskus. Amirulmukminin Muawiyah menyampaikan khotbah berisi imbauan agar masyarakat membersihkan dan mengeruk Sungai Barada agar airnya bersih.

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Amirulmukminin Umar bin Khaththab ra. Menjamin Terpenuhinya Kebutuhan Pokok Rakyat

Ketika khalifah tengah berkhotbah, dari tengah-tengah jemaah, Abu Muslim bersuara, “Wahai Muawiyah, sadarkah Anda bahwa hari ini atau esok Anda akan mati dan rumahmu adalah kuburanmu? Bila Anda membawa bekal, itulah yang diperintahkan bagi Anda. Bila Anda datang dengan tangan kosong, akan Anda dapati tempat Anda berupa kuburan yang datar saja. Saya mengharapkan, wahai Muawiyah, jangan sampai Anda menyangka bahwa kekuasaan adalah sekadar seperti perintah menggali sungai dan mengumpulkan harta. Khilafah menuntut adanya amalan yang benar dan tindakan adil yang menyeru manusia kepada hal-hal yang diridai Allah Swt..

Wahai Muawiyah, Anda tak perlu mengkhawatirkan keruhnya sungai bila sumbernya bersih. Sesungguhnya Anda adalah sumber kami, maka berusahalah agar diri Anda bersih. Wahai Muawiyah, bila Anda menzalimi seseorang, kezaliman itu bisa dihapus dengan keadilan Anda. Waspadalah terhadap kezaliman, sebab ia adalah kegelapan di akhirat.”

Ketika Abu Muslim menyelesaikan kata-katanya, Muawiyah turun dari mimbar, menghampirinya lalu berkata, “Semoga Allah Swt. merahmatimu, wahai Abu Muslim! dan semoga Allah membalas kebaikanmu karena telah menasihati kami.”

Contoh lainnya, ketika Muawiyah kembali tampil di mimbar untuk berkhotbah, beliau menunda pembagian harta untuk masyarakat dua bulan ke depan. Abu Muslim menegurnya, “Wahai Muawiyah, harta ini bukanlah harta Anda ataupun harta ayah ibu Anda. Mengapa Anda menahannya begitu lama dari orang-orang?”

Tanda kemarahan tampak tersirat pada wajah Muawiyah. Orang-orang menunggu apa yang hendak dilakukannya. Dia memberi isyarat agar orang-orang tetap di tempat masing-masing, sementara dia sendiri turun dari mimbar, berwudu, kemudian menyiram tubuhnya lalu naik lagi ke mimbar.

Kemudian beliau mengucapkan tahmid dan tasbih dan berkata, “Tadi Abu Muslim mengingatkan bahwa harta ini bukanlah hartaku atau harta ayah bundaku. Sungguh tak ada yang salah pada kata-kata itu. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Marah itu berasal dari setan dan setan berasal dari api, maka apabila salah satu dari kalian marah, hendaklah segera mandi.’ Wahai saudara-saudara, pergilah kalian mengambil hak kalian dengan berkah Allah Swt..”

Semoga Allah membalas kebaikan Abu Muslim al-Khaulani yang mampu menjadi teladan yang baik dalam menyampaikan kebenaran. Semoga Allah melimpahkan rahmat serta rida-Nya kepada Amirulmukminin Muawiyah bin Abi Sufyan karena dia memberi teladan kepada para penguasa tentang bagaimana menerima kebenaran dan tunduk kepada kalimat yang benar. [MNews/Chs]

Sumber: Mereka Adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *