[News] Pengungsi Afganistan di Negara Barat, Aktivis: Kondisinya Memburuk

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Merespons gelombang pengungsi Afganistan yang masuk ke negara-negara Barat setelah penarikan pasukan AS dari Afganistan, aktivis muslim, Younes Piskorczyk dalam salah satu media ideologis internasional, Selasa (14/9/2021), menyatakan kondisi yang memburuk tengah dihadapi para pengungsi.

Ia menjelaskan, enam negara anggota Uni Eropa, yaitu Jerman, Austria, Denmark, Belgia, Belanda, dan Yunani, dalam pernyataan bersama, telah memperingatkan Komisi Eropa untuk tidak menghalangi deportasi pengungsi Afganistan, karena jika tidak, mereka akan menjadi “magnet migrasi” dan memotivasi lebih banyak warga Afganistan untuk mencari perlindungan di negara-negara Uni Eropa.

“Swiss juga menolak menerima pengungsi Afganistan dalam jumlah lebih besar, hanya beberapa permohonan suaka yang akan diproses. Syaratnya orang tersebut memiliki hubungan dekat dan terkini dengan Swiss,” ujarnya.

Pangkalan militer Ramstein di Jerman telah menjadi kamp darurat bagi ribuan warga Afghanistan. (sumber: bbc.com, 31/8/2021)

Dipaparkannya, sekitar 1.200 warga Afganistan telah dideportasi dari Uni Eropa tahun ini, meskipun pemerintah Afganistan meminta Uni Eropa di awal tahun ini, untuk menghentikan repatriasi (pemulangan kembali ke tanah asalnya –red.). 

“Bahkan, para pemimpin Eropa berusaha bernegosiasi dengan Turki untuk mencegah warga Afganistan dan pengungsi lainnya datang ke Eropa. Uni Eropa juga berusaha untuk menegosiasikan kembali perjanjian Joint Way Forward dengan pemerintah Afganistan, yang diselesaikan pada tahun 2016 dan berakhir pada Oktober 2020,” urainya.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Ketika Islam Menjejak di Afganistan

Uni Eropa, lanjutnya, telah memfasilitasi pemulangan pengungsi Afganistan. “Ribuan pengungsi telah dikirim kembali ke perang, kematian, dan penyiksaan selama periode tersebut, meskipun berbagai organisasi memperingatkan situasi keamanan yang memburuk,” ungkapnya.

“Adapun di Inggris, anggota staf Afganistan untuk Taliban yang berkolaborator dengan Inggris, bahkan dianggap sebagai sekutu pemerintah Barat, ditinggalkan juga tanpa rasa peduli. Lalu, apakah kita kemudian harus percaya bahwa pemerintah Barat memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan penduduk Afganistan seperti yang mereka klaim ketika mereka menginvasi Afganistan pada tahun 2001?” tanyanya retorik.

Ia menegaskan, inilah sikap Eropa, terlepas dari pengambilalihan baru-baru ini oleh Taliban. “Padahal, Amerika dan negara-negara Eropa yang telah mengambil bagian dalam invasi kriminal Afganistan selama ini, dan mengklaim bahwa mereka menduduki negara itu untuk memastikan kesejahteraan penduduk Afganistan,” bebernya.

Menurutnya, Barat, bagaimanapun, tidak memiliki rasa malu atas narasi palsu yang sudah berlangsung lama. “Kemudian sekarang mendeportasi para pengungsi dengan kondisi kehidupan mengerikan yang disebabkan Barat sendiri,” kritiknya.

Apalagi, tegasnya, saat mundur dan ada pada akhir invasi, pemerintah Barat menunjukkan perlakuan xenofobia dan sinis terhadap para pengungsi. “Ini adalah krisis pengungsi, dan memang diharapkan terjadi, mengingat wacana rasis dan anti-Islam yang meresapi politik Eropa,” tandasnya. [MNews/Ruh]

Facebook Notice for EU!
Baca juga:  Tuntutan Partisipasi Politik Perempuan, Upaya Memoderatkan T4lib4n
You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *