[Fikrul Islam] Syakhshiyah Islamiyah

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM — Islam telah memperbaiki diri manusia secara sempurna guna mewujudkan adanya suatu syakhshiyah tertentu yang khas dan berbeda dengan yang lain. Islam telah memperbaiki pemikiran dengan akidah Islam, yaitu menjadikan akidah sebagai landasan berpikir (qa’idah fikriyah) yang menjadi dasar pemikiran manusia yang dapat membina dan membentuk mafahim-nya; agar ia mampu membedakan antara pemikiran yang benar dan yang salah tatkala melakukan standardisasi suatu pemikiran dengan akidah Islam. Ia menjadikan akidah Islam sebagai dasar untuk membina dan membentuk mafahim-nya, karena Islam merupakan qa’idah fikriyah.

Dengan demikian di samping akan terbentuk aqliyah yang dibangun berdasarkan akidah, sehingga ia memiliki aqliyah yang khas, yang berbeda dengan yang lain, juga memiliki suatu tolok ukur yang benar untuk setiap pemikiran/ide. Dengan demikian ia akan selamat dari ketergelinciran dan kesalahan serta kerusakan berpikir. Ia akan tetap benar dalam berpikir, dan tepat dalam memahami segala sesuatu.

Pada saat yang sama, Islam telah mengatur perbuatan manusia yang muncul dari kebutuhan jasmani dan gharizah-nya dengan hukum-hukum syarak yang terpancar dari akidah Islam. Peraturan-peraturan tersebut adalah peraturan yang benar, yang mengatur gharizah, bukan menindasnya; yang dapat mengarahkan dan bukan membiarkannya liar tanpa kendali. Islam menawarkan pemenuhan seluruh kebutuhannya secara serasi dan harmonis, sehingga ia merasakan kebebasan dan ketenangan.

Di samping itu Islam menjamin pemenuhan seluruh kebutuhan manusia secara harmonis, sehingga mendatangkan ketenangan dan ketenteraman. Islam telah menjadikan akidah Islam sebagai akidah yang dapat dipikirkan (dijangkau oleh akal), sehingga tepat untuk dijadikan sebagai landasan berpikir yang digunakan sebagai tolok ukur terhadap seluruh pemikiran yang ada, dan dijadikan pula sebagai suatu pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan.

Sebab, manusia hidup di bumi yang merupakan bagian dari alam semesta, maka pemikiran yang menyeluruh tersebut harus dapat memecahkan seluruh simpul-simpul problem yang ada di dalam dan di luar diri manusia. Oleh karena itu pemikiran menyeluruh yang disodorkan Islam ini sangat layak dijadikan sebagai mafhum umum, yaitu sebagai tolok ukur yang dapat digunakan secara langsung pada saat terjadinya perpaduan antara dorongan jasmani dan naluri dengan mafahim manusia terhadap masalah yang dihadapi, sekaligus menjadi dasar terbinanya kecenderungan-kecenderungan manusia.

Dengan demikian Islam telah menanamkan dalam diri manusia suatu qa’idah fikriyah yang pasti, yang berfungsi sebagai tolok ukur yang paten bagi mafahim maupun kecenderungan-kecenderungannya pada waktu yang bersamaan. Dengan kata lain, ia berfungsi sebagai standar bagi aqliyah dan nafsiyah-nya, sehingga dapat menghasilkan suatu kepribadian khas, yang berbeda dengan kepribadian yang lain.

Dari sini kita dapati, bahwasanya Islam membentuk syakhshiyah Islamiyah seseorang dengan akidah Islam. Dengan akidah itulah dibentuk aqliyah dan nafsiyah-nya. Jelaslah bahwa aqliyah Islamiyah adalah berpikir atas dasar Islam. Artinya, menjadikan Islam sebagai satu-satunya standar umum tentang berbagai pemikiran mengenai kehidupan. Aqliyah Islamiyah tidaklah hanya dimiliki oleh orang-orang cerdik pandai atau kaum intelektual/pemikir saja, tetapi cukup bila seseorang menjadikan Islam sebagai asas bagi seluruh pemikirannya secara praktis dan faktual, agar ia memiliki suatu aqliyah Islamiyah dalam dirinya.

Adapun nafsiyah Islamiyah adalah menjadikan seluruh kecenderungannya atas dasar Islam. Artinya, ia jadikan Islam sebagai satu-satunya standar umum dalam aktifitas pemenuhan kebutuhan (jasmani dan naluri). Nafsiyah ini tidak hanya dimiliki oleh kaum sufi (yang menghabiskan waktunya untuk beribadah), atau orang-orang yang fanatik terhadap agamanya, tetapi cukuplah bila seseorang menjadikan Islam sebagai standar bagi seluruh aktivitas pemenuhan kebutuhan (jasmani dan naluri)-nya secara praktis dan layak, agar ia memiliki suatu nafsiyah Islamiyah dalam dirinya.

Dengan aqliyah dan nafsiyah Islamiyah tersebut, terbentuklah syakhshiyah Islamiyah seseorang tanpa memerhatikan lagi apakah ia seorang alim ataukah jahil; apakah ia melaksanakan fardu, sunah, meninggalkan yang haram dan makruh; atau apakah ia melakukan lebih dari itu. Dengan kata lain mengerjakan berbagai perbuatan yang mendatangkan ketaatan dan disukai Allah serta menjauhi hal-hal yang syubhat. Perbuatan-perbuatan tersebut dapat mewujudkan/membentuk syakhshiyah Islamiyah. Sebab setiap orang yang berpikir di atas landasan Islam dan menjadikan hawa nafsunya tunduk terhadap Islam, berarti telah terbentuk dalam dirinya suatu syakhshiyah Islamiyah.

Memang benar bahwasanya Islam memerintahkan memperbanyak penguasaan tsaqafah Islamiyah untuk mengembangkan aqliyah tersebut, sehingga memiliki kemampuan untuk menilai (membanding-bandingkan) setiap pemikiran. Islam pun memerintahkan untuk melakukan amal-amal perbuatan yang wajib, mandub (sunah) serta amal-amal perbuatan yang disukai Allah, meninggalkan sebanyak mungkin perbuatan-perbuatan yang haram, makruh, atau syubhat, untuk memperkuat nafsiyah tersebut sehingga memiliki kemampuan untuk menolak setiap kecenderungan yang berlawanan dengan Islam.

Semua itu berfungsi untuk meningkatkan derajat syakhsiyah dan menjadikan dirinya berjalan di jalan yang luhur dan mulia, tetapi bukan berarti orang yang tidak mengerjakan semua itu tidak memiliki syakhsiyah Islamiyah. Dia tetap memiliki syakhsiyah Islamiyah, sebagaimana halnya orang-orang awam yang tingkah lakunya dianggap Islami, begitu pula para pelajar yang terbatas hanya mengerjakan perbuatan-perbuatan yang wajib dan meninggalkan yang haramnya saja. Mereka masih memiliki Syakhsiyah Islamiyah, walaupun kadar kekuatan Syakhsiyah Islamiyah-nya berbeda-beda, namun demikian seluruhnya termasuk memiliki Syakhsiyah Islam.

Yang penting dalam menentukan bahwa seseorang memiliki Syakhsiyah Islamiyah adalah tindakan yang menjadikan Islam sebagai asas bagi pemikiran dan kecenderungannya. Dari sini dapat diketahui adanya perbedaan tingkatan Syakhsiyah Islamiyah, Aqliyah Islamiyah (pola pikir islam) dan Nafsiyah Islamiyah (kecenderungan jiwa Islam).

Oleh karena itu, suatu kesalahan besar bagi mereka yang menggambarkan bahwa syakhshiyah Islamiyah itu ibarat “malaikat”. Besar sekali bahayanya (pendapat) orang-orang semacam itu dalam masyarakat. Sebab, mereka akan mencari “malaikat” di tengah-tengah masyarakat manusia dan pasti mereka tidak akan menemukannya, sekalipun pada dirinya sendiri.

Akibatnya mereka pun dihinggapi rasa putus asa, kemudian menjauhkan diri dari kaum muslimin. Para pengkhayal ini telah menyangka bahwa Islam itu hanya khayalan belaka; dan mustahil diterapkan (dalam kehidupan). Islam itu ibarat sesuatu yang amat indah, yang tidak mungkin bagi manusia mampu menerapkannya atau dapat meraihnya, yang pada akhirnya mereka menjauhkan dan menghalangi manusia dari Islam, dan melumpuhkan serta mematikan (semangat) banyak orang untuk beramal (berjuang).

Padahal Islam datang ke dunia untuk diterapkan secara nyata. Islam adalah sesuatu yang riil bukan suatu hal yang sulit untuk menerapkannya. Setiap manusia, betapapun lemah pemikirannya, dan bagaimanapun kuatnya naluri serta kebutuhan jasmaninya, memiliki kemungkinan untuk menerapkan Islam pada dirinya dengan mudah, setelah sebelumnya memahami akidah Islam dan mempunyai sosok kepribadian yang Islami.

Sebab dengan hanya menjadikan akidah Islam sebagai suatu tolok ukur bagi pola pikir dan kecenderungan (jiwa)-nya, kemudian berjalan sesuai dengan tolok ukur tersebut maka pastilah ia memiliki syakhshiyah Islam. Kemudian ia perkuat syakhshiyah-nya dengan menambah tsaqafah Islam untuk mengembangkan pola pikirnya dan dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan (amal ibadah) yang mendorongnya untuk taat (kepada Allah) dalam rangka memperkuat nafsiyah (jiwa)nya, sehingga ia berjalan mencapai derajat yang luhur dan tetap (mempertahankan) derajatnya yang tinggi itu di dunia, serta dapat meraih keridaan Allah Swt. di dunia dan akhirat. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *